
...❤️❤️❤️❤️❤️...
2 Minggu kemudian....
Dewa bersama rombongan pemain PSIS yang lain telah kembali ke tanah air dan langsung menaiki bus tim mereka yang sudah bersiap di luar bandara untuk menjemput mereka semua.
Dewa duduk di samping Arhan yang memang sahabatnya dan mereka lumayan akrab selama ini.
Arhan duduk di dekat jendela dan terus melamun menatap ke luar sembari memegang dagunya, nampaknya ia tengah memikirkan sesuatu.
Dewa yang penasaran pun coba bertanya kepada kawannya itu, ia berdehem menegur Arhan sembari menepuk pundak pria tersebut dari samping karena risau dengan sikap Arhan yang melamun seperti itu sedari tadi tanpa berbicara.
"Heh, lu kenapa sih bro?" tanya Dewa bingung.
Arhan terkejut kemudian reflek menoleh ke arah Dewa dengan wajah terheran-heran karena ia dikagetkan oleh sahabatnya tersebut.
"Gapapa," jawab Arhan singkat lalu kembali menoleh ke arah jendela untuk lanjut melamun.
"Lu masih mikirin pertandingan kemarin? Yaelah bro bro, santai aja kali! Liga masih ada beberapa pertandingan lagi yang bisa kita menangin, udah lah mungkin kemarin kita emang gak bisa menang tapi kan kita udah berjuang!" ucap Dewa.
"Bukan itu yang gue pikirin, Wa!" ucap Arhan.
"Ohh, lah terus apaan dong?" tanya Dewa kepo.
"Agen gue kasih kabar, kalau katanya ada tim Jepang yang mau ngontrak gue. Ya cuma tim kasta kedua sih, tapi kan jelas lebih baik daripada tim-tim di negara kita sekarang." jawab Arhan.
"Hah? Serius lu??" Dewa terkejut.
"Ya iyalah, makanya gue daritadi mikirin itu. Gue belum yakin apa gue mau terima itu, atau gue tolak dan tetap bertahan disini!" ucap Arhan.
"Kalo saran gue sih, mending lu terima aja tawaran itu bro! Kapan lagi ya kan bisa main di Jepang yang jadi impian banyak pemain bola? Kalo gue jadi lu juga, pasti gue bakal terima!" saran Dewa.
"Iya sih, cuma gue belum siap jauh dari keluarga!" ucap Arhan sembari menunduk.
"Yaudah, lu pikir-pikir aja dulu! Sekalian lu minta saran juga sama keluarga lu, gue yakin mereka bakal kasih saran terbaik buat putranya karena mereka gak mungkin mau ngeliat lu terpuruk atau gagal bersinar!" ucap Dewa menepuk pundak Arhan.
Arhan manggut-manggut lalu terdiam.
Sementara Dewa kini coba beristirahat sejenak dengan memejamkan mata sembari bersandar pada kursi bus, ya walau sulit untuk tertidur disana karena suasana sangat bising.
Singkat cerita, Dewa sudah berada di rumahnya dan langsung merebahkan tubuh setelah merasa keletihan selama perjalanan.
__ADS_1
"Vivi gimana kabarnya ya? Dari semalam gue gak chattingan sama dia," gumamnya dalam hati.
Akhirnya Dewa bangkit untuk mengambil ponselnya karena suasana hatinya belum tenang jika ia tidak menghubungi Vivi lebih dulu dan menanyakan kabar gadis yang mulai mengambil hatinya itu.
Dewa cukup kecewa karena tak ada pesan apapun yang masuk dari nomor Vivi, padahal ia berharap kalau gadis itu mencari-cari dirinya dan mengirim banyak pesan ke nomornya.
"Ah payah nih Vivi!" gumamnya.
Dewa pun mulai mengetik pesan untuk Vivi lebih dulu karena tak ada pilihan lain.
💌Dewa : Hai, Vi! Kamu apa kabar? Kok gak pernah ngechat aku sih? Ini aku udah pulang ke Semarang lagi loh, gak kangen apa?
Sesudah mengirim pesan itu ke nomor Vivi, entah mengapa Dewa justru senyum-senyum sendiri.
Tampaknya Dewa tidak sabar menanti balasan dari Vivi dan penasaran juga balasan apa yang akan diketik oleh Vivi untuknya.
