
Sudah 50 menit sejak Isabella pergi untuk menerima telepon dan sampai sekarang ia tidak kunjung datang membuat Giorgino penasaran.
Dan setelah menekan semua gengsinya ia pun beralasan kepada semua orang ingin pergi ke toilet pada hal ia ingin pergi melihat Isabella.
"Baiklah Alfian sampai besok!" Ujar Isabella menutup teleponnya, Senyuman nya masih bertengger di wajahnya membuat seseorang di belakangnya terbakar amarah.
"Kau suka padanya?" Ujar Gino tiba-tiba dengan nada yang sinis. Dengan cepat Isabella langsung membalikan badannya menghadap Giorgino.
"E-eh? Tidak…" jawab Isabella tergagap kaget karena ia tidak tau jika Gino ada di belakangnya
Gino merasa Isabella berbohong karena melihat rona merah di kedua pipi Gadis itu. Padahal, nih, Isabella tuh merona karena ditanyain seperti itu…
Ketahuan, deh, Giorgino cemburu….
Keesokan harinya, di Dalam ruangan kelas itu kini Giorgino sedang menatap Alfian yang sedang berbagi senyum dengan Isabella sedangkan Giorgino menatap tajam pria itu tanpa berkedip. Dia ingin sekali memukul pemuda yang bernama Alfian itu sekarang.
Memotong bibirnya agar tidak dapat tersenyum lagi. Tapi karena ia masih siswa dan ini di lingkungan sekolah maka ia tidak bisa melakukan itu, Sial sekali kenapa hari ini Sahabat bodohnya tidak datang ke sekolah.
Sakit? alasan yang begitu Klise menurut Giorgino.
Alfian yang merasa ditatap oleh Gino membalas tatapan gino. Ia bisa merasa jika Tatapan Gino seperti mengatakan "Menjauh dari Isabella!" sedangkan tatapan Alfian berarti "Siapa, kamu?". Mereka saling menatap tajam. Tidak ada yang ingin mengalah. Isabella yang berada di tengah-tengah mereka berkeringat dingin sambil bertanya-tanya dalam hati
"Mereka kenapa?"
Suara Guru mengakhiri perang mereka dan membuat Isabella menghembuskan nafas menghembuskan nafas lega….
Waktu Istirahat pun tiba. Alfian terlihat menikmati makanannya. Tidak seperti Alfian, Gino malah sama sekali tidak nafsu makan, walau bekal yang ia bawa adalah makanan favoritnya.
"Gino kau tidak makan?" tanya Isabella yang melihat Gino tidak menyentuh bekalnya sama sekali.
"Aku tidak lapar."
Setelah mengucapkan kata itu dengan penuh tekanan, Gino bangkit berdiri kemudian pergi. Hatinya seperti sedang dibakar oleh api cemburu. Terasa sungguh menyakitkan.
"Giorgino cemburu." Ujar Alfian dengan tiba-tiba, membuat Isabella terbatuk-batuk karena kaget dengan apa yang diucapkan Alfian,
Sedangkan di atas atas Sekolah sekarang Giorgino sedang duduk menyandarkan dirinya di tembok pembatas sambil mengeluarkan Rokoknya untuk ia hisap.
__ADS_1
Sebenarnya Ibu dan ayahnya sangat melarang keras ia agar tidak merokok,, ibu nya selalu bilang jika Rokok itu tidak baik buat tubuh namun Gino hanya mengiyakan saja tanpa menurutnya.
Gino Akan tetap ngerokok saat ia merasa frustasi atau marah, seperti saat ini.
Ia terus berada di atas atap sampai suara Bell pulang pun tiba.
"Aku pulang!" Ujar Giorgino lesu
"Kakak terlambat!" Ujar Icha saat melihat kakaknya yang baru saja pulang dengan wajah ditekuk
"Mana ibu?"
"Ibu di dapur!" Ujar Icha kembali memfokuskan dirinya ke depan Tv, menonton acara kartun kesukaannya
Giorgino pun berjalan naik kelantai atas, namun baru beberapa anak tangga yang ia naiki tiba-tiba suara Ibunya menghentikan nya.
