Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Selamat Jalan Ayah


__ADS_3

Hari ini aku bertemu dengan seseorang disebuah Restauran. Aku bertemu dengan Ayah Romy. Sosok yang dari kecil aku anggap Ayahku sendiri. Masih dalam suasana ulang tahunku, hanya selisih 2 hari. Ayah sudah bebas dari hukumannya. Sedangkan Nettly masih ada di dalam jeruji besi. Tapi Ayah ingin bertemu dan aku dikawal beberapa bodyguard.


"Berlin... kamu mau maafin Ayah??" Tanya Romy


"Untuk apa Ayah meminta maaf." Ucap Berlin


Walaupun rasanya terkadang sesak setiap aku menjenguknya ditahanan. Dan sekarang dia sudah bebas. Tapi tetap saja dia Ayah bagiku.


"Ayah menyesal Berlin, tidak seharusnya Ayah berbuat seperti itu." Ucap Romy


Seolah perkataan Ayah saat ini tulus dari Hatinya dan aku meleleh.


"Ayah nggak perlu minta maaf. Lagian Berlin bukan anak kandung Ayah." Ucap Berlin


"Iya... kamu memang anak kandung Henry, dan Ayah mengetahui itu semenjak kamu SMA." Ucap Romy


"Kalau Ayah sudah tahu, kenapa dulu tidak mengatakannya." Ucap Berlin


"Ayah masih berfikir saat itu. Dan Ayah belum siap menerima kenyataan, bahwa kamu bukan putri Ayah. Lalu Ayah dekat dengan Nettly, dia selalu berusaha menjauhkan Ayah dari kamu dan Ibumu." Ucap Romy


"Sekarang Ayah sudah sadar, kalau Ayah salah??." Tanya Berlin dengan rasa terluka


"Iya... Ayah bersalah..Ayah menyesal. Berlin kamu tetap anak Ayah. Dari kamu belajar bicara kamu memanggilku Ayah, Ayah bahagia, lalu kita suka berjalan ke taman dekat rumah dan Ayah juga mengajarimu naik sepeda." Ucap Romy yang mulai rapuh

__ADS_1


Ayah mengingatkan aku tentang memori lamaku. memang benar sebelum dia perlahan sibuk dengan dunianya dan menjauh dari kehidupanku. Dulu Ayah cukup perhatian, selayaknya Ayah pada anak kandungnya. Ya waktu ingat kejadian rapat saham. Aku dibuat sesak atas perkataannya. Tetap saja dia Ayah yang aku kenal. Selama hukuman satu tahun, hampir satu bulan sekali aku datang. Hanya ingin melihatnya dan sekedar membawakan makanan kesukaannya. Aku tidak sekejam yang orang pikirkan. Aku tetap punya rasa. Dia tetap Ayah yang aku kenal dan aku menyayanginya.


"Tak perlu Ayah ingatkan tentang dulu.. Berlin juga tahu itu." Ucap Berlin dengan menatap wajah ayahnya


"Iya..... Berlin.. ini untuk kamu, selamat ulang tahun kamu yang ke 22 tahun. Ayah berharap kamu bahagia. Ayah tidak bisa berlama-lama disini. Hanya ini saja yang Ayah sampaikan. Semoga kita bertemu kembali. Maafkan Ayah." Ucap Romy dengan tulus


Lalu dia beranjak pergi meninggalkan meja itu. Tapi aku tidak kuat, aku berlari dan memeluknya dari belakang. Aku hanya menangis saat itu. Mungkin Ayah juga larut dalam tangisanku. Semua yang ada disitu melihat kita berdua menjadi haru.


"Berlin juga minta maaf sama Ayah. Ayah tetap ayah Berlin." Ucap Berlin


"Iya .. Ayah tetap ayahnya Berlin. Ayah pergi dulu." Romy dengan memeluk putri kecilnya


Kita berjalan keluar restauran, Ayah masih berbincang dengan bodyguard yang mengawalku. Dari sisi sebelah jalan ada sopir ayah menunggu. Kemudian aku mengantarkan ayah ke sisi jalan.


