
Pertemuan antar kerajaan dilaksanakan di Kerajaan Wei. Mereka mekukan pertemuan untuk membahas bagaimana caranya melawan Kerajaan Beiping.
Diantara meja bundar yang menjadi tempat pertemuan itu sudah ada para tokoh utama masing-masing kerajaan, ada Xiao Tian dari Kerajaan Xia, Tho Zou dari Kerajaan Kolkata, dan Xu Kong dari Kerajaan Wei sendiri yang menjadi 3 kerajaan terkuat saat ini, dan juga masih banyak lagi kerajaan-kerajaan yang hadir di pertemuan ini seperti kerajaan Allepo dan kerajaan Shuhan.
"Aku tidak mengerti dengan ambisi Zhang Yiwen untuk menganut aliran hitam atau bahkan dia akan ikut bergabung dengan mereka untuk menghancurkan kita" ujar Xu Kong kepada para hadirin yang berada dalam pertemuan tersebut.
"Aku juga bingung sebenarnya alasan apa dibalik ini semua, entah itu untuk kebaikan ataupun untuk kejahatan. Tapi apakah bijak jika kita langsung menghancurkan Kerajaan Beiping?" Xiao Tian tidak langsung setuju dengan rumor yang ada, karena Zhang Yiwen adalah teman baiknya tidak mungkin ia memiliki ambisi sebesar itu untuk menguasai seluruh daratan.
"Tapi mengapa mereka menyerang bahkan menghabisi seluruh pasukan kerajaanku? kalau itu bukan bukti jika Kerajaan Beiping tidaklah bersahabat" Fang An tidak bisa mengontrol emosinya lagi karena
dia tidak terima dengan pendapat Xiao Tian.
"Memangnya siapa yang menyerang dulu? apakah jika ingin bertanya mengenai alasannya mengapa ia beralih kedalam aliran hitam, harus membawa ribuan pasukan perang?" Fang An terdiam, dia tidak bisa menjawab pernyataan dari Xiao Tian karena itu memang sebuah kenyataan.
"Cukup!! setiap kerajaan yang beralih kedalam aliran hitam bukanlah untuk berniat kebaikan, dan dari itu tidak ada kata lain bagi kita selain mereka yang beraliran hitam adalah musuh kita yang harus dimusnahkan!" ucap Xu Kong untuk melerai pertikain yang terjadi antara Xiao Tian dan Fang An.
Semua terdiam cukup lama untuk mempertimbangkan ucapan dari Xu Kong sampai suara pintu yang di dorong dengan kasar menyadarkan mereka semua dari pikiran masing-masing.
"Maaf Yang Mulia telah mengganggu pertemuan anda" seseorang dengan berpakain hitam dari atas kepala hingga kaki memberi hormat kepada semua yang ada didalam ruangan pertemuan.
"Ada apa, apa ada berita terbaru tentang Kerajaan Beiping?" ucap Xu Kong setelah menyadari jika orang itu adalah yang disuruhnya untuk memata-matai Kerajaan Beiping.
"Hamba membawa berita yang sangat penting tuan" semua orang mulai fokus untuk mendengarkan berita apa yang akan disampaikannya.
"Cepat katakan!" titah Xu Kong.
"Mungkin ini terdengar sangat mustahil tapi saya mengatakan dengan sebenarnya, jika Kerajaan Beiping telah dihancurkan dan tidak tersisa satupun nyawa" semua orang tercengang mendengar pernyataan itu.
"It__tu ti__dak__ mungkin" ucap Xiao Tian dengan terbata.
"Hamba tidak akan berani berbohong tuan"
Xu Kong mengerutkan keningnya ia merasa heran sebenarnya apa yang terjadi dengan kerajaan Beiping.
__ADS_1
"Lalu siapa gerangan yang menghancurkan Kerajaan Beiping"
"Hamba tidak tau tuan, karena ketika hamba sampai disana semuanya sudah hancur dan tidak tersisakan, bahkan hamba tidak merasakan energi yang kuat yang berada di kerajaan Beiping. Tapi saya menemukan sebuah pesan yang ditulis di tengah-tengah aula istana tuan"
Semua orang mulai merasa penasaran dengan seseorang yang telah menghancurkan kerajaan Beiping.
"Pesan apa?" kini giliran Fang An yang bertanya.
"Topeng Raja Iblis"
Semua termenung memikirkan arti dari kata 'Topeng Raja Iblis'.
"Aku tidak tahu apakah berita ini adalah berita baik atau berita buruk" ucap Xu Kong untuk menutup pertemuan ini.
***
"Jingmi menurutmu buku yang mana dulu yang harus kupelajari" Xu Lian dan Jingmi sedang berada di perpustakaan kerajaan yang berada di bagian belakang kerajaan, yang memang tempat itu berisi buku-buku yang sudah tak terpakai.
"Bagaimana dengan buku yang ini?" Jingmi menunjuk sebuah buku dengan sampul yang berwarna biru dengan tulisan ' Teknik Peningkatan Tenaga Dalam'.
Jingmi tidak ingin bertanya jauh tentang kondisi tubuh Xu Lian yang tak memiliki tenaga dalam karena ia tidak ingin menyinggungnya dengan pertanyaannya.
