
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Vivi...."
Disaat Vivi tengah senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya, tiba-tiba saja muncul suara yang memanggil namanya dari belakang dan terdengar seperti suara seorang laki-laki.
Vivi pun menoleh karena penasaran, ia juga menyingkirkan sejenak ponselnya.
"Loh Witan? Kamu ada disini juga?" tanya Vivi.
Ya pria yang memanggil namanya adalah Witan alias si cowok yang dijodohkan oleh Yolita kepada putrinya tersebut.
"Iya, aku abis nonton tadi." jawab Witan. "Aku boleh duduk disini juga kan?" sambungnya meminta izin kepada Vivi untuk duduk juga disana.
"Eee ya boleh dong, ini kan tempat duduk umum." jawab Vivi sembari menggeser posisi duduknya.
"Makasih," Witan pun duduk disana dengan kedua kaki masih menginjak jalan dan dua tangan ia taruh di belakang tubuhnya lalu menatap langit gelap yang dipenuhi bintang-bintang itu.
"Ternyata duduk disini enak, ya? Beban pikiran kita jadi langsung hilang," ucap Witan.
"Iya..." Vivi hanya mengiyakan kata-kata Witan.
Witan lalu beralih duduk tegak dan menoleh ke arah Vivi dengan wajah khasnya yang sering membuat para wanita yang melihatnya tergugah.
"Vi, kalau kamu ditolak cintanya oleh seseorang yang kamu sayangi, itu perasaan kamu bakal gimana?" diluar dugaan Witan justru bertanya seperti itu kepada Vivi sembari mengukir senyum di wajah.
"Eee ya pasti aku bakal sedih, karena gak mudah buat kita melupakan orang yang kita sayangi itu begitu aja." jawab Vivi sambil tersenyum.
Witan kembali memalingkan wajahnya dan garuk-garuk kepala.
"Emang ada apa sih? Kamu abis ditolak sama cewek yang kamu sukai?" tanya Vivi dengan wajah penasaran, ia ingin tahu mengapa Witan bertanya seperti itu kepadanya.
"Belum sih, tapi aku mikir kalau dia tuh mau nolak aku. Soalnya sampai sekarang aku belum juga dapet jawaban dari dia, padahal aku tunggu-tunggu banget loh jawaban itu." jawab Witan.
__ADS_1
"Ohh, sabar aja! Siapa tau dia lagi milih waktu dan kata-kata buat jawab pertanyaan kamu? Ada baiknya kalau kamu berpikir positif dulu, karena setiap perkataan itu kan doa dan bisa aja kata-kata kamu itu dikabulkan terus nantinya dia malah tolak kamu beneran lagi." ucap Vivi.
"Iya juga ya? Oke deh, aku gak akan mikir yang kayak begitu lagi. Makasih ya, kamu udah mau dengerin curhatan dari aku!" ucap Witan.
"Sama-sama. Aku gak nyangka deh, ternyata pemain bola yang ganteng dan jadi incaran para cewek juga bisa nunggu jawaban dari orang yang disukai ya? Aku pikir kalau kamu suka sama cewek terus tembak dia, bakal langsung diterima gitu karena kamu ganteng dan banyak diincar sama cewek-cewek." ucap Vivi terheran-heran.
"Hahaha, itu mah namanya pemikiran kaum yang mandang fisik. Gak semua wanita kan seperti itu, nah kebetulan aku suka sama cewek yang begitu itu. Makanya sampai sekarang, dia masih belum kasih kepastian sama aku." ucap Witan.
"Yaudah, yang sabar aja ya!" ujar Vivi.
"Iya, aku mah orangnya selalu sabar. Oh ya, kamu masih mau disini atau pulang? Ini kan udah malam loh, gak baik cewek kayak kamu masih keluyuran di laut kayak gini!" ucap Witan.
"Aku mau pulang kok. Tadi aku cuma mau istirahat sebentar aja disini," ucap Vivi.
