
Xu Lian tidak percaya jika hari pernikahannya benar-benar dilakukan setelah dua hari ia tersadar dari bangunnya.
Pakaian merah yang menutupi seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya membuat tubuhnya tidak nyaman bahkan dengan perhiasan yang ia gunakan.
'Apa sesulit ini menjadi seorang pengantin?' gerutu Xu Lian. Xu Lian sungguh tidak bisa terbiasa dengan pakaiannya saat ini. Walaupun kini ia terlihat sangat cantik dari sebelumnya.
Seluruh bagian istana telah didekor sedemikian rupa, undanganpun sudah tersebar sejak hari kemarin. Dan kini hari pernikahannya telah tiba.
Xu Lian mencoba tenang ketika berjalan diatas altar, ia tidak bisa melihat sekelilingnya karena tudung yang menutup wajahnya, ia hanya bisa melihat jalan yang ia lewati.
Setelah Xu Lian berada pada sisi Zhang Xiuhuan, seseorang yang seperti pendeta berdiri dihadapannya, mengucapkan sebuah mantra yang tidak dimengerti oleh Xu Lian.
"Mantra? ini pernikahan atau upacara sakral?" gerutu Xu Lian.
Hal yang paling membosankan bagi Xu Lian akhirnya berakhir, ia bahkan tidak ingin ikut serta dalam acara makan-makan. Kepalanya sungguh pusing, perhiasan yang ia pakai sangat berat.
'Ini bukan pernikahan tetapi ini penyiksaan'
"Heyyy tri kau mau kemana?" Xu Lian menghentikan langkahnya ketika ia akan pergi kekamarnya dan melepas semua perhiasan yang menyiksanya sedari tadi ketika Zhang Xiuhuan memanggilnya.
"Tri? siapa?" tanya Xu Lian bingung. Karena Zhang Xiuhuan memanggilnya dengan nama Tri.
"Hehehh, karena kau sudah menjadi istriku, maka dari itu aku memanggilmu Tri kata akhir dari Istri" Mata Xu Lian berkedut. Apakah ia telah bodoh menikahi pria gila sepertinya.
"Baiklah mi terserah kau saja, aku akan pergi ke kamarku" ucap Xu Lian malas.
"Mi?" tanya Zhang Xiuhuan bingung.
"Karena kau suami ku, BODOH!!!" Xu Lian memukul wajah Zhang Xiuhuan berkali-kali.
Dewa, bukankah hari pernikahan adalah hari yang membahagiakan, tetapi kenapa mereka berdua sangat konyol.
Xu Lian tidak sadar jika dirinya ikut gila seperti Zhang Xiuhuan.
"Tri apakah kau menikmati pestanya?" tanya Zhang Xiuhuan.
Kini mereka sudah berada dalam kamar, Zhang Xiuhuan pun membatalkan untuk ikut malam bersama yang lainnya, karena kasihan melihat Xu Lian yang kelelahan karena perhiasannya.
"Berhenti menggilku Tri!!" Xu Lian tidak habis pikir dengan jalan pikiran Zhang Xiuhuan. Jika pria lain yang memberi sebutan baru bagi istrinya pasti itu panggilan sayang, jadi apa maksudnya Zhang Xiuhuan memanggilnga dengan panggilan Tri?.
"Hehhhh kenapa? aku menyukainya" Zhang Xiuhuan tertawa kecil.
__ADS_1
Xu Lian merasa geram, ia kembali ingin memukul wajah suami gilanya, yang kini tengah asik tiduran diatas kasurnya.
"Panggilan macam apa yang kau gunakan?" Zhang Xiuhuan pasrah ketika wajahnya kembali dipukuli oleh Xu Lian.
"Kauu...." Xu Lian terkejut ketika tangannya ditarik tiba-tiba oleh Zhang Xiuhuan hingga tubuhnya terjatuh diatas tubuhnya.
"Kenapa mulutmu cerewet sekali, sampai aku ingin membekap mulutmu itu" Xu Lian memberontak untuk melepaskan diri, tetapi cengkeraman Zhang Xiuhuan lebih keras.
Zhang Xiuhuan membalikkan tubuhnya menjadi diatas tubuh Xu Lian.
"Lepaskan"
Zhang Xiuhuan menempelkan bibirnya pada bibir Xu Lian, tidak lama setelah itu bukan hanya saling menempel.
"Malam ini kau milikku" Xu Lian hanya menerima ketika bibir Zhang Xiuhuan menciumnya kembali.
***
Pernikahan putri terakhir dari Kerajaan Wei telah usai, para warga juga ikut andil dalam memeriahkan pernikahan.