Mereka terus mencari buku yang akan Xu Lian pelajari dari terbitnya sang surya hingga sang surya berada tepat diatas mereka. Xu Lian menyerah ia lelah karena tidak bisa menemukan buku yang cocok untuknya. Xu Lian terduduk dibawah perpustakaan dengan wajah yang kecewa.
"Perpustakaan ini memang sudah tua dan isinya hanya buku-buku yang sudah tak berguna" gerutu Xu Lian.
"Tapi tuan putri kita bisa mencarinya diperpustakaan utama kerajaan" Jingmi mencoba menghibur Xu Lian yang terlihat sangat kecewa.
"Tapi aku tidak diizinkan untuk memasuki istana utama"
Jingmi tak bisa berkata apa-apa lagi. Karena kehidupan Xu Lian memang sangat tragis, dia bahkan tidak diperbolehkan memasuki istana utama apalagi dia tidak boleh memanggil Kaisar dengan sebutan ayah.
"Jingmi keluarlah, biarkan aku sendiri disini sebentar!" Jingmi langsung bergegas meninggalkan perpustakaan, dan berdiri didepan perpustakaan. Jingmi merasa bersalah karenanya Xu Lian menjadi murung karena mengingat takdirnya memang menyedihkan.
__ADS_1
Xu Lian menghela nafas dengan berat, ia selalu berpikir sebenarnya untuk apa ia hidup. Bahkan ia tidak tahu sebenarnya kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga ia diasingkan di istana. Karena lelah ia menyandarkan punggungnya pada tembok dibelakangnya sambil menutup mata.
Kreekkk.....
"Ehhh......kenapa ini? kenapa temboknya semakin mundur?" pikir Xu Lian kemudian membuka matanya dan bergegas untuk bangun.
Xu Lian memperhatikan tembok yang tadi ia gunakan untuk bersandar, Xu Lian mencoba mendorong lebih dalam tembok yang tadi bergerak ketika ia bersandar. Ukuran tembok itu sekitar 1meter × 1meter yang membentuk subuah pintu kecil. Xu Lian terkejut dengan keberadaan pintu rahasia ditempat seperti ini yang bahkan pantas disebut gudang. Xu Lian mencoba masuk karena penasaran, dengan tubuh kecilnya Xu Lian dengan mudah memasuki lorong itu. Panjang lorongnya tidak panjang hanya 2 meteran saja.
"Disini tidak ada apa-apa hanya lorong yang kosong dan gelap" Xu Lian akhirnya memutuskan untuk berbalik dan keluar dari lorong itu.
Brukkkk.....
"Aduhh... lututku sakit" Xu Lian kesakitan karena lututnya menimpa sesuatu yang keras ketika ia sedang merangkak yang ingin berbalik.
"Apa ini, aku tidak bisa melihatnya disini sangat gelap" Xu Lianpun memutuskan untuk mengambil benda itu.
"Ini sebuah buku" tak lama setelah Xu Lian menggenggam buku itu, tiba-tiba muncul cahaya yang berwarna merah dari sampul buku yang ia pegang, karena cahaya yang sangat terang Xu Lian mencoba membuka buku itu agar cahayanya tidak terlihat.
JDEEERRRR......JDEERRRRRR .......
Seluruh masyarakat kerajaan Wei terkejut dengan suara petir yang sangat menggelegar dan juga sangat tiba-tiba bahkan dihari yang sangat cerah tanpa ada tanda-tanda turunnya hujan.
Bahkan para raja-raja yang sedang berjalan menuju ke luar istana kerajaan Wei ikut terkejut.
"Petir ini...ini bukan petir biasa" ucap Xu Kong yang diangguki semua orang yang disekitarnya.
Xu Lian yang sedang membuka buku itu menjerit sangat kuat, ketika suara petir yang mengagetkannya sehingga ia menutup kembali buku itu. Ia pun segera bergegas keluar dari lorong itu.
"Tuan putri apakah kau tidak apa-apa?" Jingmi merasa khawatir dengan keadaan Xu Lian karena tadi Jingmi mendengar teriakan Xu Lian dari luar.
"Aku tidak apa-apa Jingmi, aku hanya terkejut dengan suara petir tadi" jelas Xu Lian setelah ia keluar dari lorong.
"Tuan putri apa itu yang sedang kau genggam" Jingmi menunjuk sebuah buku yang berada di tangan Xu Lian yang berwarna merah pekat dan terdapat sebuah batu yang juga berwarna merah dengan ukuran yang cukup besar terletak dibagian paling atas sampul buku tersebut. Tetapi hal yang paling menarik dari buku ini bukanlah keberadaan batu itu tetapi ukiran gambar naga yang melilit sebuah pedang dibawah batu itu, karena gambar itu mirip bahkan sama dengan tanda yang ada dibagian bawah bahu kanan Xu Lian yang mungkin tidak disadarinya jika gambar itu sama dengan tanda ditubuhnya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu ini buku apa, karena buku ini tak memiliki judul disampulnya. Tapi aku tetap akan membawa buku ini bersamaku"
***