
"Sayang......BERLIN ARORA sayang...sini dong" Key dengan manja
"Iya...Iya sayang.. kenapa kamu, kamu capek,,??" Tanya Berlin
"Kamu ngapain, telfon jauh-jauh dari aku?" Tanya Key penasaran
"Aku tadi telfon dari rumah sana. Perasaan aku nggak enak sama Cassandra." Ucap Berlin
"Kamu lebih merhatiin dia, dari pada aku??" Tanya Key
"Ini rasa perhatian aku sama kamu sayang, disana ada anak kamu." Ucap Berlin
"Iya aku belum yakin juga, tunggu hasil test DNA dulu," Ucap Key dengan datar
"Sayang...kamu kok gitu, tetap saja dia hamil dan bagaimanapun dia seperti kakak aku, dia anak Ayah." Ucap Berlin
"Udah.. cukup nggak usah bahas dia. Kalau ada apa-apa juga orang sana pasti langsung telfon." Key tampak kesal
"Bukan itu saja sayang!! bentar aku penasaran dulu kamu pacaran sama dia, tetap saja kamu peluk dia, kamu cium dia, buktinya waktu itu Edward bilang." Berlin jadi kesal
"Akting sayang, nggak ada perasaan." Ucap Key pertahanan diri
"Owh.. jadi kamu brandal juga ya ternyata." Berlin tampak kesal dengan amarah
"Kalau nggak gitu, mana aku tahu siapa yang menodongkan pistol ke kepala kamu, aku kayak gitu cari tahu semua tentang mereka. Sekarang kamu cemburu??" Ucap Key menjelaskan
"Ntahlah... besok aku mau kesana. Kita semenjak nikah belum kesana lagi dah hampir sebulan." Berlin dengan pendiriannya
"Iya kan kita pengantin baru, bulan madu aja belum puas dah dipanggil karena kerjaan banyak" Ucap Key menatap Berlin
"Ya itu nanti lagi.. kamu capek sayang...mana yang capek aku pijitin." Berlin dengan lembut
"Sini.. yang capek sini nieh.. dada aku, kamu udah mulai sekarang cuma harus mikirin aku. Kalau perlu ditulis itu dipikiran kamu *Key Kenandeff*." Key posesif
"Kamu gitu amat... kamu nggak tahu ajah..dulu waktu kamu pergi.. aku suka menatap cowok tampan di kampus, terus semenjak kerja aku menatap Giiken." Ucap Berlin tersenyum
"Apa kamu bilang sayang?? Giiken?? adik aku!! kamu macem-macem sama aku." Key kesal
"Salah sendiri kamu nggak datang, terus malah nyuruh Giiken dekat aku. Aku cukup berdebar saat itu, tapi dia bisa melihat aku, kalau aku suka sama orang. Katanya dari aku menceritakan dia, aku seolah jatuh cinta sama dia. Iya waktu itu aku sering merindukan dia." Ucap Berlin makin senyum
"Seperti apa dia orangnya??" Tanya Key
"Orangnya biasa saja, tak ada yang menarik, malah membuat aku takut." Ucap Berlin
"Emmss jadi kamu nakal juga ya ternyata." Key mencupit pipi Berlin
__ADS_1
"Iya.. dia juga nakal. Dia bahkan punya pacar." Berlin cemberut
"Aku tahu sayang.. maafin aku... aku sayang kamu, Giiken juga cerita tentang itu, dari museum itu dia pulang, bahkan foto kamu, ini didalam dompet aku." Key tersenyum
"Aaaaaaa... kamu gitu... jahat.." Berlin kesal tapi bahagia
Memelukmu sekarang, aku tak akan melepasmu. Key mungkin tidak setampan Giiken, tapi Key adalah orang pertama yang ada dihatiku. Rasanya aku merasa beruntung, bahwa aku bisa bersama orang yang aku cintai, aku sempat dilema ketika melihatnya dengan seorang gadis. Bahkan aku berpikir kita tidak akan bertemu lagi.
Aku pergi sendiri dengan beberapa pengawal untuk ketempat Cassandra, karena hari ini Key ada pekerjaan yang penting.
"Cassandra.... Aku datang, kamu dimana??" Berlin memanggil Cassandra
Aku ke kamar dia tidak ada, lalu aku keluar lagi bertanya kepada suster. Mereka mengatakan kalau Cassandra di kamar. Berarti dia ada kamar mandi.
"Cassandra.. Berlin disini.. kamu di dalam??" Tanya Berlin dengan khawatir
Tak ada suara yang menyahut dari dalam,
"Cassandra, kamu Baik-baik saja??" Berlin semakin gelisah
Tidak ada suara menjawab, hanya terdengar suara air shower,
"Cassandra... kalau kamu tidak menjawab aku buka pintunya.." Berlin dengan panik
Masih tidak menjawab...
