
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Keesokan paginya, Dewa sudah harus berangkat menuju tempat latihan karena esok harinya ia akan bertanding lagi melawan tim yang dibela Marsel. Tentu Dewa bertekad untuk membawa timnya meraih tiga poin kembali dalam laga krusial besok, terlebih Minggu kemarin ia gagal mengantongi tiga poin setelah hanya bermain imbang satu sama.
Dewa pun pamit pada sang ayah untuk berangkat latihan, ia memang selalu menghormati ayahnya biarpun beliau sudah sepuh alias tua.
Dewa datang ke tempat latihannya dengan menggunakan ojek online yang ia pesan, ya karena ia masih belum memiliki kendaraan pribadi walaupun uangnya juga sudah terkumpul lumayan dan bisa membeli banyak sepeda motor atau bahkan mobil mahal sekalian.
"Nih mas, uangnya." ucap Dewa menyerahkan selembar uang lima puluh ribu kepada kang ojek.
Setelahnya, Dewa pun memasuki tempat latihan itu dengan sangat bersemangat. Tak lupa ia memanjatkan doa agar hari ini latihannya berjalan lancar dan ia bisa dijadikan starter dalam laga besok melawan tim Surabaya, tentu siapapun pemain bola pastinya ingin menjadi pemain inti dan selalu bermain dalam setiap laganya.
Saat berada di locker room, Dewa yang tempatnya bersebelahan dengan Arhan menyempatkan diri untuk mengobrol sembari mengikat tali sepatunya.
"Han, lu jadinya gimana? Mau tetep berkarir di Indo, apa terbang ke negeri wibu?" tanya Dewa dengan sedikit senyum terlintas di bibirnya.
"Hahaha, ada-ada aja lu! Entahlah, gue masih pikir-pikir lagi deh. Gue takut kalau buru-buru, nanti malah nyesel atau gimana gitu pas udahannya." jawab Arhan sambil terkekeh kecil.
"Ohh, yaudah kalo gitu mah. Tapi, saran gue lu pikirin yang mateng! Soalnya kesempatan gak dateng dua kali men!" ucap Dewa.
"Iya iya..."
Setelahnya, mereka pun pergi bersama menuju lapangan latihan. Sudah ada banyak para pemain PSIS yang hadir disana, mereka semua tampak antusias latihan di hari yang cerah ini dan ingin membuktikan pada tim pelatih kalau mereka bisa dan pantas menjadi starting.
Dewa dan Arhan juga sudah memulai pemanasan sebelum mereka akan bergabung dengan yang lainnya dalam latihan, tampak Dewa agak sedikit cemas karena performa salah satu rekannya disana yang sedang meningkat dan bisa menjadi ancaman buatnya.
"Wa, lu kenapa diem aja?" tanya Arhan penasaran saat melihat Dewa melamun.
__ADS_1
"Eh gapapa. Gue cuma lagi mikir aja, kira-kira besok pelatih Dragan bakal jadiin gue starting atau mas Hari, ya?" ucap Dewa mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya saat ini pada Arhan.
"Ohh, pasti lu takut kalah saing ya sama mas Har? Hahaha, Dewa Dewa... katanya mau jadi pemain terbaik yang bisa abroad, masa masih takut kalah saing sih? Ayolah men, kalo lu mau jadi starting terus ya lu harus berusaha dan lebih giat lagi latihannya! Nah, sekarang nih kesempatan buat lu supaya bisa bikin coach Dragan terkesima dan lebih pilih lu dibanding mas Har buat tampil besok!" ucap Arhan.
Mendengar kata-kata dari Arhan, membuat Dewa termotivasi dan terbakar jiwanya. Dewa pun berniat untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Arhan barusan, ia akan menjalani latihan lebih keras dan giat supaya pelatihnya bisa terkesan.
Arhan yang melihat itu ikut merasa senang, walau ia juga agak bersedih lantaran harus memilih untuk perkembangan karirnya atau tetap disana bersama club yang sudah membesarkannya dan juga teman-teman yang ia cintai itu.
