
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Dok, pacar saya gimana kondisinya? Dia baik-baik aja kan dok?" tanya Dewa cemas.
"Tenang aja mas, pacarnya baik-baik aja kok! Gak ada masalah yang perlu dikhawatirkan, tapi lebih baik jangan keseringan ya jatuh ke lantai sampai pinggangnya terbentur lagi!" ucap dokter.
"Iya dok, nah tuh dengerin Vi!" ucap Dewa.
"Ish, kan aku jatuh juga gara-gara kamu mas Dewa! Kalau kamu gak kabur gitu aja, aku pasti gak akan jatuh dan gak kesakitan!" ujar Vivi cemberut.
"Hahaha, iya iya maaf!" ujar Dewa tertawa sembari mencubit hidung kekasihnya.
Ya Vivi dan Dewa saat ini memang sudah berada di rumah sakit, syukurnya Vivi dalam keadaan baik-baik saja dan tidak kenapa-kenapa. Sehingga Dewa merasa lebih tenang saat ini, karena tadinya ia sempat mencemaskan kondisi kekasihnya itu.
Setelah selesai diperiksa, kini Dewa memapah tubuh Vivi berjalan ke luar dari rumah sakit. Ya dokter juga telah membolehkan Vivi untuk pulang karena memang tak ada yang perlu dikhawatirkan dari Vivi untuk saat ini, keduanya pun tampak dekat dan lebih ceria dari sebelumnya.
"Sayang, aku minta maaf ya! Karena sikap aku yang kekanak-kanakan tadi, kamu jadi jatuh terus pinggang kamu sakit begitu!" ucap Dewa pelan.
"Ah kamu bikin aku kagum deh, udah jangan kayak gitu Dewa! Kamu gak perlu minta maaf, aku harusnya yang minta maaf sama kamu! Karena aku tadi lebih dekat sama Marsel, dan malah cuekin kamu!" ucap Vivi tersenyum menatap wajah kekasihnya.
Cupp!
Dewa tiba-tiba saja mengecup pipi gadisnya yang membuat Vivi terbelalak tak mengira, pipinya langsung memerah seketika akibat kecupan mendadak dari Dewa itu.
"Oke, kita sama-sama saling memaafkan aja ya!" ucap Dewa tersenyum.
"Iya deh, tapi kamu beneran udah enggak marah lagi kan sama aku, mas?" tanya Vivi agak hati-hati khawatir Dewa masih emosi.
"Ya enggak dong, buat apa juga?" jawab Dewa.
Dewa mengeratkan genggaman tangannya, lalu mengacak-acak rambut Vivi sehingga gadis itu tampak cemberut dibuatnya. Dewa justru tertawa dan mencubit pipi gadisnya karena gemas.
"Ish, nyebelin deh! Susah tau rapihin rambutnya, emang kamu mau apa?!" ujar Vivi kesal.
"Boleh, sini sini aku bantuin rapihin. Kalau soal merapihkan rambut itu aku jagonya, kamu gak perlu khawatir lagi sayang!" ucap Dewa.
__ADS_1
Dewa pun bergerak merapihkan rambut gadis tersayangnya itu. Namun, bukannya rapih justru rambut Vivi malah semakin berantakan.
"Ih, mas jadi makin rusak tau! Udah ah gausah dibantuin, biar aku sendiri aja!" bentak Vivi.
"Lah kamu gimana sih? Tadi katanya suruh rapihin, giliran aku mau bantu malah dilarang. Yaudah, aku diem aja deh lihatin muka kamu yang makin lama makin tambah cantik aja itu!" ucap Dewa.
"Dasar tukang gombal!" cibir Vivi.
Vivi mencubit pinggang Dewa dan membuat pria itu meringis kesakitan, kali ini gantian Vivi yang tersenyum melihat reaksi kekasihnya itu.
"Awhh, sakit sayang!" rintih Dewa.
"Makanya jangan iseng jadi orang! Kan kamu jadi kena balasannya tuh," ucap Vivi tersenyum.
"Ohh, kamu balas dendam?" ujar Dewa.
"Enggak kok, aku cuma mau kerjain kamu aja. Yaudah ah gausah dibahas lagi, sekarang mending kamu mikirin deh kita mau pulang naik apa? Motor kamu kan masih ketinggalan di cafe tadi, terus gimana dong kita pulangnya?" ucap Vivi.
