Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Wajah Baru


__ADS_3

Bila ada waktu aku ingin kembali. Kembali ketempat asalku. Berlin Arora, iya gadis yang disembunyikan Ibuku. Ibuku pewaris Meghan Group tapi setelah kepergian Ibuku dan Ayahku menikah lagi. Semua menjadi kacau. Aku terkurung di sebuah tempat yang jauh dari kota asalku.


"Lucas,..morning......" Suara Berlin


Aku menatap langit-langit dengan redup. Ada apa dengan penglihatanku, sepertinya aku diberi obat tidur.


"Berlin.. Bangun sayang. Ibu kangen sama kamu nak" Suara wanita memanggilku


Aku melihat Ibuku dengan jelas. Apakah aku bermimpi?? (dalam hati Belin)


"Ibu, aku ingin pulang. Aku ingin pulang."  Suara Berlin sedih


sepertinya aku tidak bermimpi (dalam hati Berlin)


Setelah dua bulan kemudian, aku sudah berada di suatu tempat. Tapi aku menjadi orang yang berbeda. Aku bahkan tidak mengenali diriku.


Apakah ini aku??


Sepertinya bukan aku??


Berlin histeris seketika, kemudian pingsan


"Sayang, ini Ibu nak" Suara ibuku


Sepertinya ini benar Ibuku (dalam hati Berlin)


"Ibu, aku dimana??" Tanya Berlin yang bingung


"Kita di rumah" Jawab seorang Ibu


Berlin bahagia, ternyata Ibunya masih hidup.


"Ibu, tapi kenapa aku berbeda, ini bukan wajahku" Tanya Berlin dengan bingung


Berlin memang tampak asing dengan kulit putih bersinar dan rambut panjang coklat. Dia bingung dengan dirinya.


Apakah aku sudah mati?? (dalam hati Berlin)


"Kamu Berlin sayang, hanya saja" Jawab

__ADS_1


Ibuku


belum sampai mengatakan, tapi ada yang datang


"Hallo Berlin, apa kabar kamu??" Suara Paman


"Paman?? Paman Henry" Seru Berlin


Paman Henry adalah sahabat Ibuku dari kecil, dia juga sangat tahu seluk beluk di Meghan Group


"Kamu sehat sayang??" Tanya Henry


"Iya Paman, Berlin sehat" Jawab Berlin dengan ceria


"Berlin, kita akan pulang ke tempat yang kamu inginkan, tapi tidak di rumah yang dulu, kamu akan menjadi anak paman" ucap Henry sambil mengelus rambut Berlin


Apakah yang terjadi, apakah Ibuku menikah dengan Paman Henry. (dalam hati Berlin)


"Berlin, kita pulang tapi status kita akan berbeda. Kamu harus mengerti, semenjak Ibumu meninggal apa yang terjadi padamu?" Ucap Henry


"Ibu meninggal, lalu dia siapa paman?" Suara Berlin tampak kebingungan


Tapi kenapa wajahnya mirip sekali dengan Ibu? (Dalam hati Berlin sangat penasaran)


Paman akan ajak kamu ke cermin


"Liat baik-baik, diri kamu sekarang." Henry menggandeng Berlin


"Iya paman, ini bukan Berlin" Ucap Berlin dengan bingung


Berlin tampak gelisah dan merasa aneh


"Tapi kamu sangat cantik sekarang, orang tidak akan mengenalimu" Ucap Henry


Paman Henry tersenyum misterius, tapi kenapa hatiku percaya dengan Paman.


"Berlin siapkan diri kamu, besok kita pulang ke negara kita. Paman juga sudah menemukan rumah yang cocok untuk kamu." Henry melanjutkan perkataannya


"Baik Paman, Berlin mau pulang" Ucap Berlin

__ADS_1


Setelah pagi itu di Inggris, ternyata ketika aku bangun sudah berada di tempat lain dan dengan wajah yang berbeda. Aku juga tidak mengerti, apa tujuan Paman Henry sebenarnya.


"Setelah kamu tiba disana kamu akan berkuliah, kamu pasti senang" Suara Henry begitu lembut


Henry mengelus rambut Berlin dengan tatapan aneh tapi kenapa Berlin merasa dekat


"Baik Paman Berlin mau" Ucap Berlin


Aku tidak tidak bisa memanggilnya Ibu, karena dia bukan Ibuku


"Apakah tante Ayolla juga akan ikut dengan kita?" Tanya Berlin


"Iya sayang, kamu memanggil dia tante?"


Henry bingung


"Dia bukan Ibuku"


Ucap Berlin dengan tegas


"Sudah.. tidak apa-apa" Ayolla menyella


Aku mulai mengemasi pakaian dan beberapa barang yang ada dan tidak ketinggalan kotak Ibuku. Sebuah kotak yang tidak tahu apa isinya. Karena aku lupa kata sandinya.


"Paman, besok kita berangkat jam berapa?" Tanya Berlin


"Kita berangkat pagi-pagi sayang"


Paman Henry sambil mengupas buah apel untukku


"Ini makan dulu buah kesukaan kamu"


Ucap Henry sambil menawarkan apel


"Iya paman, Apelnya sangat segar. Terima Kasih" Ucap Berlin


Sebenernya Paman Henry bukan orang asing bagiku, kita mengenal sudah sangat lama, dan Paman Henry juga memiliki seorang anak laki-laki yang usianya tidak jauh dariku. Tapi kita tidak pernah dekat.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca cerita ini 🙏


__ADS_2