
"Bo bos, Hari ini ada Klien penting dari Inggris yang datang untuk meeting!" Ujar Sekretarisnya disana takut-takut
"Mana Addison?"
"Tuan Addison dari Tadi tidak datang kekantor saya sudah mencoba menelponnya, tapi nomornya tidak aktif!" Tidak ada cara lain buat Sekretarisnya, ia hanya bisa mengganggu waktu Bosnya ini Karna jika tidak klien Penting ini akan marah
"Tck, Baiklah aku akan kesana dalam 20 menit!" Ujar Alex menutup teleponnya
"Ada apa Sayang?" Tanya Bella mengelus lengan suaminya
"Addison bodoh itu kabur, dan aku harus menemui klien sekarang!"
"Kalo begitu pergilah cepat, jangan buat Klien menunggu terlalu lama!" Ujar Bella membuat Alex dengan cepat menuruni ranjang
"Alex?"
"Hm!" Balas Alex yang sedang mau masuk kedalam kamar mandi
"Bo bolehkah aku pergi ke taman kota hari ini?" Tanya Bella
"Tidak boleh!"
"Kenapa?" Tanya Bella sedih
"Disana berbahaya!"
"Kali ini saja sayang, kau boleh menyuruh pengawal mu untuk mengikuti ku, Aku sangat ingin pergi melihat Bunga-bunga Segar disana!" Rayu Bella memandang wajah suaminya dengan berbinar membuat Alex tidak kuat untuk menolak.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji kau harus pulang cepat dan jika kau lelah kau harus istirahat!" Ujar Alex membuat Bella tersenyum bahagia
"Iya aku janji!" Ujar Bella mengangkat jari kelingkingnya.
Taman Kota.
"Cantiknya..." Gumam Bella melihat Bunga-bunga yang berwarna-warni sembari tersenyum cerah.
"Hai, Bella."
Bella langsung memalingkan wajahnya cepat pada seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di sampingnya. Dia tersenyum, iris hijaunya berkilat.
"Amelia? Sedang apa di sini?"
"Memberimu selamat, Bella. Maaf karena tidak datang di pernikahanmu dulu!"
Seharusnya Bella merasa senang karena Bella sudah mau mengucapkan maaf dan selamat. Bukankah hubungan mereka baik-baik saja?
Ya memang seharusnya begitu, tapi melihat Bella tiba-tiba ada di sini dan melihat pancaran auranya, sebuah alarm berbunyi memperingati. Hatinya merasa tidak tenang, jantungnya bertalu keras, dan pertama kalinya ia merasa takut pada Amelia.
__ADS_1
"Terima kasih, Amelia." Bella memilih untuk mengabaikan, ini tempat umum. Banyak orang di sini, jadi dia akan berteriak meminta tolong bila Amelia macam-macam.
Kediaman bersama mereka beberapa saat. Bella memandangi bunga-bunga taman, dan Amelia masih berdiri di sisinya.
"Kau juga sedang apa di sini, Amelia?" Bella memulai pembicaraan lagi, keheningan hanya membuat Bella semakin cemas.
"Aku datang untuk memberikan sebuah kejutan untukmu." Amelia melirik pada Bella, melihat perut buncit Bella yang besar. Tangan putih Bella sejak tadi terus mengelusi perutnya. Ada anak Alex di sana, darah daging pria yang hampir seumur hidupnya ia cintai.
"Benarkah?" pertanyaan Bella yang dibarengi sebuah senyuman menyadarkan Amelia dari lamunan.
"Apa itu?"
"Kau akan mendengarnya sebentar lagi." Amel tersenyum, matanya menyipit.
"Dengar?" Bella bertanya-tanya, hadiah apa yang perlu di dengar? Lagi pula sejak tadi Amelia tak membawa apapun.
BLARRRRRRR
Sebuah ledakan yang menggema, taman yang bergetar, para pengunjung yang berhamburan.
Bella membeku, ia terlalu takut dan kaget.
"A ada apa ini?"
"Ledakan." Amelia bergumam.
"Kita harus lari Bella! Kita harus ke mobil ku!" Amelia menarik tangan Bella, dapat dirasakannya getaran yang kuat. Bella benar-benar ketakutan.
