
Xu Lian sangat kesal dengan Zhang Xiuhuan, dia tidak akan memaafkan kelakuannya.
Pedesaan yang sangat besar terlihat jelas ditengah hutan yang tertutup pepohonan, bangunan-bangunan desa tersebut seluruhnya terbuat dari kayu dan memiliki warna yang sama yaitu coklat tua.
Xu Lian yang awalnya kesal menjadi antusias melihat pedesaan dihadapannya, desa tersebut memanglah sederhana tanpa ada bangunan yang sangat mencolok tetapi bangunan-bangunan didesa ini memberikan kesan elegan.
"Selamat datang didesa kami, Desa Magical" ucap salah satu dari para penyihir kepada Danzi, Zhang Xiuhuan, dan Xu Lian. Zhang Xiuhuan memilih berjalan disamping Danzi yang berlawanan dengan Xu Lian, untuk menghindari kemarahan gadis itu. Tidak mungkin Xu Lian akan mengamuk ketika mereka sedang bersama para penyihir.
Danzi hanya bisa berdecak kagum melihat suasana pedesaan yang sangat tenang, tidak seperti diluaran sana.
Mereka semua masuk kedalam pedesaan, dan jika bertemu dengan anggota penyihir lainnya mereka akan membungkuk hormat.
"Apa penyihir ini memiliki status yang istimewa di desa ini?" pikir Danzi.
Mereka semua terus berjalan sampai berhenti di bangunan yang sedikit berbeda dengan bangunan yang lain, karena bangunan ini memiliki dua lantai.
"Ini adalah rumahku" ucap salah seorang penyihir. "Kalian semua kembalilah kepekerjaan masing-masing, aku yang akan mengurus tamu-tamuku sendiri" katanya kembali.
Para penyihir yang lain mulai pergi, dan menyisakan penyihir tadi yang berbicara, Danzi, Zhang Xiuhuan dan juga Xu Lian.
"Mari masuk!" bangsa penyihir memang termasuk kedalam aliran netral tetapi bukan berarti mereka tidak memiliki sopan santun. Padahal jika dibandingkan dengan aliran putih, bangsa penyihir lebih sopan.
Danzi, Zhang Xiuhuan dan Xu Lian memasuki rumah penyihir tersebut dengan antusias. Sebuah meja yang cukup besar terdapat ditengah ruangan yang mungkin ini ruang tamu. Mereka berdua duduk berdampingan didepan meja dan dihadapan penyihir tersebut.
"Oh maafkan aku, sejak awal kita bertemu aku belum mengatakan siapa namaku" tertawa kecil "Namaku Kaibo, aku adalah tetua desa ini" katanya.
"Namaku Danzi dan mereka berdua Zhang Xiuhuan dan Xu Lian" Zhang Xiuhuan dan Xu Lian hanya menundukkan kepala mereka sebagai ucapan salam.
"Ohh baiklah, istriku dan para warga yang lain akan memasak hasil buruan kita" Danzi mulai antusias ketika mendengar makanan.
"Tapi kenapa kalian bisa ada dihutan gunung Velver?" tanya Kaibo.
"Kita sedang dalam perjalanan menuju ke istana Wei, karena dengan melewati jalur ini akan semakin cepat" kata Zhang Xiuhuan. Kaibo hanya menganggukan kepalanya mengerti.
Xu Lian melirik kearah Zhang Xiuhuan dengan tajam tetapi yang ditatap acuh tak acuh menanggapinya.
"Kudengar seluruh kerajajaan dan sekte aliran putih sedang kalang kabut mempersiapkan pasukan untuk pertempuran"
__ADS_1
"Benar, mereka akan melawan kerajaan iblis" kata Zhang Xiuhuan.
"Kerajaan iblis? apa mereka memiliki masalah dengan kerajaan iblis?" Kaibo terkejut jika seluruh kerajaan dan sekte aliran putih akan melawan kerajaan iblis. Melawan aliran hitam saja mereka belum berhasil apalagi kerajaan iblis, sungguh sangat bodoh orang yang ingin melawannya sama saja seperti mengantarkan nyawanya sendiri!.
"Sebenarnya mereka bukan memiliki masalah dengan kerajaan iblis, tapi kerajaan iblis yang ingin menguasai seluruh daratan dari itu mereka melawan" Zhang Xiuhuan menghela nafas, "dan ada baiknya jika kalian bangsa penyihir ikut bergabung dengan kami, karena ini bukan masalah kerajaan dan sekte aliran putih saja tetapi seluruh penghuni daratan!" katanya.
Kaibo terdiam termenung mendengarkan ucapan Zhang Xiuhuan. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi tetapi ia tidak bisa gegabah mengambil keputusan untuk bergabung karena itu bertentangan dengan bangsa penyihir yang tidak ikut andil dalam dunia pendekar.