•
•
Sementara itu, Vivi tengah makan bersama sahabatnya, yakni Jessica. Vivi memang sengaja mengajak Jessi untuk makan di luar bersamanya karena sekarang belum ada Dewa yang biasa menemaninya kemanapun.
Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada pesan yang masuk ke nomornya, Vivi pun coba mengeceknya dan membuka pesan tersebut.
Vivi tersenyum saat melihat nama Dewa terpampang pada layar ponselnya itu, tanpa berlama-lama lagi ia langsung membuka pesan itu lalu membacanya karena sudah lama Dewa tak mengirim pesan padanya.
"Jadi ternyata Dewa udah pulang?" batin Vivi sesudah membaca pesan itu sambil senyum-senyum.
Jessi yang ada di hadapannya itu terheran-heran melihat sahabatnya tiba-tiba senyum sendiri tidak jelas saat ada pesan masuk ke handphonenya, tentu saja Jessi penasaran dan coba bertanya langsung pada sohibnya tersebut.
"Heh, Vivi! Lu ngapa senyum-senyum sendiri begitu? Udah mulai gak beres ya otak lu?" tanya Jessica.
Vivi terkejut.
"Ah elah lu! Ngagetin gue aja deh! Gak lihat apa gue lagi mau bales pesan dari Dewa? Nanti dulu ajak ngobrolnya!" ucap Vivi kesal.
"Hah? Ohh, pantesan lu senyum-senyum sendiri ternyata dapet sms dari Dewa!" ujar Jessi.
Vivi merasa bersalah karena sudah keceplosan di depan Jessi dan mengatakan pada sahabatnya itu kalau ia tengah membalas pesan Dewa, tentu Vivi sangat malu jika terus diledek oleh Jessi.
"Apaan sih lu?" ujar Vivi salah tingkah.
__ADS_1
"Hahaha, cie cie yang girang dapet sms dari Dewa! Yakin banget nih gue kalo lu sama Dewa pasti ada hubungan khusus!" ucap Jessi.
"Udah deh, jangan ngaco! Nanti gue gak jadi bayarin makanan lu nih!" ucap Vivi cemberut ngambek karena Jessi terus meledeknya.
"Lah emang kapan lu traktir gue?" tanya Jessi heran.
"Lu mau gue bayarin gak makannya sekarang?" ucap Vivi tersenyum.
"Ya maulah, mau mau!" ujar Jessi kegirangan.
"Nah kalo gitu, sekarang gue gak jadi bayarin lu makan! Soalnya lu udah nyebelin dan ledekin gue terus!" ucap Vivi sembari menjulurkan lidahnya.
"Yeh asem lu!"
Vivi kembali fokus mengetik balasan untuk Dewa setelah ia selesai dengan Jessi.
Vivi agak sedikit bingung harus membalas apa, karena ia tidak pandai merangkai kata-kata.
💌Vivi : Hai juga, Dewa! Aku baik kok, kamu sendiri gimana? Syukur deh kalo kamu emang udah balik kesini dengan selamat, semoga kita bisa cepat ketemu lagi ya!
Akhirnya Vivi mengetik apa saja yang ada di dalam kepalanya saat ini, baginya yang penting ia membalas pesan dari pria tersebut.
Setelah selesai mengirim pesan ke nomor Dewa, kini Vivi kembali melanjutkan makannya masih sambil senyum-senyum sendiri karena mengingat wajah Dewa dalam pikirannya.
"Heh, Vi! Mau sampe kapan lu terus aduk-aduk tuh makanan sambil senyum-senyum?" tegur Jessi.
"Haish, lagi-lagi lu gangguin gue aja deh! Mending udah lu diem, abisin tuh makan lu jangan banyak cencong!" ucap Vivi kesal.
"Iya iya...."
Jessi pun terdiam tak lagi berbicara karena takut dimarahi lagi oleh Vivi yang sedang kasmaran.
"Vivi..."
Tiba-tiba saja suara seorang pria terdengar di telinga Vivi saat ia baru hendak memakan makanan yang ia pesan disana.
Vivi terkejut ketika ia menoleh dan melihat sosok pria tengah berada di dekatnya, pria itu bahkan tersenyum ke arahnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1