Dewa Pemikat

Dewa Pemikat
Mama sudah setuju


__ADS_3

...❤️❤️❤️❤️❤️...


"Della, udah lama banget aku pengen ungkapin ini ke kamu. Tapi, aku belum berani. Mungkin sekarang saatnya buat aku nyatakan perasaan ku padamu, aku cinta sama kamu Della! Maukah kamu menjadi kekasihku?" ucap Witan.


"Hah?"


Della berusaha menutupi mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya karena terkejut.


"Ka-kamu serius...??" tanya Della.


Witan mengukir senyum tulus di wajahnya, memperlihatkan gigi-gigi putihnya itu kepada Della lalu mengangguk tanda kalau ia memang serius dengan perkataannya barusan.


"Ya, aku serius! Sudah bertahun-tahun aku memendam rasa ini kepadamu, Della. Menurutku, sekarang ini waktunya yang pas bagi aku untuk ungkapin perasaan aku ke kamu. Mau kan kamu terima cintaku dan jadi kekasih dalam hidupku, Della?" ucap Witan.


Della masih terdiam tak menyangka jika ia ditembak secara tiba-tiba di depan rumahnya oleh lelaki yang bahkan selama ini ia tidak mengira jika Witan memiliki rasa padanya.


Della sadar jika Witan memang tampan dan manis, bahkan Witan adalah cowok incaran para wanita di negaranya ini. Untuk itu, tentunya sebagai seorang wanita normal Della sangat ingin menerima cinta Witan dan menjadi kekasihnya. Namun, Della tidak yakin kalau ia memang memiliki rasa yang sama dan cemas jika akan menyakiti perasaan Witan nantinya.


"Umm, Witan...." ucap Della tampak gugup.


"Iya, kenapa Della? Kamu udah temuin jawabannya kan?" tanya Witan penasaran.


Della kembali terdiam. Entah mengapa sulit bagi bibirnya itu untuk mengucap kata tidak dan menolak cinta Witan, ia tak ingin membuat kecewa pria di depannya itu apalagi mereka memang sudah cukup lama berteman dan saling mengenal.


"Witan, maafin aku ya..." ucap Della.


"Loh kenapa kamu minta maaf?" tanya Witan heran.


"Eee aku..." ucap Della menggantung, ia masih gugup dan belum berani untuk mengucapkan kalimat penolakan pada Witan.


Tiba-tiba wanita yang sebelumnya membukakan pintu untuk Witan muncul kembali, ia berdiri di samping Della dan melihat ke arah Witan. Sepertinya ia penasaran apa yang sebenarnya tengah dilakukan kedua pasangan muda itu disana, apalagi posisi Witan saat ini masih berlutut dan memegang bunga di hadapan Della.


"Kalian lagi ngapain? Latihan drama?" tanyanya.

__ADS_1


"Eh mama. Enggak kok, ini Witan teman sekolahku dulu. Dia tuh mau..." jawab Della gugup sembari melirik ke arah Witan.


Witan tampak terkejut saat mendengar Della memanggil wanita itu dengan sebutan mama, yang artinya ia salah mengira jika wanita itu adalah pembantu di rumah Della. Witan pun bangkit berdiri di hadapan kedua wanita itu, lalu tersenyum dan mencium tangan mamanya Della.


"Selamat malam, tante! Saya ini kesini mau bicara sama anak tante yang juga teman saya waktu sekolah dulu," ucap Witan.


"Ohh, terus ngapain pake bawa bunga segala sama jongkok jongkok gitu tadi?" tanyanya heran.


"Eee itu tadi saya cuma mau bilang sama Della, kalau saya ini cinta sama dia. Ya istilah saya barusan itu nembak Della, tante. Emang sih selama ini kita cuma temenan, tapi lama-lama saya mulai merasakan cinta pada Della!" jawab Witan menjelaskan.


Della tak menyangka jika Witan berani mengatakan itu pada mamanya, ia pun kini tau jika Witan memang benar-benar tulus mencintainya.


"Lalu, apa jawaban kamu Della?" tanya sang mama.


"Umm, aku belum jawab, mah." ucap Della.


