
Di dalam mobil mewah Ferrari Hitam itu kini ada sepasang suami istri yang duduk masih dengan keadaan membisu,, Si istri yang tidak kunjung berbicara membuat Si suami tidak tenang.
"Bella? Apa kamu marah kepada ku?" Tanya Alex akhirnya memecah keheningan yang mencekik dirinya dari tadi
"Aku tidak marah, Aku hanya sedikit tidak enak mendengar apa yang diucapkan oleh Bima tadi!" Ucapan Bella membuat Alex bernafas lega
"Tidak usah dipikirkan sayang, Nanti Anak kita akan sedih!" Alex Mengelus perut Bella yang sudah mulai membuncit itu dengan tangan kirinya yang tidak memegang kemudi membuat Bella tersenyum lembut kearah Suaminya.
Yah dia hanya harus percaya kepada suaminya, dia yakin apapun yang dilakukan Alex dimasa lalu, ia melakukannya pasti karena Alex terlalu mencintainya.
Beberapa hari kemudian.
Rumah pribadi Alex
Bunga-bunga berwarna putih itu dirangkai dengan baik oleh tangan lentik Bella, Memberikan sebuah pita besar berwarna merah sebagai pelengkap karangan bunganya.
Bella tersenyum puas, dengan gerakan halus Bella menaruh bunga itu di atas meja.
"Berangkat sekarang?"
Bella mengangguk, menanggapi pertanyaan Alex. Segera Bella mengambil karangan bunganya, dan berjalan ke arah Alex yang menunggu di ambang pintu.
"Aku baru pertama kali mengunjungi makam ibumu." Ucap Alex di dalam mobil. Mengendarai mobil mewahnya menuju makam keluarga Lemos
"Kau gugup?" Bella sedikit terkikik.
Alex mengangkat bahu, "Sedikit."
Kini Bella benar-benar tertawa, tawa lepas yang membuat Alex mengernyitkan alisnya.
"Hahahaha..." Bella mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata. "Astaga!" ada jeda. "Tidak pernah aku sangka bahwa seorang Alexander Graham bisa gugup."
"Hentikan itu." Alex terdengar sinis. "Itu bukanlah hal lucu."
Bella menggeleng. "Tentu saja lucu Alex. Ini hal langka."
Wajah Alex tampak sebal, agak kesal karena Bella menertawainya sepuas itu. Tapi mungkin bukanlah hal buruk, bisa melihat Bella tertawa karenanya. Karena Alexander Graham.
Toko bunga. 08:33 pagi
__ADS_1
Bima menautkan penampilannya di depan cermin besar. Mengagumi pakaian jas resminya yang berwarna hitam dengan kemeja bergaris dan dasi kupu-kupu berwarna hitam.
"Apakah ini sudah cukup?" Tanya Bima pada dirinya sendiri. "Bunga, tentu saja. Aku akan mampir ke toko Ino dulu."
Lalu pria itu membawa kunci mobilnya, mengendarai mobil Sport mewahnya di jalanan kota Tokyo.
Suara deringan bel membuat Paman pemilik toko menoleh, ia sedikit mengernyit melihat Bima masuk dengan penampilan cukup formal baginya. Bima orang yang urakan, dan pakaian itu jelas bukanlah gayanya.
"Yo, Paman!" Sapa Bima dengan nyengir khasnya. Dia sudah sangat dekat dengan paman yang punya toko bunga ini, karna paman ini salah satu teman ayahnya
"Wah, ada acara khusus Bima? Tak biasanya kau memakai pakaian se formal itu."
Bima terkekeh di depan meja kasir tempat Paman itu berdiri. "Aku pesan bunga krisan, tolong bungkus dengan apik."
"Untuk orang tuamu?"
Bima menggeleng. "Bukan, tapi untuk Ibu Bella."
"Begitu?" Paman itu mengangguk-angguk sambil melenggang melewati Bima, menggapai beberapa tangkai bunga krisan di rak tokonya bersama peralatan lainnya.
Paman yang sudah mau memasuki kepala empat itu merangkaikan bunga sambil tersenyum. "Seharusnya kau ke sini bersama Bella tadi."
Mendengar nama Bella disebut membuat Bima cepat bereaksi. "Bella kemari?"
