Dia Milikku, Bukan Milik Mu (Alex & Bella)

Dia Milikku, Bukan Milik Mu (Alex & Bella)
Menjenguk Bima


__ADS_3

Ini memang bukan mimpi. Mencium bau masakan di pagi hari, mendapati Bella berada di dapur apartemennya bukanlah sekedar mimpi. Alex kini memiliki Hinata sepenuhnya, tidak akan ada yang bisa memisahkannya dengan Bella. Ada bayi miliknya kini tumbuh di perut Bella, yang kelak akan menjadi tali pengikat yang abadi.


Alex tersenyum melihat punggung kecil Bella yang tengah sibuk memasak. Rambut Bella lagi-lagi di kucir kuda, memperlihatkan leher jenjangnya yang sexy.


"Pagi Sayang" Alex memberikan pelukan dari belakang, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Bella


"Pa pagi, A Alex!"


Bella merasa tidak nyaman, aktivitas memasaknya menjadi terganggu karena Alex memeluknya seperti ini.


Bella menggeliat tidak nyaman. "A Alex duduklah dulu, aku sudah membuatkan kopi untukmu."


"Hm" Alex tidak bergeming.


"Alex?"


Alex mendesah, ia mengalah dan memilih untuk menuruti kemauan istrinya, Ia duduk di meja makan dan menyesap segelas kopi dengan uap yang masih menguar.


Bella menyelesaikan masakannya, menuangkan nasi goreng pada dua piring yang tersedia di meja makan, dan meletakkan kartel penggorengan di wastafel cuci piring untuk nanti dicuci. Menggantungkan lagi celemek berwarna biru tua itu dan bersiap untuk bergabung dengan Alex di meja makan.


"Kuharap kau suka nasi goreng, Alex."


Alex mengangguk. "Aku selalu suka masakan buatanmu." ucap Alex jujur, tersenyum dalam hati ketika melihat Bella merona.


Usai mereka makan, Bella sedikit berdehem.


"Bella?" yang dipanggil mengangguk.


"Maaf soal semalam." Wajah Bella tampak menyesal.


"Aku hanya tidak suka dengan bau mu!"


"Aku sudah memaafkan mu." Balas Alex


Bella memilin ujung kaosnya, terlihat gugup. "Dan Semalam kau berbelanja sendiri?"


Alex mengangguk lagi.


"Juga membelikan ku susu ibu hamil?" Kini wajah Bella merah padam, dirinya hanya memastikan bahwa bukan Kakak Addison atau Kakak Abian yang membelikannya. Karena bukan Alex sekali, mau berbelanja bahkan sengaja membelikan susu ibu hamil untuknya.


"Kau harus memperhatikan asupan gizi untuk anak kita Bella"


Kata 'Anak kita' yang dilontarkan Alex membuat dada Bella berdebar-debar. Oh Ya tuhan, Bella benar-benar tidak menyangka kalau Alex se perhatian itu dan kata anak kita membuat Bella terpana. Alex benar-benar menginginkan bayinya.


"Aku ingin anak kita lahir dengan sehat, dan kau juga selamat. Aku ingin bersama dengan wanita yang kucintai dan membesarkan anak bersama."

__ADS_1


Bella merasa ia akan kehilangan kendali. Kata-kata Alexander Graham yang sangat romantis dan tidak terduga ini. Astaga! Seorang Alexander Graham bisa seperti ini? Seharusnya Bella mencubit dirinya sendiri untuk memastikan ia sedang tidak bermimpi


Rumah pribadi milik Bima. 08:23 Pagi.


Bima melemparkan semua barang yang ada di hadapannya. Pecahan gelas, kaleng minuman, kertas-kertas dan sampah bertebaran di seluruh penjuru ruangan. Apartemen Bima seperti baru saja diterjang angin topan.


Pria blonde itu memerosotkan tubuhnya di tengah ruang tv yang sudah tak berupa. Bima memukul-mukul lantai yang dilapisi karpet beludru sekuat tenaga. Membuat kedua tangan pria bermarga Wijaya itu lebam di sana sini. Setelah lelah dengan kelakuannya sendiri Bima menghela nafas.


Bella sedang mengandung, anak Alex


Anak Alex.


"Malam itu, aku dan dia melakukannya. Aku menanamkan benihku padanya! Sekarang, benihku itu akan menjadi anakku dan anak Bella."


