Dewa Pemikat

Dewa Pemikat
Keceplosan di depan mama


__ADS_3

Hari ini tidak ada jadwal pertandingan maupun latihan dari klub, Dewa pun tampak bosan dan gundah gulana karena tak memiliki kegiatan apa-apa di hidupnya saat ini dan hanya menikmati pagi yang indah ini dengan meminum secangkir kopi sembari duduk di kursi depan rumahnya.


Ramai orang berlalu lalang di depannya, dari mulai anak sekolah yang hendak berangkat menuju sekolahnya, ibu-ibu yang baru pulang atau baru berangkat belanja sayuran plus gosip, bapak-bapak sama mas-mas yang mau berangkat kerja, remaja kuliahan yang ada kelas pagi, sampai pengangguran yang cuma mau nyari kegiatan doang biar dilihat orang dia bukan pengangguran.


"Oi!" teriak Dewa saat melihat pedagang bakpao yang lewat depan rumahnya.


Tulit tulit...


"Ngapa mas Dewa? Mau beli apa cuma mau nyapa doang kayak biasa??" tanya pedagang itu.


"Yahaha mau nyapa aja dong, mas!" jawab Dewa dengan santainya sambil tertawa terus menaikkan satu kakinya ke atas kursi dengan satu tangan menahannya.


"Yeh, yaudah kalo gitu saya pergi dulu ya mas Dewa?" ujar si pedagang.


"Woke, moga laris yo!"


Tulit tulit tulit...


Akhirnya penjual bakpao itu pergi kembali lanjut berjualan sambil membunyikan suara khas gerobaknya supaya orang-orang bisa tahu kalau ada kang bakpao lewat, tapi tetep aja masih banyak yang ngira kalo yang lewat itu kang siomay.


Sementara Dewa tetap duduk disana melanjutkan rutinitas paginya yang amat sangat membosankan itu, ia sendiri juga sebenarnya bosan karena cuma duduk-duduk doang gak jelas udah kayak pengangguran yang kerjanya rebahan doang.


Tak lama kemudian, si bapak keluar dari dalam rumahnya dengan caping serta alat pacul di tangannya sepertinya bersiap untuk pergi ke sawah karena kerjaan si bapak ini memang menjadi seorang petani.


"Dewa, bapak mau ke sawah dulu yo?" ujar si bapak.


"Ohh, wes mangan pak?" tanya Dewa.


"Udah, tenang aja! Kamu makan juga sana, sarapan biar badan kamu sehat gak kurus kerempeng kayak gitu!" ujar si bapak.


"Aku kurus dari mananya, pak? Badanku ini atletis loh udah cocok banget buat jadi atlet panjat tebing, masa dibilang kurus kerempeng!" ujar Dewa.


"Hahaha, becanda! Udah sana sarapan, tuh bapak udah siapin!" ucap si bapak.


"Wah sarapan buat Dewa udah disiapin sama bapak, nih? Tumben banget bapak baik sama Dewa, biasanya juga gak pernah!" ujar Dewa.


"Siapa bilang bapak udah siapin sarapan buat kamu?" ucap si bapak malah kebingungan.


"Loh tadi kan bapak yang bilang sendiri, gimana sih?" ujar Dewa juga ikut bingung sembari garuk-garuk kepala yang tak gatal.

__ADS_1


"Ohh, itu maksudnya udah disiapin nganu loh meja sama kursinya jadi kamu tinggal duduk yang anteng nikmatin makanan..." ucap si bapak.


"Hmm, kalo itu mah dari tahun jebot juga udah disiapin pak!" ujar Dewa kesal.


"Hahaha, yowes bapak berangkat dulu! Assalamualaikum, jaga rumah loh!" ucap si bapak.


"Iya pak, waalaikumsallam..."


Setelah si bapak pergi, kini giliran ponselnya berdering menandakan ada yang menelpon ke nomornya dan ternyata adalah Vivi alias sahabatnya yang mungkin sekarang sudah berhasil membuatnya klepek-klepek hingga jatuh cinta.


"Wah si Vivi nelpon segala..."


Tanpa basa-basi Dewa pun mengangkatnya.


📞"Halo, Vi! Ono opo, sayang?" ujar Dewa bermaksud becanda pada sahabatnya.


📞"Dih sayang sayang, ndasmu!" ucap Vivi emosi.