Tiba-tiba ada sebuah mobil hitam dengan kaca terbuka menodongkan pistol ke arahku


Suara tembakan itu membuat aku syok dan ketakutan, aku lemas seketika. Dan ayahku sudah berlumuran darah. Ayah melihat pistol itu langsung menggapai aku, memelukku dengan erat. Lalu beberapa bodyguard menyusul mereka dan aku ketakutan sangat ketakutan.


"......... Ayaaah..... Ayaaah..... " suaraku terasa berat. "Ayah.... Ayah.... " Suara Berlin sesak


"Berlin... kamu baik baik saja sayang" Ucap Romy pelan menatapnya dengan perasaan terluka


" Ayaaahh.........." Suara Berlin dengan sesak

__ADS_1


Pecah sudah aku ketika itu.... lalu kita dibawa ke rumah sakit oleh sopir Ayah dan bodyguard.


Sepanjang perjalanan, ayah masih menatap aku dengan air mata, begitu pula aku tak kuat lagi melihat semua ini. Tapi aku tidak boleh lengah aku harus menemani ayah. Sesampainya di rumah sakit. Ayahku sudah mulai tidak sadarkan diri. Langsung dibawa ke ruang operasi.


Setelah itu Papa dan Mama datang karena bodyguard langsung menghubungi mereka.


"Berlin... kamu Baik-baik saja sayang???" Tanya Ayolla yang sangat khawatir


"Mama... Mama... Berlin takut Mama" Ucap Berlin dengan air mata mengalir dan rasa sesak didadanya


Aku tidak berhenti menangis dan Papa langsung menanyakan kepada suster tentang keadaan Ayah dan berbicara dengan bodyguard.


"Iya... sayang.. kamu yang tenang ya sayang. Ayah kamu pasti kuat. Mama yakin Ayah kamu bisa melewati masa kritisnya" Ucap Ayolla dengan tenang


Kita sudah satu jam di ruang tunggu operasi. Tapi belum ada dokter yang keluar, hanya ada dua suster yang masih berjaga di depan pintu operasi. Disini juga ada polisi, asisten Ayah, dan Clarisse.


"Mama..... Bagaimana Ayah Ma... kenapa lama sekali??" Tanya Berlin


Lalu pintu ruang operasi terbuka.... Papa dan yang lain langsung berdiri dan menanyakan.


"Ayaaaaaah!!!?" Berlin sudah tidak kuat, Berlin pingsan.


Iya.. Ayah Pergi... Ayah pergi untuk selamanya, dengan cara seperti ini. Ayah meninggalkan Clarisse dan Reyzen. Clarisse adalah anak tante Nettly, Kalau Reyzen anak dari Ayah dan Nettly dia masih sangat kecil. Aku dan Clarisse tidak dekat tapi saat ini dia memelukku. Dia berbeda dengan Mamanya dan waktu Mamanya dinyatakan salah, dia tidak peduli dengan Mamanya. Bahkan dia lebih memilih menjenguk Papa tirinya. Mungkin dia tidak suka dengan apa yang dilakukan Mamanya. Karena Papanya Clarisse masih hidup dan ditinggalkan untuk menikah dengan Ayahku. Pasti Clarisse sakit hati tentang itu.

__ADS_1


Suasana berkabung di kediaman Ayah, bukan di rumah yang dulu kita tempati. Rumah yang mewah dan semua fasilitas ada didalam rumah itu. Tamu yang datang cukup banyak karena Ayah termasuk orang terpandang. Banyak orang yang mengetahui tentang kisah keluargaku, ada juga yang mengenal aku. Hampir semua mata tertuju padaku. Air mata yang tiada henti mengiringi kepergian Ayah. Dan mereka tahu tentang kisah ini, kisah seorang Ayah yang menyelamatkan anaknya. Selama prosesi pemakaman aku hanya mematung. Air mata tidak berhenti mengalir, Ayah pergi untuk selamanya. Aku sudah memaafkan Ayah saat itu. Karena tidak ada kata terlambat untuk sebuah cinta. Terima kasih Ayah, selamat jalan, surga menyertaimu.


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2