"Hadeh, apa ya yang harus saya pilih? Kepentingan karir atau kecintaan saya kepada keluarga dan kota ini sendiri?" gumam Arhan dalam hati.
...•••...
Disisi lain, Vivi tengah berada di kampusnya mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Gadis itu tampak duduk sendirian dan berkutat dengan laptopnya sembari sesekali menyeruput minuman yang ada di sampingnya, memang ia juga merindukan sosok Dewa yang biasanya hadir saat ia sedang sendirian mengerjakan tugas.
Namun, semua itu tidak dapat terjadi saat ini lantaran Dewa masih harus fokus dengan sepakbola untuk meningkatkan karirnya. Belum lagi, besok Dewa juga akan bertanding melawan tim yang dibela oleh Marsel alias temannya juga.
Tak lama kemudian, Jessi alias sahabat Vivi itu muncul dan duduk di samping Vivi begitu saja sembari menepuk pundak gadis tersebut. Memang Jessi selalu saja menemui Vivi setelah ia menyelesaikan kelasnya, ya itu juga yang diinginkan Vivi memangnya agar ia tidak kesepian mengerjakan tugas sendirian disana tanpa ada yang menemani.
"Vivi!" ucap Jessi menepuk pundak Vivi dari samping, lalu duduk di samping gadis itu.
"Ya ampun! Lu kerjaannya ngagetin gue mulu sih, Jes? Untung aja nih laptop gak kebanting, kalo itu terjadi gue bakal marah banget sama lu dan minta ganti rugi biaya plus kerjain tugas-tugas gue yang kehapus!" ucap Vivi.
"Yeh itu mah maunya elu! Kan buktinya aman-aman aja tuh laptop sama tugas lu, jadi gue gak perlu dong ngelakuin itu semua?" ujar Jessi tersenyum.
"Ah sue lu!" ujar Vivi kesal lalu kembali memandang laptopnya dan meneruskan tugasnya.
Sementara Jessi hanya nyengir memperlihatkan gigi-giginya sembari membuka cemilan yang ia bawa dari kantin, Jessi memang anak yang santai sehingga ia tak terlalu ambisius mengerjakan tugas seperti Vivi. Ia lebih banyak santai dan menunggu sampai deadline tugasnya tiba, barulah ia mengerjakan semuanya secara bersamaan.
__ADS_1
"Heh! Emang lu gak ada tugas kuliah apa?" tanya Vivi penasaran melihat Jessi yang hanya duduk santai sambil makan jajanan.
"Ada lah. Banyak malah!" jawab Jessi santai.
"Ya terus kenapa lu gak ngerjain?" tanya Vivi.
"Yaelah, lu kayak baru kenal sama gue sehari dua hari aja deh. Kan lu tau sendiri, gue tuh males ngerjain tugas buru-buru! Lagian deadline-nya masih lama kok, jadi mending santai aja dulu!" jawab Jessi.
"Haish, masih aja gak berubah! Gue pikir lu samperin gue kesini, mau ngerjain tugas. Eh ternyata malah cuma duduk-duduk sambil makan, aneh lu!" ucap Vivi geleng-geleng kepala.
"Hehe, iya dong." ujar Jessi nyengir.
"Bangga lagi, emang luar biasa lu!" ucap Vivi.
Tiba-tiba saja, satu lagi gadis dalam circle mereka muncul dan kali ini giliran Jessi yang dikejutkan olehnya seperti tadi ia mengejutkan Vivi.
"Heh, Jes!" ujar Shannon yang muncul dari samping mengejutkan Jessi dengan cara menyapanya sembari menepuk pundak gadis itu.
"Eh ayam kelindes truk mati dicabein!" latah Jessi yang terkejut, sontak jajanan di tangannya juga pada tumpah ke bawah akibat kejutan dari Shannon kepadanya.
"Yahh Nonon mah kebiasaan! Tuh kan, ciki gue jadi jatuh semua tau!" ujar Jessi.
"Hehehe, maaf!" Shannon hanya bisa nyengir dan menggaruk kepalanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1