"Cassandra.... buka pintunya... Cassandra..." Teriakan Berlin menjadi
Aku sudah mulai panik,
Lalu aku berteriak memanggil bodyguard untuk mendobrak pintu itu.....
"Cassandra... kamu kenapa, Cassandra.. bangun," Berlin sangat panik
Aku mulai histeris... aku melihat darah mengalir dipaha Cassandra yang tersiram air dari shower, aku sudah tidak kuat lagi melihatnya. Cassandra langsung aku bawa ke rumah sakit tidak jauh dari rumah itu.
"Dokter.. bagaimana keadaan saudara saya??" Tanya Berlin gelisah
"Apakah anda walinya??" Tanya Dokter
"Iya saya adiknya. Saya wali Cassandra." Jawab Berlin dengan khawatir
"Baik, kalau begitu tolong anda ke administrasi untuk tanda tangan berkas operasi. Karena secepatnya harus dilakukan operasi kuret." Ucap Dokter
"Kuret dok?? apakah janinnya tidak bisa diselamatkan??" Tanya Berlin khawatir
__ADS_1
"Karena janinnya sudah tidak ada, begitu pula kondisi pasien sangat lemah." Jawab Dokter
"Baik dokter.. kalau begitu tolong selamatkan saudara saya." Ucap Berlin
Aku tidak berfikir buruk tentang apapun ini, yang jelas aku ingin Cassandra tetap hidup. Dan bodyguard sudah menghubungi Key.
Operasi sudah satu jam, tapi dokter belum keluar juga, aku bingung, pertama kalinya aku di tempat seperti ini. Menunggu untuk operasi kuret.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya Berlin
"Untuk saat ini kondisinya sangat lemah, dan nanti akan dipindahkan ke ruang rawat inap." Jawab Dokter dengan tenang
"Baik dokter, terima kasih" Berlin dengan rasa sedih di hatinya
Aku menunggu di ruang rawat inap, dia masih tidur karena efek obat, setelah dua jam Key datang,
"Kamu, kamu datang juga akhirnya." Berlin menangis
Aku memeluk Key, walaupun itu anak Cassandra dan Key sebenarnya aku menantikannya. orang mungkin akan berfikir aku bodoh. Tidak seperti itu, kalaupun itu anak Key atau tidak. Aku berharap bayi itu lahir ke dunia ini dan menjadi anak kita. Tapi ternyata takdir berkata lain.
"Kamu jahat Key, kamu tega..." Berlin masih menangis memaki Key
"Iya... aku salah... lalu bagaimana keadaan dia??" Key dengan tenang
"Dia masih tidur, aku belum tahu, dia tahu atau tidak kalau dia sudah keguguran. Karena tadi dia nggak sadar waktu aku bawa kesini." Ucap Berlin mulai tenang
Akhirnya dia sudah bangun, wajahnya terlihat pucat. Sayup matanya dan badannya yang mulai kurus aku tidak tega melihatnya.
"Berlin... aku..." Suara Cassandra lemah
"Cassandra tadi kamu pingsan di kamar mandi, kamu keguguran..." Ucap Berlin yang disamping Cassandra sambil mengelus rambutnya
Aku menangis, aku yang tidak kuat merasakan kondisi dia saat ini.
"Iya aku tahu, tadi waktu di ruang operasi, dokter sudah bilang, aku tidak apa-apa, lagian Key juga tidak menginginkan anaknya." Cassandra berusaha kuat
"Sudah kamu jangan bilang begitu, aku minta maaf atas nama Key, dia juga disini, dia diluar mengurus administrasi kamu." Ucap Berlin dengan tulus memeluk Cassandra
"Iya.. aku tidak apa-apa, Berlin aku minta tolong sama kamu, aku ingin pulang ke Jerman, aku ingin disana, dekat mommy, aku juga sakit." Pintar Cassandra dengan air mata menetes dipipinya
"Baiklah, kalau kamu sudah membaik, aku akan mengantar kamu kesana." Berlin dengan tenang
Terkadang hal besar menjadi mudah kalau kita dengan sabar menghadapinya.
Setelah aku mengantar Cassandra dua bulan lalu, aku baru mendapatkan kabar dari dokter yang menjaga dia, bahwa Cassandra sudah meninggal, dia meninggal karena mengidap kelenjar getah bening.
__ADS_1
Selamat jalan sodaraku, maafkan aku dan Key. Semoga kamu tenang disana bersama Mommy kamu dan kamu bisa bertemu dengan Ayah.
🌻🌻🌻🌻🌻