Dia Milikku, Bukan Milik Mu (Alex & Bella)

Dia Milikku, Bukan Milik Mu (Alex & Bella)
Hamil tua


__ADS_3

Sakit. Untuk Bima ini benar-benar menyakitkan. Bella begitu dekat dengannya, tapi tidak sedikit pun Bima bisa menggapainya.


"Lama tidak berjumpa, Ibu" Ucap Bima ketika ia berlutut untuk meletakkan bunga di atas makam ibunda Bella. Bima tersenyum kecut, "Masih bolehkah aku memanggilmu begitu ketika aku telah melakukan dosa pada Bella?"


Sudah jelas tidak, Bima tahu itu. Mungkin bila ibunda Bella masih hidup, Bima akan dimaki habis-habisan.


Bima berucap lirih, "Aku ingin minta maaf atas semua dosa yang ku perbuat pada Bella. Aku telah mengecewakannya dan aku sungguh menyesal atas segala yang kulakukan." Ada jeda. "Tolong doakan aku supaya bisa memperbaiki segalanya. Restui upayaku Ibu. Kumohon!"


Doa yang terpanjat dari hati Bima terdalam, sungguh pria bodoh itu sangat berharap Dewa mau mengabulkannya, dan Ibunda Hinata juga mendukungnya di alam sana.


"Aku memang bodoh, tapi aku juga tidak bisa merelakannya."


Tahukah kau Bima Wijaya? Kau sangat egois.


Beberapa bulan berlalu dengan damai, tidak ada masalah dalam rumah tangga Alex dan Bella,, Yah walaupun ada sedikit perdebatan kecil yang terjadi kepada Mereka akhir-akhir ini.


Mau bagaimana lagi, sikap Alex yang Posesif dan sering melarang Bella untuk melakukan ini itu membuat Bella sangat kesal, Bella tau Alex khawatir karna Beberapa Minggu lagi bayi mereka akan lahir.


Tapi sikap Alex yang tidak mengijinkan Bella untuk turun dari ranjang membuat Bella kesal, Seperti saat ini jam 11 siang mereka masih berbaring di atas ranjang sambil berpelukan.


Sebulan ini Alex tidak pergi ke kantor Karna khawatir jika terjadi apa dengan Bella jadi semua bekerja Kantornya ia serahkan kepada Kakak Addison.


Bella masih ingat bagaimana kesalnya Sulung Graham itu saat Alex dengan entengnya bilang kalo ia menyerahkan pekerjaan kantor kepadanya.


"Apa kau gila Alexander, Aku disini juga mengurus perusahaan Graham, jadi bagaimana mungkin aku harus mengurus perusahaan Allison mu!" Geram Addison diseberang telepon


"Aku tidak mau tau Addison, kau harus membantuku jika tidak aku akan bilang ke ayah, Ayah pasti akan mendukungku karna dia juga pasti khawatir dengan cucunya!" Ujar Alex santai


"Tck Baiklah, aku akan membantu mu tapi kau harus memanggil ku kakak mulai sekarang!" Addison menghela nafas lelah


"Tidak mau!" Ujar Alex seenaknya langsung mematikan telponnya membuat Addison di seberang sana mengumpat kesal.


"Alex, Aku mau turun!"


"Apa kau lapar?" Tanya Alex dan di jawab gelengan kepala oleh Bella


"Apa kau Mau ke kamar mandi!" Dan lagi gelengan kepala Bella menjawab pertanyaannya


"Jika keduanya tidak, itu artinya kau tidak boleh turun!" Alex memeluk perut Bella yang sudah membuncit besar bagaimana tidak kini istrinya sedang Hamil tua.

__ADS_1


"Aku tidak mau mengambil resiko jika kau dan anak kita kenapa-napa!" Alex keras kepala


"Ayolah Alex, ini sama saja kau menyiksa anak dan istrimu!" Ucapan Bella membuat Alex mengernyitkan dahinya


"Aku tidak suka dengan ucapan mu Bella, Bagaimana mana bisa aku menyiksa anak dan istriku, aku hanya menghawatirkan kalian saja!" Balas Alex


"Baiklah-baiklah, Tapi apa kau tidak dengar apa kata dokter kemarin?"


"Apa?"


