
Restoran.
"Kau tidak ingin makan sesuatu yang lain?"
Bella mengernyit, menghentikan acara makannya sebentar. "Aku ingin makan Pancake saja!"
"Apa kamu Tidak mau makan daging seperti Steak, dan Shabu-shabu Mungkin" Ujarnya berharap
"Tidak, aku tidak suka."
Wajah Alex langsung muram. Haruskah Bella sedang ngidam kan? Setidaknya dia harus menyukai makanan yang juga disukai Alex kan?. Apa belum saatnya Bella ngidam?
Tapi setidaknya ada bagusnya juga ciri-ciri ibu hamil yang tidak nampak pada Bella. Dia tidak muntah dan mual-mual, jadi tidak akan menyusahkan Bella.
"Boleh kami bergabung?"
Bella dan Alex menengok bersamaan, dan mendapati Bima dan Amelia yang tengah berdiri di samping mereka.
Bella langsung mengalihkan pandangannya, lalu melanjutkan makan tanpa memperdulikan mereka berdua.
"Hm" Jawaban gumaman itu langsung dibalas tendangan oleh Bella pada kaki Alex. Dengan cepat wajah dingin itu meringis tertahan.
"Istri ku galak sekali, Apa Ini bawaan jabang bayi!" Batin Alex menyentuh kakinya yang di tendang oleh Bella tadi.
Amelia tersenyum, dan dengan cepat duduk di samping Bella, sedangkan Bima duduk di samping Alex.
"Sudah lama ya kita tidak makan bersama seperti ini." Bima tertawa, tanpa disadari oleh Bella iris Bima terus melirik ke arahnya.
"Bagaimana kabarmu Bella?.
Bella diam, dirinya bingung harus menjawab apa. Keringat dingin juga mulai membasahi wajah dan tubuhnya.
"Bella sangat baik, bahkan setelah kami menikah pun Bella semakin baik!" Ujar Alex membuat Bima sakit hati karna Alex mengungkit pernikahan yang tidak ia hadiri kemarin.
Bella tersenyum kecil, bersyukur karena Alex membantunya menjawab.
__ADS_1
"Apa perusahaan ibu mu baik-baik saja Bella?" Bima langsung mengeluarkan suara cemprengnya, dan suara cempreng Temannya itu dengan sukses membuat Alex sebal.
"Baik-baik saja, makanya aku kembali." jawab Bella tenang.
"sejak kapan kau mengenal Bella Alex?" kini Amelia yang mulai memancing.
"Sejak kecil, kami sudah di jodohkan sejak kecil dan akhirnya perjodohan itu baru bisa terjadi kemarin!"
Amelia dan Bima berubah pucat.
"Ja jadi kalian dijodohkan?" tanya Amelia, hatinya perih tiba-tiba.
"Ya, bahkan sebelum aku bertemu kalian, aku sudah lebih dulu mengenal Bella dan sejak kecil kami sudah dijodohkan."
Bima tertawa mengejek. "Sudah tidak jaman kan? dijodohkan Seperti itu."
Alex meletakkan sumpitnya, "Karena aku memang menyukai Bella, makanya aku mau menerimanya."
Jawaban santai Alex langsung menghujam jantung Bima dan Amelia. Bahkan mereka berdua tidak lagi berbicara, tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.
"Aku selesai, maaf kami duluan." Alex berdiri diikuti oleh Bella
Merasa Alex dan Bella sudah pergi, Bima menegakkan kepalanya dan menatap sayu Amelia yang masih menunduk itu.
"Itu bohong kan? aku tidak pernah mendengar bahwa keluarga Lemos dan Graham bersahabat!" Ujar Bima
Satu isakan Amelia lolos. "Lalu bagaimana dengan Alex yang menyukai Bella, apa itu juga bohong?"
Bima menutup matanya, menghela napas panjang.
Rumah pribadi Alex. 07:34 malam
"Jangan dekat-dekat Lex, Aku tidak suka bau mu!" Bella mendorong Tubuh Alex yang sedang tidur di sampingnya
"Ayolah sayang aku hanya berbaring disini,, aku tidak akan menyentuhmu!" Alex sedikit kesal dengan perubahan sikap Bella
__ADS_1
Tadi beberapa menit yang lalu mereka berbaring berpelukan sambil bercerita tentang pengalaman mereka saat SMA maupun kuliah dan sekarang tiba-tiba saja Bella mendorong Dadanya agar menjauhi nya membuat Alex bingung.
