Dia Milikku, Bukan Milik Mu (Alex & Bella)

Dia Milikku, Bukan Milik Mu (Alex & Bella)
Kediaman Lemos


__ADS_3

"Maafkan aku!" Dan pada akhirnya hanya kata maaf yang bisa Bima ucapakan


"Be begitu." Sahut Bella lemah.


Apa lagi yang bisa di kalahkan Bella selain pasrah, saat kebahagiaan yang di dambakannya tak lagi bisa ia raih.


Ia terlalu mencintai lelaki berkulit putih di hadapannya, sangat mencintainya. Tapi rasanya sangat tidak adil jika ia melampiaskan seluruh kekecewaannya pada lelaki itu.


Semua yang dilakukan lelaki itu juga atas nama cinta, kan.


Cinta yang tidak bisa ia genggam.


"Aku hanya ingin membantunya bahagia." Jelas Bima lagi yang kembali menusuk hati Bella


"Dan aku? Bagaimana denganku?" Tanya Bella sakit hati. ia yang rela mengorbankan semuanya demi laki-laki itu, kenapa tak pernah masuk hitungan?


"Bima, apa di matamu aku ini begitu menyedihkan?"


"Maaf Bella." Bisik lelaki itu dengan raut wajah penuh sesal.


Bella memejamkan mata dan menarik napas panjang.


Ia ingin menangis, tapi tidak ingin membebani laki-laki itu dengan sikap cengengnya.


Lelaki itu memang tidak bisa di salahkan.


Sejak awal, ia menyadari Bima tidak pernah mencintai. Dia tahu hal itu. Namun rasa cinta dan keegoisan untuk memiliki lelaki itu sepenuhnya, membuat Bella menutup mata pada semua pemberitaan saat pria itu melamarnya, Atau sikap dingin lelaki itu saat pernikahan mereka yang sedang dilangsungkan dulu.


Atau sikapnya yang tak lagi ceria.


Dialah yang telah membuat lelaki itu menderita


Dan dia juga yang sepatutnya disalahkan dalam hal ini.


Andai ia tidak bertindak egois.


"Aku mengerti. Tidak apa-apa." Ucapnya lembut. Suara Bella terdengar sedikit serak kali ini. "Aku akan membereskan barang-barang ku dari Rumahmu." Lanjutannya dan meninggalkan lelaki itu dengan senyum pilu.


Mengabaikan pria, yang kini memperlihatkan kepergiannya dengan perasaan campur aduk.


Bima sungguh-sungguh saat mengatakan ia tidak ingin menyakiti gadis itu.


Tapi hatinya yang tidak lagi bisa dikorbankan, menolak untuk melanjutkan sandiwara ini.


dia selalu menjadi milik Amel.

__ADS_1


Dan sekarang, dia merasa bersalah saat melihat punggung gadis berambut Panjang itu semakin menjauh dan semakin terlihat kecil sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.


Kepalanya terasa pusing saat ia mengutuk perbuatannya yang telah menyakiti gadis itu.


Dan makin sakit saat sesuatu yang lain menghantam benaknya.


Perasaan asing yang tidak pernah ia rasakan bahkan ia tidak pernah merasakan perasaan aneh ini saat bersama Amelia.


Dadanya sangat sakit.


Perasaan manusia itu lucu, 5 menit yang lalu dia sangat bahagia, Sekarang dia terpuruk dengan sangat sedih.


Keadaan ini mengingatkannya pada hari pernikahannya bersama Bima berbulan-bulan lalu.


Saat itu, dengan memakai gaun putih indah yang terasa pas membungkus tubuhnya, Bella merasa cantik Dan bahagia.


Impiannya bersanding dengan pemuda pirang yang menjadi pujaannya sejak remaja dulu, akhirnya terwujud.


Namun tampaknya, kebahagiaan dan rasa antusias dari pernikahan itu hanya sebentar.


Berbeda dengannya yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, sedangkan sang pria, Bima, tampak biasa saja saat menunggunya di altar. Sepertinya upacara pernikahan ini tidak berarti apapun bagi pria itu.


Saat resepsi pernikahan pun Bima selalu diam, mengacuhkan istrinya dengan berbicara dengan para tamu.