Bima terdiam mendengar pertanyaan Itu ditanyakan kepadanya.
"Aku sedang berusaha memperbaikinya." Paman itu mendengus mendengar jawaban Bima.
"Jangan pernah kau sakiti Bella, Bodoh Kau tahu bagaimana dia sangat menyukaimu sejak lama." Laki-laki tua itu sebal sambil memberikan buket bunga pesanan Bima
Bima tersenyum tipis. "Ya, aku tahu."
Pemakaman.
Bella meletakkan dua buah buket bunga di atas makan ibundanya. Dirinya berlutut di dekat makam saling berhadapan dengan Alex. Berdoa dalam keheningan.
Setelah selesai Bella jalan bersisian dengan Alex meninggalkan makam.
"Doa apa yang kau panjatkan Alex?" Bella tersenyum, sejujurnya Bella memang penasaran karena Alex ternyata berdoa lebih lama darinya.
__ADS_1
"Aku berdoa supaya Ibumu tidak marah padaku." Ucap Alex pelan. Mendadak Alex menghentikan langkahnya, menarik tangan Bella untuk berhenti juga.
"Aku berdoa atas restunya untuk kita. Sama seperti Ayahmu, Bella"
Oh tidak! Kata-kata Alex membuat Bella merona hebat. Tidak aneh bila Alex menjadi Casanova, betapa lihai Alexander Graham berkata-kata. Atau itu karna Bella yang terlalu pemalu?
Tapi nyatanya Bella malah tersenyum, senyuman dengan wajah merona yang sangat disukai Alex. Jangan lupakan tangan Bella yang meremas lembut tangan Alex.
"Kau ternyata menyebalkan." Kata Bella malu
"Kau tidak se pendiam yang orang lain katakan ya?" Bella terkikik.
Alex hanya mengedipkan bahu, menarik tangan Bella lembut untuk berjalan bergandengan dengannya.
"Aku lapar."Bella mengangguk.
"Kita buat kare, bagaimana?" Usul Bella
"Selama itu buatanmu."
Bella terkekeh, entah kenapa ia merasa Sasuke memanglah orang baik. Mengesampingkan bagaimana Alex dulu, toh nyatanya Alex benar-benar mencintainya. Jadi rasanya Bella benar-benar tidak menyangka bahwa menantikan dirinya menikahi Alex akan se menyenangkan ini.
"Bima."
Bella terkejut ketika Alex mendesis kan nama yang membuat Bella tidak nyaman. Ia mendongak dan melihat wajah Alex yang mengeras. Lalu arah pandangan Bella mengikuti arah mata Alex.
Bella beringsut bersembunyi di belakang punggung Alex ketika ia melihat Bima yang menatap tajam pada dirinya.
"A Alex" Bella memanggil takut.
Alex tidak mengalihkan pandangannya pada Bima, tapi Alex mengeratkan genggamannya pada tangan Bella. Berharap bahwa hal itu dapat menenangkannya.
"Apa maumu, Bima?" Tanya Alex ketus.
Sedangkan pandangan Bima terus tertuju pada Hinata yang kini ada di balik tubuh Sasuke. Ini menyakitkan untuk Bima, bagaimana dulu Bella selalu mengikutinya seperti anak ayam. Tapi kini Bella malah bersembunyi darinya.
"Bella." Ingin rasanya Bima bergerak maju dan menarik Bella dari Alex. Amarah kecemburuannya sudah menumpuk di ubun-ubun. Lalu apa? Setelah Bella direbut dengan paksa, apa yang akan terjadi? Bella akan membencinya seumur hidup. Bima tidak menginginkan hal itu.
Hubungan antara dirinya dan Bella kini seperti musuh bebuyutan. Ironis sekali, betapa cepat hubungan mereka berbalik seperti ini. Bima merindukan senyum Bella, bagaimana gadis itu selalu ada untuknya. Bagaimana Bella benar-benar begitu mencintainya. Andai waktu bisa diputar lagi, Bima rela memberikan apa pun untuk memperbaikinya.
__ADS_1
"Pergilah Bima, jangan ganggu kami."
Bima menggertakkan giginya dalam diam. Dengan amarah dan rasa kecewa yang menjadi, Bima berjalan lurus dengan menahan dirinya untuk sedikit saja menoleh pada Bella ketika ia melewati Alex.