
"Papa sudah pernah bertemu Om Fabian??" Tanya Berlin mendekati kursi Henry
"Sudah, sekali bertemu waktu Papa mencari Mama kamu sayang. Kenapa kamu tanya soal dia??" Henry tanya balik ke Berlin
"Bukan begitu, sekarang dia sudah ada di rumah Berlin. Emang Papa nggak mau ketemu Om Fabian??" Berlin kembali bertanya kepada Henry
"Iya.. nanti juga bertemu, Papa juga baru sibuk. sekarang saja Papa masih di Kantor. Kamu ada Papa baru (Fabian) malah datang kesini." Ucap Henry dengan membaca laporan kerja
"Ya kan Om Fabian biar istirahat dulu, lagian udah lama juga nggak ketemu sama Mama. Jadi Berlin kasih waktu buat mereka berdua." Ucap Berlin
"Kamu, sudah makan??" Tanya Henry
"Sudah Papa, selesai makan malam sama Om Fabian dan Mama, Berlin langsung pamit pergi kesini. Malam ini kan jadwal Berlin nginep dirumah Papa. Tapi Papa masih di Kantor!" Ucap Berlin lalu duduk di kursi
"Iya.. Papa ada pekerjaan penting besok. Jadi malam ini Papa masih liat dulu gimana pekerjaan karyawan." Ucap Henry
"Tadi kita juga bahas kerjaan, tapi Mama nggak suka kalau Berlin kerja. Padahal Berlin sudah umur berapa coba... hampir 24 tahun." Ucap Berlin
"Kamu nggak usah kerja, biar Papa yang kerja buat kamu.... kenapa kamu bosan dirumah??" Tanya Henry menatap Berlin
"Iya.. Papa tahu banget, kalau Berlin bosan." Ucap Berlin
"Tadi kamu pulang jam berapa?? kata Mike (bodyguard) sore kamu baru pulang naik Taxi." Ucap Henry
"Iya.. jam 5 sore Papa. Tadi juga ada teman." Ucap Berlin
"Siapa?? Cowok??" Tanya Henry penasaran
"Iiiiiih... Papa punya mata pintar kaya Key!!" Seru Berlin
"Tumben kamu ingat nama itu??"Tanya Henry
"Barusan tadi juga ingat... kangen sama Kakak. Papa tahu dia dimana??" Tanya Berlin kembali
.
.
__ADS_1
.
"Papa nggak tahu." Ucap Henry
Sepertinya Papa tahu tentang Key, tapi Papa tidak mau bercerita tentang dia. Berlin hafal kalau Papa jawabnya lama terus pura-pura gitu. Berlin tahu Papa bohong. Sepertinya para bodyguard juga tahu keberadaan Key, tapi nggak mau bilang, padahal mereka kenal baik sama Key, satu Markas juga. Tapi kalau aku cari di Markas itu, apa yang Berlin bilang nantinya. Kalau Bilang kangen jadi nggak enak, takutnya istrinya cemburu.
.................aaaaahhhh bingung.....!!!!
"Papa.. pulang yuuk!! .. Berlin ngantuk." Ajak Berlin
"Kamu dijemput Edward dulu gimana?? Papa masih banyak pekerjaan sayang." Ucap Henry
Papa kali ini benar-benar sibuk. Aku bukan lagi gadis yang manja. Aku akhirnya dijemput sama adikku tampan.
"Berlin... aku mampir dulu beli sesuatu, kamu mau ikut ke dalam atau nunggu aku di mobil??" Tanya Edward
"Aku nungguin disini ajah.. Edward beliin aku coklat ya" Ucap Berlin
"Ok.. "Ucap Edward lalu keluar mobil
Aku melihat sesuatu .......OMG..... aku nggak salah liat.. Key.. Masuk ke Mini Market.. Begitu aku mau turun dari mobil, ternyata ada seorang gadis cantik baru turun dari mobilnya. Ternyata Key sudah menikah. Tapi kenapa dengan hatiku ini, harusnya aku keluar, kasih ucapan selamat ke mereka. Tapi aku takut nanti istrinya jadi salah paham. Sudahlah lagian liat dia masih hidup dan sehat cukup membuat hatiku damai.