"Pengawal! bagaimana dengan para pengawal ku?!" bella mulai panik.
"Tidak ada waktu!" Amelia terus melihat ke sekeliling, berjalan terus yang kini penuh dengan orang-orang yang panik. Beberapa kali mereka harus bertabrakan dengan orang-orang yang sama-sama panik.
"Itu dia!" Amelia melihat mobilnya yang terparkir nyaman disana.
"Di sini! Tolong Minggir! Dia tengah hamil!" Ujar Amelia saat orang-orang terus saja saling menabrak
Bella mulai menangis, ia ketakutan bukan main. pengawal yang di siapkan Alex dan dirinya terpisah, dan suara alarm yang terus mendengung menambah kepanikan. Belum lagi rasa sakit perutnya yang perlahan semakin terasa.
Perusahaan Allison.
Alex tengah melalukan penilaian pada proposal salah satu klien. Entah kenapa ia merasa tidak tenang dan terancam. Pikirannya mulai tidak bisa fokus, ia meninggalkan Bella sendirian tanpa pengawasan darinya, ia tidak mempercayai pengawalnya
Ia ingin sekali cepat-cepat keluar dari ruang meeting ini.
Lagipula seharusnya ia tidak perlu melakukan ini. Bersama dengan Bella di rumah adalah rencananya, juga bagian yang seharusnya (tidak ada pekerjaan).
Kenyataannya, Sekarang seorang klien yang sudah lama menjadi rekan yang baik bagi perusahaannya kini memaksanya harus ada disini
__ADS_1
"Dasar Addison bangsat!" Batin Alex karna kakaknya itu pasti Sekarang sedang bersembunyi.
Ini proyek yang besar, dan klien tidak mau menunggu. Terlalu beresiko juga bila Alex menolak, ini mengenai nama baik dirinya juga perusahaannya.
"Anda tampak gelisah." Bisik si klien besar, sumber masalahnya.
"Ya, aku meninggalkan istriku sendiri. Bisa kita cepat akhiri?" Alex tampak mengomel, ia tahu ini buruk. Tapi ia terlalu kesal sekarang.
"Bos, Tadi ada telpon dari pengawal anda jika taman yang Nona Bella kunjungi terjadi ledakan besar disana!" Ujar Sekretarisnya membuat Alex membulatkan matanya
"Sial!" Alex segera berlari ke luar ruangan, Tanpa memperdulikan kliennya yang masih ada disana
"Tuan Alexander!" Rekannya tadi Richard segera menarik tangan Alex, Alex Pun dengan cepat menghentakkan tangan Richard.
"Aku harus mencari istriku!"
"Tapi, Tuan Alex"
"DIA TENGAH MENGANDUNG!" Teriakan Alex dengan jelas membuat Richard mundur, dan pria yang tengah kesetanan itu berlarian keluar dari ruangan rapat itu.
Kosong.
Bella tidak ada di taman. taman itu kini sebagiannya hancur karna ledakan tadi
"Be bella"
Benar, tentu saja. Tidak mungkin Bella masih di sini, dia juga pasti menyelamatkan diri. Tapi ke mana?
"Kumohon, kau harus baik-baik saja!"
Amelia memandangi Bella yang tampak sedang meringis sambil memegangi perutnya.
Mereka sudah cukup jauh dari taman, dan seharusnya mereka sudah aman
"Kau baik-baik saja Bella?"
"Perutku!" Isak Bella membuat Amelia mempercepat laju mobilnya ke rumah sakit terdekat
"Air ketubannya pecah!" Amelia melihat di bawah kaki Bella dan tiba-tiba dia ikut panik.
"Ba bayiku bertahanlah" Bella berdoa dalam rasa sakit.
"Sakit!" rintih Bella menangis, tubuhnya berkeringat banyak. Tangannya tak henti meremas tangan Amelia
"Kau akan baik-baik saja, aku janji"
Tak lama mereka tiba di rumah sakit. Brankar Bella diturunkan menuju UGD. Seorang Dokter dan dua suster menghampiri mereka.
__ADS_1
"Air ketubannya pecah!" Amelia masih mengikuti Bella, bahkan tangan Bella masih belum mau lepas dari Amelia, membuat Amelia seperti merasa dibutuhkan.