Dewi Naga Timur

Dewi Naga Timur
Ayah Xu Jiao?


__ADS_3

Peperangan telah usai, tetapi bukan berarti mereka harus bersorak bergembira. Banyak yang kehilangan nyawanya apalagi Kerajaan Wei yang mendapat kerugian yang sangat besar, butuh berbulan-bulan untuk mensetabilkan kerajaan dengan bantuan kerajaan lainnya. Apalagi keamanan wilayah barat mulai melemah karena peperangan yang sudah terjadi, ditambah mereka juga harus tetap menjaga perbatasan wilayah untuk mengantisipasi serangan dari wilayah lain, karena dalam kondisi seperti ini sangat rentan untuk mendapat serangan dari pihak lain terutama sekte aliran hitam.


Kerajaan Wei berangsur-angsur membaik walaupun sudah kehilangan banyak pelayan dan anggota keluarga kerajaan. Seluruh kerajaan banyak membantunya, padahal ini kesempatan mereka untuk menjatuhkan posisi Kerajaan Wei yang termasuk kedalam tiga besar kerajaan. Bukan karena kasihan atau apa mereka mau membantu Kerajaan Wei, tetapi karena keberadaan seorang gadis yang namanya harus digaris bawahi dalam pikiran mereka agar tidak menyinggungnya. Atau mungkin mereka ingin mendekatkan diri kepada Kerajaan Wei dan membangun pertemanan hanya untuk menjilat saja. Xu Kong memang sudah mengetahui hal itu sejak awal, tetapi ia tidak bisa menolak dalam keadaan seperti ini bukan. Tetapi itu tidak membuatnya ambil pusing tetapi yang membuatnya tidak bisa apa-apa adalah keberadaan Xu Lian. Sejak awal Xu Lian datang mereka belum pernah berbicara satu kata patahpun, mungkin cuma sekedar melirik. Xu Lian memang belum pernah berbicara dengan siapapun dikerajaan Wei kecuali dengan Zhang Xiuhuan dan Danzi. Dan juga Xu Lian sangat jarang untuk keluar kamarnya, entahlah apa yang dilakukannya didalam kamarnya. Tetapi bukan berarti ia selalu menutup diri berhari-hari, kadang Danzi akan membujuknya keluar sekedar makan malam bersama.


Seperti saat ini suasana diruangan makan keluarga istana begitu dingin, tidak ada satupun suara bahkan untuk sekedar menyapa.


Xu Lian melirik tajam kearah Xu Jiao yang saat ini sedang menatap Zhang Xiuhuan dengan pandangan memuja. Ini bukan yang pertama untuk Xu Lian yang memergoki Xu Jiao memandangi Zhang Xiuhuan tetapi kesekian puluh kali bahkan pada saat mereka pertama bertemu.


Zhang Xiuhuan berbeda dengan Xu Lian, dia lebih asik untuk menghabiskan makanannya tanpa memperdulikan keadaan disekitarnya, walaupun ia tahu banyak pasang mata yang meliriknya.


Khem...


Danzi berdeham untuk menghilangkan suasana yang canggung, ia melirik kearah Xu Kong yang kini juga sedang melihat kearahnya.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Danzi berbasa-basi.


Xu Kong terlihat terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan dari Danzi, ia terlihat sedang berfikir sesuatu.


"Aku akan memperbaiki kerusakan dan kerugian yang terjadi, dan mungkin untuk keluargaku juga" Xu Kong melirik kearah Xu Lian tetapi yang dilirik acuh tak acuh.


Danzi mengagguk mengerti, dia tidak ingin ikut campur dalam permasalahan keluarga ini.


"Aku akan pergi dari istana ini secepatnya" Xu Lian menghentikan tangannya yang akan menyuapkan kedalam mulutnya, pandangannya beralih kearah Danzi yang sekarang berada disampingnya.


"Kakek mau pergi kemana?" Xu Lian kecewa jika Danzi harus pergi, baru saja ia mendapatkan rasa kasih sayang dari orang tua tetapi sekarang ia akan kehilangan kembali.


"Ada banyak hal yang harus aku urus" ucap Danzi.


"Aku akan ikut!" Xu Lian lebih baik pergi dengan Danzi dari pada ia harus tinggal ditempat yang penuh penderitaan ini.

__ADS_1


"Tidak kau tetap disini, ini rumahmu" Xu Lian berdecih, tempat bagai neraka seperti dulu apakah bisa dikatakan sebagai rumah.


"Benar apa yang dikatakan oleh kakek guru, kau tetap disini ini rumahmu" Xu Kong mencoba untuk berkomunikasi dengan Xu Lian.


Xu Lian memalingkan wajahnya kesal.


"Apa tempat penyiksaan bisa dikatakan sebagai rumah" ucapnya tajam.


Xu Kong menghela nafas berat, mungkin ia akan sulit untuk meminta maaf kepada putrinya. Tetapi berbeda dengan Xu Jiao yang menatapnya dengan geram.


"Kau memang tidak ada sopan santunnya dihadapan ayah" ucap Xu Jiao marah.


