
Zhang Xiuhuan, Danzi, dan juga Xu Lian melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki setelah melewati perjalanan diatas kapal.
Danzi berjalan paling depan dan sebagai penunjuk arah menuju runtuhan bangunan kerajaan Shangri-La, dan Xu Lian berjalan dua langkah dibelakangnya begitu juga Zhang Xiuhuan yang berada disampingnya. Udara disekitarnya cukup dingin karena daerah Timur dikenal dengan salju abadi.
Xu Lian merapatkan jubahnya agar tidak ada udara dingin yang masuk.
"Kenapa disini dingin sekali?" katanya.
"Berarti kita sudah dekat dengan kerajaan Shangri-La" timpal Danzi, masih menatap kearah depan.
Dari kejauhan mereka sudah bisa melihat hamparan salju yang menutupi hamparan tanah.
"Ini adalah perbatasan kerajaan Shangri-La" kata Danzi.
Xu Lian mengelilingi pandangannya, dia hanya melihat batu-batu besar yang tertutup batu dan pohon-pohon besar yang masih tumbuh walaupun tertutup salju, Xu Lian tidak melihat sebuah gapura ataupun tembok yang menghalangi kerajaan dari luar. "Apa di kerajaan ini tidak ada gapura ataupun tembok?" Xu Lian memasukkan kedua tangannya kedalam jubah.
Danzi menengok sekilas kearah Xu Lian dan kembali menatap kedepan.
"Pohon-pohon ini adalah yang kau maksud!" katanya.
Xu Lian tidak ingin melanjutkan pertanyaan lagi, kini ia fokus untuk menjaga kehangatan tubuhnya yang sangat kedinginan, dia heran dengan kedua pria disamping dan didepannya yang tidak terlihat kedinginan.
"Oh aku lupa, aku tidak memiliki tenaga dalam" Xu Lian mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, ia baru sadar jika mereka berdua tidak kedinginan karena mereka menggunakan tenaga dalam untuk menjaga kehangatan tubuh mereka sedangkan Xu Lian tidak memiliki tenaga dalam jadi dia hanya bisa memakluminya.
Dari balik matanya, Xu Lian bisa melihat bangunan-bangunan yang sudah hampir tidak berbentuk, banyak bangunan yang sudah hancur berkeping-keping dan ada juga yang masih berdiri walaupun setengah dari bangunan itu sudah hancur. Kota dihadapannya persis dengan kota mati yang tidak berpenghuni. Pikirannya mulai melayang kemana-mana, membayangkan bagaimana proses penghancuran kerajaan ini terjadi. Jeritan, tangisan, darah dan kematian begitu jelas Xu Lian bayangkan seperti ia sendiri berada dalam kejadian itu.
Setelah melewati kota di kerajaan Shangri-La, Xu Lian menuju sebuah gerbang yang sangat besar dan juga dikelilingi tembok disamping kiri dan kanan gerbang, gerbang itu sudah tua dan catnya pun sudah memudar, salju disekitarnya juga membuat gerbang itu menjadi beku. Xu Lian bisa melihat Danzi terus berjalan sampai didepan gerbang besar itu, ia menempelkan telapak tangannya ke arah gerbang besar itu dan tak berapa lama kemudian suara retakan es bisa didengar oleh Xu Lian begitu juga dengan Zhang Xiuhuan. Setelah es yang membungkus gerbang besar, Danzi mendorong gerbang itu menggunakan kedua tangannya. Sebuah istana besar ditengah-tengah sebuah danau buatan yang besar, anehnya air itu tidak membeku walaupun disekitarnya bersalju. Xu Lian melangkah mengikuti Danzi memasuki istana dan diikuti juga oleh Zhang Xiuhuan. Kini Xu Lian ataupun Zhang Xiuhuan tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada gaya arsitektur istana Shangri-La bak istana dalam dongeng.
"Kakek kenapa Istana ini tidak memiliki kerusakan sedikitpun?" Xu Lian masih fokus melihat-lihat sekitar istana.
"Karena tidak semua orang bisa memasuki istana ini, jika keluarga dari dalam istana mengijinkannya orang itu bisa memasukinya" Xu Lian tidak melirik kearah Danzi, dia hanya menganggukan kepalanya mengerti.
__ADS_1
Danzi mengajak mereka berdua memasuki istana utama, tanpa banyak bicara tentang setiap bangunan istana ini dia mengajak mereka berdua kesebuah ruangan bawah tanah. Xu Lian hanya mengikuti Danzi didepannya, dia berpengangan ke tembok disampingnya ketika ia melewati sebuah tangga yang cukup curam yang berbentuk zig-zag yang mengarah kebawah. Mereka bertiga sampai didasar tangga, ruangan itu sangat gelap karena tidak ada satupun pencahayaan dalam ruangan itu. Danzi berjalan kesisi dinding dan berkeliling untuk menyalakan sebuah obor yang telah tersedia. Kini mereka bertiga bisa melihat isi ruangan itu, ruangan itu isinya kosong tidak ada apa-apa kecuali sebuah pola gambar yang rumit berbentuk lingkaran, dan gambar gambar yang aneh yang Xu Lian maupun Zhang Xiuhuan tidak bisa memahaminya.
