
Setiap tahun di musim semi semua masyarakat akan merayakan festival musim semi, baik bagi kalangan bawah, menengah ataupun atas bahkan kalangan bangsawan juga mereka akan ikut dalam perayaan musim semi tersebut.
Perayaan musim semi biasanya dirayakan dengan pesta kembang api bagi daerah perkotaan dan pedesaan dan bagi daerah kerajaan dan sekte-sekte aliran putih biasanya mereka merayakannya dengan mengadakan pertandingan untuk kaum muda. Dalam pertandingan ini kaum muda akan adu tanding kekuatan dan yang keluar sebagai pemenang dia akan diberikan penghargaan besar dari seluruh kerajaan dan sekte-sekte aliran putih yang ikut berpartisipasi dalam pertandingan ini. Biasanya dari seluruh kerajaan dan seluruh sekte aliran putih, mereka akan mengirimkan muda-mudi terbaik mereka untuk berpartisipasi dalam pertandingan ini. Karena bukan hanya muda-mudi yang menang dalam pertandingan ini akan mendapatkan penghargaan tetapi daerah mereka juga akan menjadi terpandang atau terhormati. Setiap kerajaan dan sekte aliran putih hanya bisa mengirimkan perwakilan mereka sebanyak 5 orang. Setiap tahun pertandingan ini dilakukan di kerajaan atau sekte aliran putih dengan cara bergantian, dan untuk tahun ini pertandingan dilakukan di kerajaan Wei.
Maka dari itu para kasim dan pelayan kerajaan Wei sibuk dengan persiapan pertandingan musim semi.
Xu Lian memperhatikan para pelayan yang berjalan terburu-buru dengan barang bawaan ditangan mereka. Xu Lian baru saja menyelesaikan latihan berpedangnya dengan panduan buku misterius itu, tetapi Xu Lian terganggu dengan suara bising karena para pelayan yang sedang mempersiapkan istana untuk pertandingan musim semi yang mengharuskan Xu Lian menghentikan latihannya ditaman belakang paviliumnya ditambah lagi Xu Lian tidak bisa menemukan Jingmi, biasanya Jingmi tidak akan pergi jauh dari sekitar paviliumnya dan sekarang ia harus mencari ke halaman istana untuk mencari keberadaan Jingmi.
"Mohon maafkan nubi tuan putri, Ahh" Xu Lian mendengar teriakan seseorang yang ia kenal dari arah depan pavilium putri Xu Jiao. Xu Lian pun melangkahkan kakinya ke arah sumber suara tersebut. Xu Lian terkejut melihat Jingmi yang sedang di cambuk oleh pelayan putri Xu Jiao.
"Hentikan!!! apa yang kau lakukan pada Jingmi" teriak Xu Lian kepada pelayan yang mencabuk Jingmi dan merebut cambuk dari tangan pelayan tersebut.
"Berani sekali kau berhenti menghukumnya sebelum aku menyuruhmu berhenti" Xu Lian merasa geram dengan sikap sombong putri Xu Jiao yang ada dihadapannya.
"Maaf tuan putri, nubi.." sebelum pelayan itu menyelesaikan perkataannya Xu Jiao mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat pelayan itu harus pergi.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini kepada Jingmi?" ucap Xu Lian dengan geram.
"Kau? kau berani sekali memanggilku dengan sebutan 'kau'?" Xu Lian tak menghiraukan pertanyaan Xu Jiao.
"Cukup tuan putri hamba yang mengaku salah jadi sebaiknya kita kembali saja" ajak Jingmi kepada Xu Lian tetapi Xu Lian tidak menggubris perkataan Jingmi ia tetap berdiri ditempat semula. Xu Lian bisa menerima jika dirinya dihindari ataupun dihina tetapi ketika melihat orang yang ia sayangi disakiti seperti ini Xu Lian tidak akan bisa diam lagi.
"Berani sekali kau menyakiti Jingmi" Xu Jiao hanya tertawa pelan mendengar ucapan Xu Lian.
"Berani sekali kau menentang seorang tuan putri?" Xu Jiao beranjak berdiri dari tempat duduknya, seorang pelayan disampingnya memberikan senjata Xu Jiao yang berupa sebuah pedang dengan sarung pedang yang berwarna ungu muda dan berlukiskan ukiran bunga. Xu Lian tetap berdiri ditempatnya ia tidak takut dengan Xu Jiao bahkan jika Xu Jiao membawa pedangnya. Jingmi merasa panik ketika melihat Xu Jiao yang merasa marah terhadap Xu Lian dan Xu Jiao pun sepertinya terbawa emosi.
"Apa ini? I__ni bu__kan aura pembunuh" pikir Xu Jiao yang tak bisa menggerakkan tubuhnya karena aura yang keluar dari Xu Lian. Jingmi pun bisa bernafas lega ketika aura pembunuh yang dikeluarkan Xu Jiao menghilang.
Setelah Xu Lian menarik auranya, Xu Jiao bisa menggerakkan kembali tubuhnya dan segera mengeluarkan pedangnya dan menyerang Xu Lian. Dengan mudahnya Xu Lian menagkis serangan dari Xu Jiao menggunakan cambuk yang ada ditangannya.
"Rupanya kau hebat juga" Xu Jiao mundur beberapa langkah dari Xu Lian ketika serangannya ditangkis dengan mudah oleh Xu Lian.
__ADS_1
"Aku yang hebat atau kau yang lemah?" Xu Lian tersenyum mengejek kearah Xu Jiao yang kini wajahnya memerah karena menahan amarah.
Tak berhenti disitu Xu Jiao mencoba menyerang Xu Lian kembali dan dengan senang hati Xu Lian menerima serangan dari Xu Jiao.
*Trengg....
Trengg...
"Apa-apaan ini kenapa pedangku tak bisa memotong cambuk itu yang bahkan terbuat dari tambang*" pikir Xu Jiao yang mulai tersudut.
Xu Lian dengan lihainya memainkan cambuk yang berada ditangannya, dia memutarkan cambuk itu diatas dan melemparnya kearah Xu Jiao yang akan menyerangnya. Cambuk itu melilit pedang Xu Jiao dan setelah itu Xu Jiao menarik cambuknya sehingga pedang ditangan Xu Jian terlempar. Xu Jiao yang tak terima dengan kekalahannya tetap mencoba menyerang Xu Lian dengan cara mengalirkan tenaga dalam ke telapak tangannya dan bersiap untuk menyerang, begitu juga dengan Xu Lian yang siap menerima serangan dari Xu Jiao walaupun ia tak memiliki tenaga dalam tetapi ia percaya dengan kemampuan beladirinya.
Tetapi kegiatan mereka terhenti ketika aura pembunuh yang sangat kuat mengintimidasi mereka berdua.
***
__ADS_1