"Loh kenapa? Saran mama, udah kamu terima aja! Kan kamu juga belum pernah punya pacar, inget loh kamu kan semakin dewasa jadi butuh yang namanya sosok lelaki buat temenin hidup kamu!" ucap mama.


"Eee iya nanti aku pikir-pikir lagi, mah." ucap Della.


...•••...


Disisi lain, Vivi dan Jessi telah selesai makan. Mereka pun hendak pulang karena hari juga sudah malam, terlebih Vivi merupakan anak yang sangat disayang oleh mamanya. Sudah tentu Yolita pasti akan marah jika ia pulang terlalu larut nantinya, untuk itu ia pun mengajak Jessi pulang.


Marsel yang juga ada bersama mereka, kini mengikuti kedua gadis itu ke luar dari restoran. Rupanya Marsel masih ingin berbincang dengan Vivi dan berharap kalau gadis itu mau pulang bersamanya, memang Marsel dan Vivi cukup dekat ketika dulu mereka bertemu di Surabaya.


"Vi, kamu mau pulang?" tanya Marsel penasaran sembari menghampiri gadis itu.


"Eh iya, sorry ya! Aku gak bisa lama-lama, soalnya ini juga udah malam dan aku takut kalau nanti mamaku marah karena pulang kemalaman." jawab Vivi.


"Ohh, yaudah bareng aku aja! Sekalian aku juga mau ketemu sama tante Lita, kan udah lama aku gak ketemu sama mama kamu itu!" ucap Marsel.


"Gausah! Aku sama Jessi udah pesan taksi online kok, iya kan?" ucap Vivi.

__ADS_1


"Hooh, tapi kalo lu mau bareng sama Marsel ya gapapa. Jadi, taksinya nanti tinggal anterin gue ke rumah dan gak perlu bolak-balik! Atau kalau misal lu gak mau bareng Marsel, yaudah biar gue aja!" ucap Jessi sambil tersenyum genit.


"Haish, dasar lu!" ujar Vivi.


"Hehehe, kan selagi ada kesempatan gak boleh disia-siakan Vivi. Kalau emang Marsel mau anterin gue, apa salahnya kan?" ucap Jessi.


"Ish, udah lu bareng gue aja! Temen macam apa sih lu? Masa mau tinggalin temennya sendiri? Lagian Marsel juga kan butuh istirahat, dia kan mau tanding beberapa hari lagi." ucap Vivi.


"Ahaha, yaudah gapapa kalo kalian mau pulang berdua. Tapi, aku bakal tetep disini sampai taksi kalian itu datang ya!" ucap Marsel.


"Nah iya, boleh deh. Jangan pergi kemana-mana dulu! Gue masih mau lihat muka lu yang ganteng dan manis itu, kan jarang-jarang gue ketemu sama pemain bola kayak lu!" ujar Jessi sambil tersenyum.


Marsel hanya senyum-senyum saja sembari memandangi wajah Vivi, bukan Jessi.


Tak lama kemudian, taksi mereka pun sampai disana dan berhenti tepat di depan mereka.


"Dengan mbak Vivi, ya?" tanya supir taksi itu.


"Eh iya, pak. Saya Vivi." jawab Vivi.


"Yah udah dateng taksinya, gak bisa deh gue lama-lama ngeliat si ganteng yang manis ini!" ucap Jessi dengan wajah cemberut.


"Haish, lu kenapa sih? Kayak belum pernah ngeliat cowok ganteng aja? Padahal kan banyak pemain bola ganteng yang udah pernah lu lihat di stadion, lupa apa gimana sih?" ucap Vivi.


"Hehehe, gapapa dong..." ujar Jessi nyengir.


"Oh ya, aku sama Jessi pamit dulu ya? Thanks, udah ditraktir tadi!" ucap Vivi.


"Sama-sama, hati-hati ya!" ucap Marsel.


Setelahnya, Vivi dan Jessi pun masuk ke dalam taksi online meninggalkan Marsel disana. Jessi masih terus saja memandangi Marsel sembari tersenyum genit dan melambaikan tangan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2