"Berlin.. ini coklatnya" Ucap Edward sambil memberikan bungkus coklat
"Thanks" Ucap Berlin
"Kenapa, muka kamu jadi gitu??" Tanya Edward
"Nggak.. cuma capek.. ayo buruan jalan." Ucap Berlin
"SIAP TUAN PUTRI!!" Ucap Edward
Kenapa juga harus liat disaat aku kangen sama dia. Semoga bukan apa-apa... Lagian dia juga sudah lupa, katanya mau ke rumah. 2 tahun lalu bilangnya begitu, tapi buktinya.. aku kecewa Key.
"Tadi aku ketemu cewek, cantik banget!!!" Ucap Edward dengan menyetir mobil
"Cewek??" Tanya Berlin
__ADS_1
"Iya mungkin sama pacarnya. Dia ambil coklat yang aku pilih, terus dirangkul sama cowoknya." Ucap Edward
"Terus menang siapa?? kamu atau cewek itu??" Tanya Berlin
"Iya.. tadinya aku ngalah mau ambil yang lain, tapi cowoknya bilang ambil yang lain aja, kasian dia buat pacarnya gitu. Ya...udah langsung aku bayar. Terus cewek itu cemberut." Ucap Edward
"Cantik mana sama aku??" Tanya Berlin
"Cantikan dialah kamu kan........." Ucap Edward
"Aku apa??? aku oplas gitu......".Suara Berlin kesal
"Berlin kamu baperrr amat.. biasanya nggak kaya gini.. iya maaf.. maaf.. aku keceplosan.." Ucap Edward sambil melihat Berlin
Setelah itu aku hanya diam, ntah kenapa perasaan aku jadi aneh. Aku merasa ada yang tidak beres dengan pikiranku sendiri. Tapi Edward tetap saja mengingatkan kenangan burukku. Seandainya aku bisa memilih, aku akan memilih kehidupanku dulu, ada ibu ayah mereka masih hidup. Walaupun aku egois saat ini, tapi aku berhak untuk marah.
Sampai dirumah Papa.. aku langsung ke kamar. dan mengunci pintu kamar.
"Berlin... aku minta maaf.. udah ya... kalau kamu masih ngambek dikamar, Papa pulang nanti aku yang dimarahin sama Papa." Ucap Edward
Aku masih diam dikamar.. aku malas..bahas itu sama Edward.
Papa muncul gitu saja. Walaupun Papa sayang banget sama Edward. Tapi kelau soal Berlin. Papa juga bisa marah.
"Kenapa Papa harus marah sama kamu Edward?? Apa yang sudah kamu lakukan sama Berlin" Tanya Henry
"Bukan apa-apa sih Papa.. cuma tadi nggak tahu kenapa, Edward keceplosan soal oplas Berlin." Ucap Edward
suara yang begitu panas... terasa panas... tapi aku hanya diam dikamar.
"Pa........!! Papa nampar Edward cuma gara-gara Berlin?? dia Papa.. Edward sudah sabar buat kita semua. Gara-gara dia Papa sama Mama berpisah. Papa nggak ngerti perasaan Edward??????!!!" Suara Edward yang sedih dan merasa terluka
"Papa nggak bermaksud begitu sama kamu Edward, kamu laki-laki harusnya kamu lebih mengerti. Bukannya menyakiti perasaan dia, Edward.. Papa sudah..... Edward...Edward.." Suara Henry sangat tegas
Ntah kenapa aku...?? malam itu gara-gara aku Edward terluka, tamparan Papa ke Edward. Pasti akan melukai hatinya. Edward terluka, aku tidak tega dan semua karena aku. Aku selalu membuat masalah dalam keluargaku. Aku terlalu egois...... Seharusnya aku yang pergi.. bukan Edward... aku menyesal atas malam itu.
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1