"Aku benar-benar tidak kuat berada di dekat mu Alex, Kau benar-benar Umkh!" Ucapan Bella terhenti saat ia merasakan perut yang mulai mual ingin muntah.
"Bella kau kenapa?"
"Cepat pergi Alex jika kau tetap disini kau akan membuatku tersiksa!" Bella kesal karna suaminya itu sangat susah diusir
"Tck, Baiklah aku keluar!" Balas Alex kesal pergi keluar dari kamar mereka
Alex meraih jaket dan Kunci mobilnya di meja ruang tamu yang ia tinggalkan tadi dan dengan langkah lebar ia pergi dari apartemen itu untuk mengendarai mobilnya kemana saja untuk menghilangkan kekesalannya.
Ia terus mengendarai mobilnya hingga Alex menghentikan mobilnya di depan sebuah toko, dan memasuki toko itu.
Alex mengelilingi setiap rak yang tersedia, melihat beberapa minuman dingin. Alex mengambil beberapa kaleng bir. Lalu ketika hendak membayar, Mata Alex tertarik pada rak yang berisi susu khusus untuk ibu hamil.
Sebuah senyuman terpatri di wajah Alex ketika melihat setiap kandungan dari isi susu yang tertera pada kotak. Tangannya kembali meraih kotak susu yang lain, dan melihat sebuah promo pada susu itu. Merk susu yang cukup tersohor itu sedang mengadakan promo. Membeli dua dus susu ibu hamil, akan mendapatkan sebuah buku nama yang baik untuk bayi dan juga tips menjadi orang tua bayi untuk pemula.
Alex terkekeh, dia suka hadiah dari susu itu. Ia tidak perlu repot membeli terpisah susu dan Buku itu.
Alex memasukkan susu itu ke dalam keranjang dan menyimpannya di depan Kasir.
Rumah pribadi Bima. 08:34 malam
Bima membuka matanya, baru saja ia akan terlelap tapi perutnya terasa lapar hingga membuatnya terbangun. Bima mengucek matanya yang masih terasa berat. Dengan berat hati pria pirang itu bangkit dari tempat tidurnya menuju dapur.
Bima menekan selimut lampu dapur, membuat ruangan yang tadinya gelap itu kini bermandikan cahaya yang terang. Memperlihatkan keadaan ruang makan yang berantakan. Bima bisa melihat bungkus camilan yang berserakan dan ada juga remah-remah sisa cemilan juga. dan dengan puluhan dus Makanan cepat saji yang berserakan di lantai.
Ketika dia masih besama dengan Bella, gadis itu selalu membersihkan Apartemen mereka. Terkadang Bella juga sering sekali bergi berbelanja bahan makanan sehingga membuat kulkas mereka penuh dengan minuman dan makanan. Dan ketika ia sedang sakit, Bella merawatnya dengan sangat telaten. Bima bahkan sempat mengiyakan dalam hatinya bahwa istrinya itu adalah istri idaman.
"Kau tidak boleh terlalu makanan cepat saji seperti ini Bima, ini tidak sehat! Akan ku masak sayur untukmu!"
Bima tersenyum, Bella selalu peduli padanya. Dia bahkan bisa sangat marah bila Bima tidak menjaga asupan gizi makanannya.
"Sudah kukatakan berapa kali Bima?! Kau bisa memanggilku untuk memasak untukmu!"
__ADS_1
Kini senyuman itu tiba-tiba berubah menjadi murung. Pandangan mata Bima meredup.
Ia sangat tersakiti ketika Bella memanggilnya dengan datar seperti orang asing. Tidak lagi menghiraukan sosok Bima seperti dulu. Beberapa kali Bima mencoba mendekati Bella, Berharap rona pipi dan senyuman Bella akan tercipta seperti biasanya. Tapi apa yang Bima dapatkan? Gadis itu hanya diam dan menatap dingin ke arahnya.