"Gino!" Panggil Bella
"Nanti setelah kamu bergantian pakaian dan makan, tolong ibu antarkan kue ini ke Apartemennya Tante Hanoel yah!" Ujar Bella sambil memperlihatkan Kotak segi empat yang cukup besar.
"Tidak bisa, ini kue yang sangat Spesial jika ibu menyuruh supir itu akan kurang sopan sayang!" Ujar Bella membuat Gino Menghela nafas lelah
"Baiklah ibu, terserah ibu saja!" Ujar Gino menghela nafas pasrah, dan iapun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi
Dan disinilah ia sekarang berdiri di depan pintu kamar apartemen Isabella dengan Sekotak kue yang ia bawa.
Entah kenapa ia ragu dan malas untuk memencet Bell itu dari tadi, Namun Kue buatan ibunya harus sampai ke tangan Tujuan jika tidak ibunya pasti akan sedih.
Setelah menguatkan dirinya menghirup dan membuang nafas dengan tenang iapun langsung memencet tombol Bell itu.
Setelah itu ia pun menunggu orang didalam sana membukakan pintu namun sudah cukup lama ia menunggu belum juga ada yang membuka pintu itu.
Dan mau tidak mau, Gino pun terus menekan Bell itu terus menerus sampai Seorang wanita sebaya dengan ibunya yang sedang berjalan di lorong apartemen menegurnya.
"Kau sedang mencari siapa Anak muda?" Ujar Orang itu berjalan mendekati Giorgino
"Permisi Tante, apa orang di dalam apartemen itu ada?" Ujar Gino sedikit kesal menunjuk pintu apartemen Isabella
__ADS_1
"Ah, Orang Korea itu sudah kembali ke negara mereka, dan hanya gadis seusia mu saja yang masih tinggal di sini,, Dia gadis yang baik!" Ujar Ibu itu memuji
"Ah iya, tadi aku berjumpa dengan gadis itu, dan dia bilang akan pergi ke suatu tempat kalo ngga salah dia bilang dia akan pergi ke Galeri lukisan temannya!" Ujar Ibu itu memberitahu
"Benarkah? Kalo begitu Terimakasih Banyak Tante!" Ujar Gino tersenyum dan langsung pergi meninggalkan tempat itu
"Menyebalkan sekali!" Gumam Gino kesal memasuki Lift sambil mengeluarkan Handphonenya.
Ia pun memencet nomor seseorang untuk ia telepon.
"Tolong bantu aku mencari Seseorang!" Ujarnya dan setelah mendengar Jawaban dari orang itu, Giorgino pun menutup teleponnya
Giorgino dengan cepat mengendarai mobilnya saat deretan pesan yang dikirim orangnya tadi, tempat dimana Isabella berada.
Sedangkan di tempat lain Isabella sekarang sedang duduk bersama Alfian di luar teras Galeri lukisannya,, mereka duduk berhadapan sambil berbincang-bincang di temani oleh Teh dan kopi hangat di depan mereka.
"Jadi... Si bodoh itu masih mengira jika aku adalah Kekasih mu?" ujar Alfian kepada Isabella yang sedang menyeruput teh nya
Isabella menganggukan kepalanya.
"Benar!"
"Dia benar-benar Kekanak-kanakan!" balas Alfian Terkekeh pelan
"Dia tidak berubah!" Ujar Isabella lagi
"Dan itu juga karena mu!" Ujar Alfian ambigu Membuat Isabella mengernyitkan dahi nya bingung
"Maksudmu?"
"Waktu Kita SMP, kalo ngga salah saat itu kita masih berusia 14 atau 15 tahun!" ujar Alfian tersenyum jahil membuat Isabella terkekeh pelan saat mengingat kejadian itu
"Ah benar, Wajahnya saat itu sangat kesal saat ia kalah dalam adu karate saat melawan ku!" Ujar Isabella tersenyum lebar namun ada raut getir yang ia sembunyikan
"Bukankah saat itu sangat lucu, dia yang menantang dia juga yang kalah!" ujar Alfian tertawa ngakak, Sedangkan Isabella hanya tersenyum tipis
"Ah iya satu lagi, Apakah kamu masih mencintainya?" Ujar Alfian setelah menghentikan tawanya, Ada hening sesaat saat Alfian menanyakan pertanyaan itu.
__ADS_1