Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Rasa Kasih Saudara Tiri


__ADS_3

40 hari sudah Ayah pergi, aku ke Pemakaman bersama Clarisse. Setelah kepergian Ayah kita menjadi dekat. Awalnya dia merasa canggung, tapi perlahan kita menjadi akrab. Aku tidak hanya pergi berdua dengan dia, tapi ada beberapa pengawal yang menemani.


Hari ini kita pergi melepas penat, aku sudah mulai melepaskan hatiku yang sakit. Aku sudah mulai mengikhlaskan kepergian Ayah. Hampir setiap hari aku datang ke rumah Clarisse, untuk bertemu Reyzen. Aku sekarang memiliki banyak saudara, yang tadinya aku hanya seorang diri yang penuh luka.


"Kakak kita akan pergi kemana??." Tanya Clarisse


"Kita tunggu adik kakak yang satunya." Jawab Berlin dengan santai


"Siapa?? Reyzen...??." Tanya Clarisse


"Bukan, Pacar kamu." Jawab Berlin


"Hemmss.. .. Edward???." Tanya Clarisse


"Yupsss.. kita tunggu bocah itu.. kenapa lama sekali." Ucap Berlin


Sepuluh menit sudah menunggu Edward akhirnya dia datang. Sungguh adik yang sangat tampan. Tapi dari dulu aku tidak pernah ada rasa suka padanya. Mungkin memang sudah takdirnya kita saudara.


"Kenapa lama sekali.. kakak sampai Badmood nunggunya." Ucap Berlin dengan menatap Edward


"Sorry.. Sorry... tadi mampir isi bensin dulu.." Ucap Edward


"Ya sudah ayo jalan.. " Ajak Berlin


Kita cuma pergi nonton, tapi kita bertiga. Mereka berdua pacaran, tapi aku tetap duduk diantara mereka berdua. Tidak ada celah untuk mereka berdua, karena aku yang mengajak mereka. Jadi otomatis mereka menurut saja apa yang aku inginkan.


"Cuma nonton apa enaknya" Ucap Edward


"Ya udah lama nggak nonton juga" Ucap Clarisse


"Kalian emang jarang nonton berdua???" Ucap Berlin


Berlin yang ada diantara mereka perlahan kepo


"Iya.. jarang.. Edward nggak suka kalau aku ajak nonton." Ucap Clarisse


"Terus kalian kalau pergi kemana??" Tanya Berlin


"Jarang pergi Kakak.. kita bertemu saja di kampus.," Ucap Clarisse

__ADS_1


"Benar juga ya.. kalian di kampus yang sama." Ucap Berlin


Sepanjang 2 jam kita menonton. Mereka cukup pengertian tentang kondisi kakaknya yang jomblo.


Setelah selesai kita lanjut jalan, seperti biasa bodyguard selalu mengawal kita, apalagi setelah waktu itu. Walaupun polisi sudah menangkapnya. Tapi kita masih harus waspada.


"Berlin.. kita mau kemana lagi??." Tanya Edward


"Kenapa, kamu bosan??." Berlin tanya balik


"Bukan gitu.. ya udah.. ayo ikut Edward." Ajak Edward


Lalu Edward mengajak kita ke Timezone. Senang sekali rasanya bermain dengan mereka. Ternyata asyik juga punya adik. Ntah mereka menganggap aku apa, tapi tetap saja aku setuju mereka jadi adik-adik aku.


"Kakak.. sini.. " Ajak Clarisse


Clarisse mengajak aku untuk berfoto bersama, Edward dengan posisi bermain time crisis.


"Aku cantik juga difoto" Ucap Berlin


"Kakak memang cantik, jauh lebih cantik dibanding aku" Ucap Clarisse


"Kakak kenapa???... kakak tungguin." Suara Clarisse mengejar Berlin


"Kakak marah??" Tanya Clarisse


"Nggak.. kakak nggak marah. Ayo kita pilih boneka, mana yang harus dicapit." Ucap Berlin


"Kakak masih belum bisa lupain itu." Ucap Clarisse


"Bukan.. kamu nggak usah khawatir,, kakak udah maafin Mama kamu." Ucap Berlin dengan rasa terluka


"Iya.... Clarisse tahu.. Mama Clarisse bukan orang yang baik. Tapi kita masih bisa dekat bukan??" Tanya Clarisse


"Masih sayang.. Kamu sekarang sudah jadi adik kakak. Kan kakak sudah bilang kita keluarga kamu dan Reyzen." Ucap Berlin dengan tersenyum


"Terus Mama???" Tanya Clarisse


"Kalau soal itu kakak maafin Mama kamu, kakak akan maafin, tapi kalau untuk melupakan kejadian itu, Kakak belum bisa Clarisse." Ucap Berlin

__ADS_1


"Iya Kak... maafin Clarisse" Ucap Clarisse


Kita saling memeluk dan menguatkan perasaan kita, mungkin bagi mereka kita hanya anak yang tinggal menerima apa yang mereka berikan. Tapi kita juga punya perasaan cinta, luka dan rasa kecewa.


"Hemmsss kalian.. disini kita mau seru-seruan. Bukannya malah pada nangis. Heran aku sama kalian para cewek. Selalu baperan!!!" Ucap Edward


"Iiihhh... biarin.. tapi kita punya rasa.. dari pada kamu Edward.." Ucap Berlin


hahahaha... kita bertiga bercanda, lalu kita pergi ke cafe, yupsss.. tidak cuma kita bertiga ada bodyguard yang duduk di meja sebelah.


"Clarisse kamu tahu, cowok kamu nggak suka pedas??." Tanya Berlin


"Iya.. aku tahu kakak, dan aku juga tidak suka makan pedas." Ucap Clarisse


"Wooow... kalian bisa punya kesamaan ya." Ucap Berlin


"Tidak hanya itu kesamaan kita, kita di kampus yang sama, kita di jurusan yang sama, bahkan kita memiliki tanggal lahir yang sama, hanya beda tahunnya.. otomatis sifat Edward ya.. hampir sama kaya aku." Ucap Clarisse


"Apa setiap pasangan harus memiliki kesamaan??" Tanya Berlin


"Nggak juga kakak.. ya mungkin memang kecocokan aku sama Edward. Apa kakak belum pernah pacaran???" Tanya Clarisse


.


.


"Eeemmmss.. Iya.. kakak tidak pernah sempat untuk pacaran.. hidup tanpa terluka saja sudah bahagia rasanya......" Ucap Berlin


.


.


"Sudah.. sudah.. kalian nggak usah pada bapeeerrr lagi" Ucap Edward dengan santai


"Naah... iya benar kata Edward.. adik kakak sepertinya sudah dewasa ya... " Ucap Berlin merangkul Edward


"Berlinn......... " Ucap Edward malu


Kalian tidak berfikir, aku mengelus anjing kecilku didepan pacarnya. Tapi Clarisse justru tersenyum melihat kita bercanda. Sebuah persaudaraan membuat Hari-hariku merasa lengkap. Tapi setelah memilihat mereka berpacaran. Apakah aku juga harus pacaran. Bagiku pacaran sangat mudah, tinggal memilih seseorang untuk dijadikan pacar. Uuupsssss!! Bukannya sepasang kekasih harus memiliki perasaan yang sama. Akankah aku bertemu dengan seseorang nantinya. Kita tunggu cerita aku selanjutnya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2