"Tempat macam apa ini?" kata Zhang Xiuhuan dan berkeliling disetiap sudut ruangan untuk melihat gambar pola itu dari dekat.
"Dikerajaan ini memiliki ilmu turunan yaitu ilmu segel, ditempat ini biasanya tempat membuat segel dan membuka segel ataupun tempat belajar segel" kata Danzi.
"Jadi kita akan membuka segel itu sekarang?" tanya Xu Lian menatap kearah Danzi.
"Kita bisa saja mekukannya tetapi kau harus siap dengan konsekuensinya" Danzi menghela nafas. "Aku tidak tahu sebelumnya tentang kekuaatan seorang Summonster yang disegel mungkin ada alasannya dibalik ibumu menyegelnya" Xu Lian terdiam mendengarkan dengan fokus. "Tapi satu kemungkinan, kekuatanmu terlalu besar sehingga mengancam nyawamu dari itu ibumu menyegelnya" katanya.
"Jadi maksudmu tubuhnya tidak akan bisa menerima kekuatan yang dia miliki?" Zhang Xiuhuan mulai mendekati Danzi dan menatapnya serius.
"Aku tidak berkata seperti itu, Dulu memang dia akan meninggal jika lahir dengan kekuatan yang besar karena dia masih bayi tapi kemungkinan sekarang tidak sama dengan dulu" kata Danzi.
Zhang Xiuhuan melirik kearah Xu Lian, ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Xu Lian ketika proses pembukaan segelnya. "Apa kau serius ingin membuka segelnya? bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?" Zhang Xiuhuan berjalan pelan kearah Xu Lian.
"Aku akan baik-baik saja, percayalah padaku" Xu Lian memaksakan seulas senyum untuk mempercayakan Zhang Xiuhuan.
"Apa maksudmu?" tanya Zhang Xiuhuan.
"Kau bisa mengaliri tenaga dalammu kedalam tubuh nona Lian untuk proses pembukaan segelnya agar tubuhnya tidak mendapatkan beban yang berat ketika tubuhnya menerima kekuatannya" kata Danzi.
***
Xu Lian dan Zhang Xiuhuan sekarang berada dihalaman istana, berjalan santai diatas salju yang tidak mencair walaupun matahari bersinar begitu terik. Xu Lian berbalik arah kehadapan Zhang Xiuhuan yang berada satu langkah dibelakangnya.
"Xiuhuan kau sudah berjanji kepadaku kan, jika kita sampai dikerajaan istana ini kau akan membuka topengmu!" katanya.
"Kukira kau akan lupa tentang hal itu"
"Kau tidak akan beringkar janji kan?" Xu Lian mulai memelas dihadapan Zhang Xiuhuan.
__ADS_1
Zhang Xiuhuan mengambil nafas berat. "Baikalah".
Zhang Xiuhuan memilih duduk dibawah sebuah pohon yang tertutup salju dan diikuti ole Xu Lian yang duduk satu langkah dihadapan Zhang Xiuhuan.
Zhang Xiuhuan meraih topengnya perlahan, dan membukanya perlahan.
Dibawah cahaya matahari dan diatas hamparan salju, Xu Lian bisa melihat mata yang berwarna merah gelap dan juga mata yang berwarna biru laut dan juga wajah polos yang selalu ditutupi oleh topeng iblis.
Ketika Zhang Xiuhuan membuka topengnya ia takut jika Xu Lian akan menjauh darinya karena ketakutan atau lain macam halnya seperti di kerajaannya dulu. Tapi tidak setelah melihat raut wajah Xu Lian yang menatap matanya dengan mata yang membulat besar yang menyiratkan ia terkagum-kagum dengan matanya.
"Kau memiliki mata yang indah" kata Xu Lian antusias.
Zhang Xiuhuan hanya tersenyum kaku membalas pertanyaan dari Xu Lian.
"Kenapa kau memakai topeng jelek itu?" Xu Lian menunjuk kearah topeng yang tergeletak disamping Zhang Xiuhuan.
"Aku tidak ingin menakuti siapapun karena wajahku" katanya datar.
"Menakuti orang? orang gila saja yang melihat wajahmu menjadi takut, tapi wajahmu tampan juga"
"Apa?, kau menyukaiku?" Zhang Xiuhuan tersenyum mengejek.
"Aku tidak bilang aku menyukaimu! siapa juga yang menyukai pria gila sepertimu!" Xu Lian memalingkan wajahnya yang merona merah. Jantungnya berdetak dengan tempo yang cepat saat ini.
"Bagaimana kalau aku yang menyukaimu, ehh aku ralat, bagaimana kalau aku yang mencintaimu?" keadaan hening sesaat.
***
Thanks yang sudah mau baca sampai disini...
Rencananya ceritanya tidak akan terlalu panjang, karena kalau panjang-panjang takut ceritanya ngawur kemana-mana.
__ADS_1