Setelah hari yang sangat membahagiakan bagi Xu Kong, juga akan menjadi hari paling menyedihkannya karena putrinya akan meninggalkan kediamannya.
"Ayah" Xu Kong mengelus kepala Xu Lian dengan lembut, walaupun ia berat hati membiarkan putrinya pergi, tetapi ini adalah kebaikan untuk putrinya sendiri.
"Jaga diri baik-baik" Xu Lian menganggukan kepalanya, lalu ia memeluk tubuh ayahnya dengan erat. Ia akan sangat merindukan seorang ayah yang baru saja ia bisa rasakan.
"Aku akan pergi" Xu Lian menatap kedua kakaknya dengan tatapan nanar.
"Aku akan sangat merindukanmu" Xu Li tidak tahan jika tidak memeluk tubuh adiknya, bahkan tangisnya pun sudah pecah. Xu Yong hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku adik laki-lakinya.
"Tenang saja, aku akan selalu mengunjungi kalian semua" ucap Xu Lian meyakinkan.
"Berhati-hatilah" Xu Yong tersenyum, tidak lupa ia juga mengusap lembut kepala adiknya.
Disisi lain Zhang Xiuhuan hanya terdiam melihat drama keluarga dihadapannya. Bahkan ia tidak berniat untuk masuk kedalam drama keluarga dihadapannya.
Setelah puas berpamitan dengan keluarganya Xu Lian menghampiri Zhang Xiuhuan yang tengah menunggu dengan Nang'er dengan wujud asli Naga Surgawi.
Mereka berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan menunggangi Nang'er.
Xu Lian menaiki punggung Nang'er yang diikuti Zhang Xiuhuan. Setelah Xu Lian dan Zhang Xiuhuan naik keatas punggungnya, Nang'er mulai terbang dan pergi meninggalkan Kerajaan Wei.
__ADS_1
"Kemana tujuan kita?" tanya Zhang Xiuhuan.
"Kearah Selatan" ucap Xu Lian semangat.
***
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, Xu Lian dan Zhang Xiuhuan melakukan perjalanannya didaratan Selatan. Banyak rintangan yang mereka lalui, seperti siluman ataupun monster iblis.
Sampai disebuah gunung yang memiliki ketinggian yang sangat tinggi, gunung itu memiliki banyak pohon buah persik, Xu Lian menghentikan perjalanannya.
"Tempat ini sangat damai" Xu lian menikmati udara segar disekitar daerah pegunungan yang entah apa namanya.
Zhang Xiuhuan memeluk tubuh Xu Lian dari belakang, ia sangat lega ketika Xu Lian merasa bahagia dan tenang.
"Kau senang?" Xu Lian menganggukan kepalanya sebagai jawabannya.
"Dan aku sangat senang" Xu Lian membalikkan badannya, "Jika kau selalu bersamaku" ucapnya.
"Aku mencintaimu" ucap Zhang Xiuhuan tulus.
"Aku juga mencintaimu" Xu Lian mengangkat wajahnya, hingga bibirnya bertemu dengan bibir Zhang Xiuhuan. Setelah beberapa waktu yang cukup lama Xu Lian melepas ciumannya dengan wajah yang sudah semerah tomat.
"Tri apakah kau menyukai tempat ini?" tanya Zhang Xiuhuan.
"Kenapa kau tetap memanggilku Tri?" Xu Lian memukul wajah Zhang Xiuhuan dengan tangannya, "Kau merusak suasana yang romantis saja" Xu Lian kembali memukul wajah Zhang Xiuhuan.
Zhang Xiuhuan hanya pasrah ketika wajahnya dipukuli oleh istrinya, dia memang sudah menjadi korban kekerasan rumah tangga sejak awal pernikahannya.
Terkadang kekonyolan membuat suatu hubungan menjadi harmonis. Walapun hidup yang jauh dari orang-orang itu tidak membuat Xu Lian merasa kesepian. Karena cukup baginya hidup dengan damai tanpa merasakan kehilangan orang yang sangat ia cintai.
Bahagia itu mudah, tidak harus dengan kekuasaan yang besar ataupun kekayaan. Tetap hidup dengan apa yang kamu sukai dan yang pasti bersama orang yang kau sayangi, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar bagi Xu Lian.
End...............................................................
***
***SELAMAT TINGGAL SEMUANYA....
TERIMA KASIH YANG SUDAH MAU MEMBACA CERITA INI SAMPAI AKHIR...
Salam manis dari Author***....
__ADS_1