"Ohh, yaudah bareng aja yuk! Kebetulan aku bawa mobil, biar sekalian aku anterin kamu pulang ke rumah! Soalnya ini udah malam, bahaya kalau cewek pulang sendirian!" ujar Witan menawarkan tumpangan kepada Vivi.
"Eee gausah Witan, makasih! Aku kesini bareng sama Jessi dan Shannon tadi, jadi aku gak sendirian kok pulangnya." ucap Vivi menolak.
"Iya, mereka temanku. Yaudah ya, aku mau langsung ke parkiran ketemu mereka. Kamu juga mau pulang kan?" ucap Vivi.
"Yaudah, kita bareng kesana nya!" ujar Witan.
Vivi mengangguk pelan kemudian bangkit dari duduknya sambil tersenyum, ia menelan saliva dan tampak gugup sendiri saat berdiri di samping Witan yang selalu senyum ke arahnya itu.
"Eee ayo jalan!" ucap Witan.
"Iya..."
Entah mengapa Vivi merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika jalan bersama Witan, ia seperti canggung dan ragu untuk jalan berduaan dengan Witan disana. Padahal biasanya ia tak pernah merasa begitu ketika berduaan dengan teman cowoknya, bahkan dengan Dewa pun ia tak pernah seperti ini dan merasa santai-santai saja.
Disaat mereka hendak melangkah ke depan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Jessi justru muncul disana dan menghalangi langkah kedua orang itu sehingga mereka terpaksa berhenti sejenak.
"Vi, akhirnya gue ketemu juga sama lu! Aduh, daritadi gue cariin ternyata malah disini!" ujar Jessi.
__ADS_1
"Eee iya nih, gue...." ucap Vivi tertahan lantaran Jessi langsung kembali nyerocos.
"Hah? Ini Witan pemain timnas itu kan? Yang baby face unyu-unyu gitu ya kan?" ujar Jessi syok begitu melihat sosok Witan di samping Vivi.
"Iya benar, kamu kenal saya?" tanya Witan.
"Ya ampun, siapa juga sih yang gak kenal sama kamu Witan? Aku gak nyangka banget loh bisa ketemu sama kamu disini, kamu kenal juga sama Vivi itu?" ujar Jessi mendekati Witan.
"Belum terlalu kenal sih, aku dan Vivi baru bertemu beberapa waktu yang lalu." ucap Witan.
"Ohh, beruntung banget sih lu Vi! Bisa deket sama cowok-cowok ganteng anak bola, kemarin Marsel terus sekarang Witan juga." ujar Jessi.
"Hadeh, udah pulang yuk!" ucap Vivi kesal.
"Ngapain pulang? Gue mau disini aja sama Witan, lu kalo mau pulang ya pulang aja gih sana! Si Shannon juga udah nunggu tuh di parkiran, gue mah masih mau berduaan sama Witan." ucap Jessi.
Vivi geleng-geleng kepala saja lalu berjalan pergi meninggalkan sahabatnya itu bersama Witan.
"Eh Vivi, ini temen kamu gimana? Kok malah ditinggal gitu aja sih?" tanya Witan berteriak memanggil Vivi yang sudah berjalan pergi.
"Udah tenang aja Witan! Aku kan disini sama kamu, kita jalan-jalan yuk!"
Witan hanya bisa mengacak-acak rambutnya dan menghembuskan nafas secara kasar karena ia harus terjebak bersama seorang wanita yang baru ditemuinya, bahkan Witan juga belum tahu siapa nama wanita tersebut tapi ia sudah harus menanggung beban untuk jalan berdua dengannya.
Terlihat juga Jessi berusaha terus mendekati Witan dan menggandeng tangan pria tersebut sembari menaruh wajahnya pada bahu Witan, dengan sangat berani ia mengusap-usap dada pria yang baru ditemuinya itu bermaksud menggodanya agar tidak terlalu canggung seperti sekarang ini.
"Jangan diem aja dong!" ucap Jessi.
"Eee..."
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1