Hatinya makin sakit saat lelaki, yang telah resmi menjadi suaminya itu, tidak keberatan memeluk sahabat wanitanya, yang lebih dari sahabat menurut Bella. Tersenyum lembut bahkan bercanda dengan lepas saat diikat. Hal yang sepertinya tidak bisa dilakukan pria itu pada istrinya.


Apakah pesona sang Model begitu sulit di tolak?


Rumah pribadi milik Bima. 07:35 Malam


"Kau sudah mengemasi barang-barang mu?" Tanya Bima dengan raut wajah tidak percaya saat ia pulang dan melihat Bella tengah menunggunya dengan koper besar sedang duduk manis di samping wanita itu.


"Kau tidak harus melakukan ini, kau tahu?" Gumamnya lagi sembari mengendurkan dasinya yang terasa mencekik. "Maksudku, tidak harus secepat ini."


"Aku tidak ingin merepotkan mu lagi."


"Bella aku"


"Aku punya permintaan." Potong Bella cepat. "Dan kuharap kau mau mengabulkan permintaan terakhirku." Lanjutnya sambil menghampiri lelaki itu. Senyum lembut yang selalu menghiasi wajahnya, kini terlihat dipaksakan.


Membuatnya tampak makin sedih.


Jemarinya yang lentik kemudian meraih tangan kasar Bima. Menggenggamnya erat sebelum akhirnya membuka telapak tangan yang terasa besar itu. Cincin pernikahan yang setia selalu dipakai Bella, kini berada di dalam genggaman suaminya.


Atau sebentar lagi menjadi mantan suaminya.

__ADS_1


"Kali ini, berbahagialah dengan wanita pilihanmu. Wanita yang kau cintai, bukan perempuan menyedihkan sepertiku."


"bella…"


"Aku sungguh berterimakasih pada Mu Bima yang telah mengizinkanku berdiri di sampingmu selama ini," Bella kembali memotong kalimat lelaki itu. Hatinya yang seperti tersayat tidak dapat menerima kebaikan lelaki itu lebih lama lagi. Dengan sedikit tercekat ia melanjutkan. "Menyandang namamu dan berada dekat dengan mu merupakan kebahagiaan tersendiri buat ku." Bisiknya pelan. Namun, rasanya aku seperti orang yang tidak tahu diri jika masih bersikeras mempertahankan sikap egoisku itu.


"Maafkan aku."


"Jangan." Bisik Bella lembut. "Aku yang seharusnya minta maaf. Dosa ku lebih tidak termaafkan." Gumamnya


Mungkin inilah hukuman yang harus di terimanya karena telah berani menantang sumpah suci mereka. Terjebak dengan Alexander Graham bahkan sempat menikmati kebersamaan mereka jelas bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dimaafkan.


"Selamat tinggal, Bima" Bisiknya. Dan dengan pasti melangkah melewati pintu keluar


Ia segera memasuki taksi yang telah menunggunya sejak tadi dan meringkuk di dalamnya.


Tangisnya akhirnya pecah juga.


Udara malam yang biasa menggigit kulit tak lagi ia rasakan.


Di dalam taksi yang mengisahkannya menembus keramaian malam jalanan Bella berdoa: semoga pria yang di cintainya itu bisa bahagia bersama wanita pilihannya. Yang di cintainya.


Dia rela jika wanita itu adalah Amelia.


Sungguh, Bella tidak akan sakit hati jika kelak menerima undangan pernikahan atas nama mereka.


Hatinya sudah mati.


Dan tanpa keraguan lagi, saat ini Bella mengakui bahwa ayahnya benar


Jangan pernah menaruh hati untuk pria yang jelas-jelas sudah terikat hatinya dengan perempuan lain.


Sesampainya Bella di rumah besar keluarga Lemos, ia disambut dengan sangat antusias oleh pelayan-pelayan disana.


Bahkan Kakak dan ayahnya yang terkenal dengan wajah tanpa ekspresi pun ikut tersenyum senang saat melihat ke datangan Bella.


"Tumben sekali kau datang kesini Nak!" Ujar Ayah Bella sekaligus kepala keluarga Lemos


Mahendra Lemos.


"Aku merindukanmu Ayah!" Ujar Bella memeluk ayahnya dengan erat


"Ada apa adik kecil?" Tanya Kakak laki-lakinya khawatir


Abian Avian Lemos.

__ADS_1


"Tidak ada, A aku hanya merindukan kalian!" Balas Bella masih dengan posisi memeluk erat ayahnya


__ADS_2