"Ya aku sih tinggal pesen ojek online, kalo kamu mana aku tau? Oh ya, kamu minta aja sama si Marsel buat jemput kamu disini! Aku yakin dia pasti mau kok, sana gih!" ujar Dewa.
"Heh! Kok malah gitu sih? Aku ngarepnya reaksi kamu gak gitu loh sayang, haish emang bener ya kamu suka sama dia?" ujar Dewa kesal.
"Ahaha, bercanda mas! Kamu jangan serius-serius gitu dong sayang, santai dikit!" ucap Vivi.
"Yeh malah bercanda! Yaudah, kita balik pake taksi online aja! Aku anterin kamu dulu ke rumah, baru nanti aku balik ke tempat tadi ambil motorku!" ucap Dewa sambil mengusap puncak kepala gadisnya.
"Hah? Ya jangan lah mas! Udah gini aja, kita ke cafe tadi barengan, terus kamu anterin aku pulang pake motor kamu!" usul Vivi.
"Oh aku tau, kamu pasti masih pengen peluk-peluk aku kan? Dasar tukang modus, tapi gapapa sih aku juga suka dipeluk sama gadis cantik kayak kamu!" ucap Dewa mencolek dagu Vivi.
"Apaan sih? Siapa yang mau modus? Kamu aja tuh yang kegeeran mas, orang aku cuma pengen supaya gak bolak-balik aja gitu!" ucap Vivi berbohong.
"Iyain aja deh," ujar Dewa nyengir.
"Ish, udah ah cepet pesen taksinya! Ini lama-lama keburu malam tau mas, nanti aku dicariin mama kalo gak pulang-pulang!" ucap Vivi panik.
__ADS_1
"Tenang aja, kan ada aku! Biar aku jelasin nanti ke mama kamu kenapa kamu bisa telat pulang, udah yuk kita tunggu taksinya sambil duduk di kursi!" ucap Dewa tersenyum.
Vivi mengangguk pelan, lalu Dewa merengkuh pinggang Vivi sembari mengusap rambutnya lembut dan mereka pun berjalan menuju kursi.
•
•
Sesampainya di dekat kursi, Dewa langsung meminta gadisnya untuk duduk disana berdampingan dengannya. Ia juga terus menggenggam tangan Vivi sembari mengecup kening gadis itu lembut.
"Mas, kamu manis banget sih!" ucap Vivi.
"Iya dong, semua orang juga bilang gitu! Aku manis terus ganteng lagi!" ucap Dewa kepedean.
"Ish, bukan itu maksudnya!" ujar Vivi.
"Terus apa dong?" tanya Dewa heran.
"Maksud aku tuh, perlakuan kamu ke aku manis banget mas Dewa! Biasanya kamu gak begini, kenapa sekarang tiba-tiba jadi kayak gini? Oh atau kamu baru sadar ya, kalau pacar kamu ini cantik banget?" ucap Vivi tersenyum.
"Yeh malah kepedean! Gak lah sayang, bukan karena itu! Kalau soal kecantikan kamu, aku udah sadar dari jaman Majapahit dulu! Tapi, aku sekarang begini supaya kamu gak berpaling ke lain hati aja! Kan aku gak pengen kamu deket sama Marsel atau siapa lah itu cowok lain!" ujar Dewa.
"Oh gitu, tenang aja mas! Aku mah setia sama kamu, justru kamu tuh yang suka goda-godain cewek lain di kampus!" ucap Vivi memajukan bibirnya.
"Mana ada gitu? Aku juga setia sama kamu sayang, aku kan sayang sama kamu!" ucap Dewa.
Dewa yang gemas pada ekspresi Vivi, langsung merangkul dan mendekap gadis itu dengan erat sembari mencubit pipi Vivi dan menahan dua tangan Vivi agar tidak berontak.
"Ish mas, sakit!" ujar Vivi sambil berusaha lepas dari dekapan Dewa tetapi gagal.
Dewa hanya tersenyum puas kemudian menempelkan bibirnya pada pipi gadis itu cukup lama sehingga Vivi terbelalak lebar.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1