📞"Hahaha, canda loh iku! Jangan baper!" ujar Dewa tertawa terpingkal-pingkal.


📞"Halah, lagi ngapain kamu sekarang?" tanya Vivi.


📞"Dih dih dih, pedenya selangit lu! Gue cuma nanya aja kali, kan sekarang libur kampus sama gak latihan! Biasanya kalo kayak gini, lu pasti gabut dan gak ada kerjaan ya kan?" ujar Vivi.


📞"Yeh jahat bener sih kamu, masa udah bagus ngomongnya pake aku-kamu malah diubah lagi jadi lu-gue!" ujar Dewa.


📞"Oh iya keceplosan, makanya jangan bikin orang emosi dong!" ucap Vivi.


📞"Lah, apaan sih? Kamu mabok lem ya? Ngomongnya kok ngalor-ngidul gak jelas kemana arahnya, kalo kangen bilang aja kangen!" ucap Dewa.


📞"Ngaco!" ucap Vivi mengelak.


📞"Udah kamu kesini aja, aku tunggu mumpung di rumah juga gak ada orang!" ucap Dewa sambil cekikikan.


📞"Gak ah! Nanti aja agak siangan, aku mau rebahan dulu bentar nikmatin libur...." ucap Vivi.


📞"Ya ampun, jangan kebanyakan rebahan nanti gendut!" ucap Dewa.


📞"Biarin, dah ah babay!" ucap Vivi.

__ADS_1


Gadis itu langsung memutus telponnya tanpa aba-aba lebih dulu membuat Dewa terkejut bukan main, namun ia memaklumi tindakan Vivi karena gadis itu sudah berulang kali melakukannya dan menurutnya justru itu yang membuat gemas.


"Ada-ada aja si Vivi mah..." batin Dewa sambil geleng-geleng.


Dewa pun bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam rumah untuk sarapan, ia berjalan sembari meregangkan otot-otot tubuhnya supaya tidak lemas karena seharian ini ia akan berada di rumah rebahan santai.


•


•


Sementara itu, setelah mematikan telpon Vivi tampak senyum-senyum sendiri mengingat perkataan Dewa di dalam telpon tadi yang membuatnya baper walau hanya sekedar ledekan atau apalah itu.


"Si Dewa lama-lama kok makin sweet aja, ya?" gumam Vivi sambil menopang dagunya.


Ceklek...


Suara pintu terbuka menyadarkan Vivi dari lamunannya, ia bergegas merapihkan diri sembari menoleh ke arah pintu untuk memastikan siapakah yang datang ke kamarnya tanpa mengetuk lebih dulu hingga membuatnya terkejut seperti tadi.


Ya rupanya Yolita lah yang masuk ke kamar putrinya secara diam-diam dan tanpa sengaja melihat Vivi tengah tersenyum sendiri disana, tentu saja Vivi nampak memerah karena malu khawatir kalau mamanya akan bertanya padanya.


"Aduh aduh... masih pagi udah ada yang senyum-senyum sendiri di kamar, hayo ngelamunin siapa kamu?" ujar Yolita.


"Gak ngelamunin siapa-siapa kok, mah! Mama salah lihat kali, orang daritadi aku gak senyum-senyum!" ucap Vivi mengelak.


"Halah kamu ini, udah ketahuan masih aja suka ngeles kayak bajaj! Mama tau kamu tadi lagi ngelamun sambil senyum-senyum gitu, eh pas mama masuk langsung pindah posisi terus pura-pura main hp!" ujar Yolita sambil tersenyum.


"Mama ih! Jangan godain aku terus dong!" ucap Vivi.


"Hahaha, ya makanya kamu jujur sama mama lagi ngelamunin siapa hayo? Ohh, apa jangan-jangan kamu pasti mikirin Witan kan?" ucap Yolita.


"Hah? Enggak kok, mah! Mana ada aku ngelamunin Witan? Orang aku tadi bayangin Dewa!" ucap Vivi malah keceplosan pada mamanya.


"Apa??" ujar Yolita terkejut.


Vivi pun reflek menutupi mulutnya sembari menabok mulutnya itu karena sudah keceplosan, sedangkan Yolita tampak kaget sekaligus tak percaya dengan perkataan putrinya yang mengatakan kalau ia tengah memikirkan Dewa.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2