Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Adikku Yang Malang


__ADS_3

Edward datang ke rumah setelah mengetahui tentang diriku. Setelah sekian tahun akhirnya aku jalan berdua dengannya. Eeeeeiiiiiittt... dia bukan seorang teman SMA tapi dia adalah saudaraku. Bahkan aku lahir lebih dulu dibandingkan dia. Otomatis dia harus memanggilku kakak. Saat ini aku merasa dunia ini adil. Dulu dia memandang aku si kutu buku yang tidak tahu apa-apa. Tapi sekarang dia harus tunduk padaku kakak seayah beda ibu.


Mungkin awalnya dia tidak mengakui aku sebagai saudara. Dan dia tidak mau tahu tentang anak Papanya dari wanita lain. Tapi sangat menyesal pastinya bila tidak mengakui aku. Karena segala sesuatu yang papa berikan ke Edward sekarang ada ditanganku. Walaupun semenjak orang tua Edward berpisah dan Edward memilih tinggal dengan mamanya. Tapi untuk urusan memanjakan dia adalah papa..... uuuhhh..... malangnya Edward.... Sekarang aku yang lebih berkuasa diatas dirinya. Aku akan membalas sikapmu padaku waktu SMA.


"Berlin... aku minta maaf, soal dulu aku pernah ngerjain kamu. Kamu jangan bilang sama papa." Ucap Edward


"Eeemm.. begitu.. kalau begitu kamu harus panggil aku kakak." Pinta Berlin dengan bercanda


"Kita kan seumuran, beda 5 bulan doang" Ucap Edward seakan menolak


"Sssstttt... 5 bulan doang, aku sudah bisa menangis kamu masih diperut, aku sudah bisa tengkurap kamu baru lahir, aku sudah bisa jalan, kamu baru.....oohhh.... gini deh....misal belum ada satu bulan gitu kita seumuran. Ya udah aku tinggal bilang sama papa. *** Dulu Edward pernah naruh lem di kursi Berlin Papa..sampe Rok Berlin sobek. Terus siapa yang akan dibela sama Papa???" Ucap Berlin dengan tersenyum


"Iya.. kan tadi sudah bilang maaf.. sudah minta maaf. Iya aku salah." Ucap Edward


"Nah.. bagus kalau mengakui kesalahan. Sekarang bilang.. Kakakku yang cantik Edward minta maaf," Pinta Berlin


"..... aah... susah panggil kamu kakak.." Ucap Edward


Ketika aku melihat ekspresi Edward sungguh menyenangkan. Aku jadi teringat waktu dia minta aku buat bikin cerita. Maklum aku dikenal si kutu buku. Akhirnya aku buatkan cerita itu dan membuat dia malu. Seluruh murid di kelasnya tertawa karena ulahku. Tapi tapi tidak sampai disitu saja, aku tidak mengenal dekat dia bukan berarti aku tidak tahu tentang dia. Paling tidak aku tahu apa yang dia suka atau tidak.


"Edward... kita makan disana yuk.... " Ajak Berlin


"Ya udah.. ayooo.. " Jawab Edward

__ADS_1


Edward paling tidak suka makanan pedas. Aku coba dia untuk makan makanan pedas. Apakah dia mau mencoba atau tidak.


.


.


.


"Edward makan dong.. kamu nggak suka sama yang Kakak pilih buat kamu???" Pinta Berlin


"Bukan gitu.. rasanya sangat pedas" Ucap Edward


"Ini enak. . . enak banget malah.. kakak suapin ya, kakak pengen tahu gimana caranya ngurus adik" Rayu Berlin


"Coba dong.. aaaaaaakkkkk... ayoo aaaakkkkk. nah gitu dong. gimana enak???" Rayu Berlin dengan senyuman


"Udah Berlin.. Pedas ini.. aku nggak suka pedas" Ucap Edward dengan ekspresi pedas dan langsung minum


"Ya udah.. kalau gitu.. aku pilihin yang lain. tapi panggil dulu.. kakak, biar orang-orang yang liatin kita nggak salah paham." Ucap Berlin


"Nggak.. aku nggak usah makan" Ucap Edward


"Aaaaa....... kamu gitu.. kamu.. jahat.. kamu selingkuh sama gadis lain" Ucap Berlin menggoda Edward

__ADS_1


Aku mulai beraksi... Aku pura-pura menangis... Banyak orang di cafe itu melihat ke meja kita... Dan...


"Berlin.. udah dong.. udah nangisnya...." Ucap Edward


"Aaaaa.. Aaaaa... kamu gitu sama aku" Ucap Berlin dengan Aegyo


"Okey... kakakku yang cantik.. bisa diam nggak" Ucap Edward dengan lembut


"Thank you Adikku yang tampan.... kamu memang adik aku yang paling tampan.. kakak sayang kamu" Ucap Berlin


Dengan bersuara kencang dan aku mengusap rambutnya. Orang-orang masih melihat ke arah meja kita. Tapi bodyguard kita menyusul. Akhirnya aku tidak bisa lagi berbuat iseng.


"Ayo kalau gitu .... kita jalan....kakak akan beliin sesuatu buat kamu" Ajak Berlin


"Aku mau dibeliin apa??" Tanya Edward


"Terserah kakak dong.. boxer gitu.." Ucap Berlin


"Kakak... nggak.. malu apa?? udah jangan aneh-aneh tadi aku malu banget." Ucap Edward


"Ayokkk kita belanja" Ucap Berlin dengan bahagia


Kita berbelanja, sudah lama juga semenjak Key pergi, aku jarang berbelanja. Sekarang ada Edward yang bisa aku ajak jalan dan berbelanja. Ternyata dia sudah menjadi adik yang penurut, sepertinya aku benar-benar harus menjaga anjing kecil ini. Mungkin ini baru awal. Tapi perlahan aku akan menyayangi Edward sepenuh hati. Maafin kakak Edward....... hari ini kakak puas membuat kamu sedikit malu.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌕


__ADS_2