"Tapi nak, kami bangsa penyihir tidak bisa bergabung karena prioritas kami yang sudah ada sejak dulu", Kaibo menatap orang-orang dihadapannya dengan serius, "lagipula aku belum bisa mempercayai berita darimu" katanya lagi.
Xu Lian hanya mendesah, bagaimana caranya supaya mereka mau bergabung.
"Sudahlah, tidak apa apa jika bangsa penyihir tidak bisa gabung. Nah, sekarang bagaimana dengan makanannya kapan akan selesai dimasak?" Xu Lian hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Danzi yang kekanak-kanakan.
"Tenang saja tuan, sebentar lagi pasti mereka selesai" ucap Kaibo.
"Kakek, tuan Kaibo saya mohon undur diri. Saya ingin melihat-lihat desa ini" ucap Xu Lian dan dibalas anggukan oleh Kaibo. Xu Lian beranjak berdiri dan menarik Zhang Xiuhuan untuk ikut keluar bersamanya.
"Ada apa, kenapa kau menarikku keluar?" tanya Zhang Xiuhuan.
"Apa kau tidak punya rencana untuk membuat mereka bergabung dengan kita?" Zhang Xiuhuan menghela nafas dengan berat, Xu Lian memang orangnya tidak sabaran.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Zhang Xiuhuan curiga.
"Membalas yang tadi"
"Yang tadi itu aku menciummu, sebenarnya kau membalasku dengan menciumku lagi bukan dengan pedang itu"
"Aku akan membalas ciumanmu menggunakan pedang ini" Zhang Xiuhuan bergidik ngeri ketika ia membayangkan ia harus mencium pedang milik Xu Lian.
***
Semua berkumpul untuk makan malam bersama, dihalaman rumah tetua desa.
Sejak sore tadi Xu Lian menghabiskan waktunya berlatih dengan Zhang Xiuhuan, walaupun bisa dikatakan mereka bukannya sedang berlatih tapi memang bertarung beneran.
"Lin'er kemarilah, aku ingin memeriksa tenaga dalammu" Xu Lian menghampiri Danzi yang sedang duduk didepan api anggun yang besar.
__ADS_1
Danzi memegang pergelangan tangan Xu Lian, lalu menutup matanya untuk memeriksa kondisi tubuh Xu Lian. Matanya terbuka lagi dan terpampang senyuman kecil diwajahnya.
"Sebentar lagi kekuatanmu akan sempurna, teruslah berlatih dengan giat" katanya.
Xu Lian hanya menganggukan kepalanya.
Suasana yang awalnya damai dan tentram tiba-tiba mencekam, ketika udara mulai anjlog karena aura yang sangat kuat mengintimidasi mereka.
"Waktunya tiba juga" pikir Zhang Xiuhaun.
Mereka semua mulai waspada ketika aura itu semakin mendekat.
"Iblis itu datang lagi" ucap Danzi geram.
Dari balik pepohonan hutan yang mengelilingi Desa Magical, keluar puluhan bahkan ratusan para Nindhog.
"Akhirnya aku menemukan kalian, akan kuhabisi kalian semua karena telah membunuh rekan kami" ucap salah satu Nindhog yang memiliki tubuh lebih besar dari Nindhog yang lain, mungkin dia ketua dari para Nindhog ini.
"Semuanya bersiap jangan sampai para iblis ini menghancurkan desa kita!" teriak Kaibo kepada warganya. Para perempuan dan anak kecil dibawa pergi ketempat yang aman.
Zhang Xiuhuan dan Xu Lian sudah bersiap dengan pedang ditangannya. Mereka berdua antusias karena mereka bisa banyak berlatih dan meningkatkan kekuatan mereka. Danzi lebih memilih menyerah dengan tangan kosong seperti biasa.
Dan para penyihir sudah bersiap untuk melawan para iblis dihadapannya dengan sebuah tongkat kayu yang berwarna hitam pekat dan memiliki ukuran 40 cm.
"Kalian bangsa manusia tidak akan aku biarkan kalian tetap hidup!" ucap ketua Nindhog.
***
***Catatan:
Dunia pendekar dilambangkan dengan Lambang Yin dan Yang***;
***Yang memiliki makna, dikehidupan putih bukan berarti mereka memiliki hati yang suci/bersih, begitu juga dengan kehidupan hitam bukan berarti mereka memiliki hati yang kotor.
Jadi walaupun mereka yang termasuk kedalam aliran putih bukanlah orang yang memiliki niat yang baik.
__ADS_1
"Musuh yang harus kita waspadai bukanlah musuh yang nyata"
Xiexie***.............................................................