"Dia bilang aku harus lebih sering beraktivitas agar aku bisa melahirkan dengan lancar!" Ucapan Bella membuat Alex terdiam


"Ayolah Alex, Apa kau mau aku kesakitan saat melahirkan nanti?" Bella merayu


"Saaaayaaaang Ayolah!" Dan berhasil rayuan sayang Bella akhirnya meluluhkan Hati seorang Alexander Graham yang dikenal dengan keangkuhannya


"Baiklah, Jika kata dokter itu baik untuk kamu aku setuju!" Ujar Alex memalingkan wajahnya yang memerah hingga membuat Bella terkekeh pelan.


Bella pun dengan hati-hati menuruni Ranjang itu dengan di ikuti oleh Alex.


"Wah rasanya sudah lama aku tidak menghirup udara segar seperti ini!" Ujar Bella yang berdiri diluar Rumahnya dengan Alex yang juga berdiri disampingnya.


"Aku memang baru keluar dari penjara, Penjara cinta tuan Alexander Graham!" Batin Bella terkekeh pelan.


Bima baru saja sampai ke Rumahnya jam delapan malam, ia terkejut ketika mendapati Amelia tengah menunggunya di depan pintu.


"Amelia?"


Gadis berambut pendek itu menampakkan senyum tipis.


Dua gelas kopi panas dihidangkan Naruto di meja, ia menatap Amelia yang terlihat sembab.


"Kau masih menangisi Alex?"


Amelia hanya mengangguk, ia tidak mungkin bisa berbohong.


"Aku tidak bisa Bima aku tidak sanggup!"


"Aku mengerti!" Bima menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kau benar-benar sudah menyerah Bima?" tanya Amelia lirih.


Bima menghela nafasnya, sinar matanya meredup. Ia teringat pada senyuman Bella kala wanita itu mengucapkan sumpah saat pernikahan mereka dulu.


"Sepertinya begitu!" gumam Bima Mata Amelia menatap Bima.


"Bila ada kesempatan kau mau?"Bima terkekeh.


"Tidak akan ada lagi kesempatan Amelia, mereka sudah benar-benar akan memiliki bayi Lagi pula mungkin sudah waktunya kita menyerah ya kan? Kau juga harus melanjutkan hidupmu Amelia."


Obrolan ini begitu sulit bagi Bima. Tak dapat dipungkiri kalau pria itu masih mengharapkan Bella, ia ingin memisahkan mereka sekali lagi. Tapi Bima tidak tahu harus bagaimana, ia sudah kehilangan harapannya.


"Kita masih memiliki kesempatan Bima, ku jamin itu."


"Jangan membual Amel" Sekali lagi Bima memperingati, ia hanya tidak ingin baik dirinya dan Amelia terlalu berharap dan Jatuh.


"Tidak, sekarang giliranku Bima. Kini biar aku yang bertindak."


"Jangan macam-macam Amelia! Bella dan Alex sudah bahagia! Bila kau mencintai Alex, seharusnya kau juga ikut senang!"


"Kau tidak mengerti Bima, aku lebih memilih melihat Alex sendirian bahkan mati. Daripada harus melihatnya dengan wanita lain! Aku tidak rela!" Amelia mulai berteriak histeris.


"Tenanglah Amelia, Kita pasti bisa melewati ini semua! Oke?" Bima mengguncang bahu Amelia dan langsung membawanya ke pelukan.


"Suttt kita pasti akan baik-baik saja!"


"Ka Kau juga berfikir begitu juga kan Bima?" Amelia di tengah tangisannya.


"Tidak." Bohong


"Asal Bella bahagia, aku juga akan bahagia. Aku sudah sangat menyakitinya Amel."


Semua yang Bima katakan adalah bohong, dia sama halnya dengan Amelia, Ia tidak ingin Bella bersama pria lain Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur,, dia Lebih baik belajar mengikhlaskannya Karna dia tau dirinya sudah tidak memiliki harapan


"Aku janji Bima, masing-masing dari kita akan menerima kepuasan yang sama."


Bima segera melepaskan pelukannya pada Amelia, memandang Wanita itu lekat. mata sang model itu kini tampak kelam dan kosong.


"Kau bicara apa Amel?" Amelia mengulum senyum tipis.

__ADS_1


"Aku hanya mempunyai firasat yang baik soal ini!" Entah kenapa sesaat, Bima menggantungkan harapannya pada Amelia.


__ADS_2