"Ayah? apakah kau pantas menyebutnya ayah?" Xu Jiao terdiam begitu juga dengan ibunya yang menegang sesaat.


"Kau...." ucap Xu Jiao geram.


"Sudahlah hentikan, maaf putriku memang mudah terpancing emosi" Xu Lian tersenyum mengejek ketika melihat ibu Xu Jiao yang salah tingkah.


Pintu utama ruangan makan keluarga diketuk beberapa kali yang menandakan ada seseorang diluar.


"Masuk" setelah Xu Kong mengizinkannya masuk, dua orang prajurit menghampirinya dan duduk berlutut disamping Xu Kong.


"Yang mulia kami menghadap, kami membawa berita buruk diluar ada sekte Bayangan Hitam yang menyerang" Sekte Bayangan Hitam adalah salah satu sekte aliran hitam, kerajaan ini menyerang Kerajaan Wei setelah mendapat kabar jika Kerajaan Wei dalam keadaan lemah, jadi memudahkan mereka untuk mengambil alih kekuasaan Kerajaan Wei, tetapi tidak ada yang memberitahu mereka tentang keberadaan seorang gadis yang memiliki hewan spirit tinggi, mereka hanya akan mengantarkan nyawa saja.


"Berani sekali mereka menyerang kerajaanku" Xu Kong berdiri dan melirik kedua putranya untuk mengikutinya. Xu Yong dan Xu Li langsung paham dengan tatapan dari ayahnya, mereka berdua langsung beranjak berdiri.


"Aku ikut" Danzi menawarkan diri untuk membantu dan Xu Kong hanya mengaggukkan kepalanya.


Xu Lian tidak menghiraukan apa yang terjadi, ia lebih asik untuk menghabiskan makanannya dan Zhang Xiuhuan tetap ditempat mengikuti Xu Lian.

__ADS_1


"Apa kau tidak akan membantu mereka?" ucap Xu Jiao setelah kepergian ayahnya dan yang lain.


"Kenapa harus aku? kenapa tidak kau saja?" Xu Lian acuh tak acuh menjawab.


"Dasar anak tidak bergu...." sebelum Xu Jiao menyelesaikan ucapannya, tubuhnya tidak bisa digerakkan sedikitpun karena aura Zhang Xiuhuan.


"Kau tahu anak seorang ******* tidak berhak berkata seperti itu!" Xu Lian menatap tajam kearah Xu Jiao yang kini tengah kesusahan bernafas.


"Hentikan ini!! berani sekali kau melakukan ini!!" Huanran menggebrak meja dihadapannya. Matanya melotot tajam kearah Xu Lian, berani sekali dia menghina putrinya.


"Dan berani sekali kau tidak bersikap sopan kepadaku. Seorang putri kekaisaran yang asli" ucap Xu Lian penuh penekanan.


"Kau...." sebelum Huanran bertindak ingin menyerang Xu Lian, Xu Lian sudah terlebih dahulu melambaikan tangannya dan seketika itu tubuh Huanran terlempar hingga tubuhnya membentur tembok. Xu Jiao tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong ibunya bahkan tubuhnya tidak bisa bergerak.


Sebenarnya beberapa minggu lalu, ia mendapatkan sebuah fakta yang sangat menakjubkan. Ia memang tidak pernah keluar kamarnya hanya untuk alibi semata. Ia akan pergi berkeliling kerajaan dengan Zhang Xiuhuan, sebenarnya untuk memata-matai Jendral Wang.


Suatu hari ketika Xu Lian dan Zhang Xiuhuan membuntuti Jendral Wang ia tidak menyangka menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Pada malam itu Jendral Wang pergi dengan tergesa-gesa ke gudang penyimpanan istana, Xu Lian kira ia akan memeriksa isi penyimpanan tetapi yang ia lihat Jendral Wang menemui seorang wanita dengan menggunakan jubah dan tudung kepala. Awalnya Xu Lian dan Zhang Xiuhuan tidak bisa melihat wanita yang bersama dengan Jendral Wang karena wajahnya terhalang tudungnya, mereka berdua hanya bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Jendral Wang dan wanita asing itu.


"Hu'er sebaiknya kita pergi dari istana ini secepatnya, juga bawa putri kita" ucap Jendral Wang.


"Tetapi kenapa?" tanya gadis bertudung.


"Gadis itu sudah mengetahui semua rencanaku, dan jika kita tetap tinggal disini kita tidak akan selamat"


"Tapi jika kita pergi dalam keadaan seperti ini akan sangat sulit, semua perbatasan telah dijaga ketat"


"Biarkan hal itu menjadi urusanku" ucap Jendral Wang.


Jendral Wang membuka tudung wanita dihadapannya, dan mengecup dahinya sesaat setelah itu menutupnya kembali.

__ADS_1


Xu Lian membulatkan matanya, ketika ia bisa melihat wajah wanita asing itu yang tidak lain Huanran permaisuri kedua Kerajaan Wei.


***


__ADS_2