Bima menutup telinganya dengan kedua tangan saat ingatan tadi malam menghampirinya.


"Mereka melakukannya saat Bella masih menjadi istriku, Mereka Mengkhianati ku selama ini!" Batin Bima sakit hati


"Jadi dengarkan aku Bima! Jangan pernah sedikit pun ada dalam otak tolol mu itu bahwa Bella akan kembali ke sisimu, atau aku akan melepaskan Bella, itu tidak akan pernah terjadi dalam mimpi mu sekalipun!"


"Kau sudah Lajang sekarang jadi kejarlah Amelia mu itu dan sayangi dia,, Jadi biarkan aku bahagia dengan Bella juga anakku. Jangan serakah Bima!"


Bima tiba-tiba saja tertawa. Tawa menakutkan dan mencekam.


"Ha ha ha ha Serakah? Siapa yang kau sebut serakah Lex? Kau dapatkan cinta Amelia, lalu kau dapatkan anak dari Bella?" Bima bermonolog lirih pada dirinya sendiri.


Dendam itu akhirnya bergulung, memakan hati nurani Bima.


"Bella, kau akan kembali padaku!"


Amelia mengetuk-ketukan layar ponsel miliknya, berkali-kali ia mencoba menghubungi Bima. Ini sudah tiga hari dan pria Wijaya tu belum juga datang ke kantor. Tidak biasanya Bima tidak Datang seperti ini. Apa telah terjadi sesuatu? Apa Bima sakit? Tapi biasanya Bima akan langsung menghubunginya.


Amelia menghela nafas, iris hijaunya melirik ke arah Handphonenya sebentar dan berpikir.


"apakah aku harus minta tolong kepada Bella!"


Dengan cukup keberanian, Amelia menghampiri Kediaman Bella dan Alex, Dengan Ragu-ragu ia menekan tombol bel apartemen itu.


Ting Tong.


"Siapa!" teriak Bella di dalam sana


"ka kau!" Kagetnya saat melihat Amelia yang berdiri di depan Apartemen nya


"Maukah kau membantuku?" ucap Amelia lirih, memasang wajah sesedih mungkin untuk meluluhkan Bella

__ADS_1


"Ada apa?" Bella sepertinya mulai terpengaruh.


"Menjenguk Bima"


Baru saja Amelia menyebut kata Bima, membuat Bella kelabakan.


"Apa Bima sakit?"


Amelia mengangguk, "Kurasa begitu, kumohon temani aku ke apartemennya. Oke?"


Bella ragu, tidak mungkin Alex akan mengijinkannya menemui Bima, Tapi Amelia sudah memohon padanya, lagi pula bagaimana bila benar Bima jatuh sakit? Apa dia akan diam saja?


"Aku akan menanyakannya pada Alex dulu."


"Tidak perlu!" Amelia segera berseru, menghentikan Bella yang hendak mengambil ponselnya.


"Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa."


"Bukan begitu Amelia! Hanya saja a-aku..."


"Kau tentu tahu Alex tidak akan mengijinkan mu."


Bella menundukkan kepalanya, memang benar. Alex tidak akan mengijinkannya. Tapi Bella juga jadi merasa khawatir.


"Amelia, aku..."


Toko Kue.


"Bagaimana Bella?" Amelia tersenyum senang, memilih beberapa kue manis yang terpajang di etalase.


"Ummm... Kurasa aku akan membeli cheese cake saja."


"Oke, ayo kita bungkus dan bawa ini semua untuk si bodoh Bima!" Amelia tertawa senang.


Sedangkan Bella sejak tadi merasa gusar, ia terus saja memikirkan Alex. Bella meninggalkan Alex, dan ini jelas tidak akan baik untuknya. Bagaimana bila Alex marah padanya?


Amelia menatap Bella bingung, sebuah kotak kue yang sejak tadi disodorkan Amelia tidak juga diambil Bella.


"Bella?" Amelia memanggil, tapi Bella masih diam sembari menunduk.


"Bella!" seru Amelia lagi, kali ini Bella langsung menegakkan wajahnya.


"Ma maaf Amelia, aku melamun." Bella tersenyum kikuk, mengambil kotak kue miliknya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Amelia

__ADS_1


"Ya, aku baik-baik saja." Bella menganggukkan kepalanya,, Ia hanya takut jika Alex marah.


__ADS_2