Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Keluarga Dalam Satu Bingkai


__ADS_3

Hari-hari berlalu berganti bulan dan bulan berjalan menjadi tahun. Hari ini aku sudah menyelesaikan kuliahku. Hampir 4 tahun sudah aku tinggal di kota ini. Kota yang waktu itu aku rindukan. Kota dimana aku membuka lembaran baru penuh hal-hal tak terduga.


Clarisse Hotel tempat aku wisuda, aku didampingi Mama dan Papa. Aku bahagia, kita bisa ada dalam satu bingkai nantinya. Hanya Mama Aku dan Papa. walaupun kita bukan keluarga yang utuh, tapi aku adalah cinta mereka.


"Sayang.. kamu sangat cantik hari ini." Ucap Ayolla


"Memang Berlin biasanya kurang cantik ya Ma??" Tanya Berlin menatap Ayolla


"Maksudnya Mama, kamu berbeda sayang, biasa kamu tidak bermake-up tapi sekarang Mama pangling liat kamu." Ucap Ayolla


Aku tersenyum, lalu aku membuka cermin, sepertinya apa yang Mama katakan memang benar.


"Putri Papa memang sangat cantik," Ucap Henry


.


.


"Emmsss Papa bisa saja, bikin hati Berlin mencair, Edward mana Pa??" Berlin memeluk Henry


"Edward nanti menyusul, nanti setelah dari sini kita makan bersama Edward, Clarisse dan Reyzen" Ucap Henry tersenyum


"Iya benar Papa.. ya sudah Berlin mau masuk ke ruangan dengan yang lainnya". Ucap Berlin


"Iya sayang.." Balas Henry dengan bahagia


Dulu aku mengira, kalau aku tidak akan bisa berkuliah dan mendapatkan apa yang aku inginkan, ternyata aku bisa kuliah dan lulus.


"Renata.. kamu disini??" Tanya Berlin


"Berlin aku sudah menunggu kamu lama, ayo kita ke dalam sebentar lagi sudah dimulai." Ucap Renata


Sampai lupa aku, Renata dia adalah sahabatku. Setelah Key menghilang, aku hanya bersahabat dengan Renata. Selama kita di kampus, kemana-mana kita berdua. Bahkan kita saling menemani kalau kita ke Toilet.


Renata Abraham, putri keluarga terpandang dari pasangan Abraham Putra dan Mareta. Aku mengenal mereka dengan baik. Ternyata Papa juga mengenal baik Papa Renata. Kalau aku bermain ke rumah Renata, aku sering diantar sama Papa.


"Berlin tadi kamu kemana saja??" Tanya Renata

__ADS_1


"Aku menunggu Papa, tadi dia terlambat ke rumah." Ucap Berlin


"Aku pikir kamu nggak akan datang kesini!!" Seru Renata


"Pasti aku datang Renata!!! Hari ini adalah hari yang bersejarah dalam hidupku, kenapa aku tidak datang." Ucap Berlin


Renata seusia Clarisse, aku lebih tua darinya. Kalian pasti tahu kan yang harusnya aku sudah berkuliah, tapi aku masih di persembunyian.


"Berlin, selesai acara kamu kemana??" Tanya Renata


"Aku ada acara makan bersama keluarga." Ucap Berlin


"Tadinya aku mau ajak kamu ke Villa, ya sudah. Lagian pasti kamu juga tidak dikasih ijin sama Om Henry" Ucap Renata


Renata sudah tahu tentang keadaanku, bahkan keluarga Renata juga selalu mengkhawatirkan diriku. Apalagi waktu ayah meninggal, keluarga Renata juga hadir di pemakaman.


"Iya....kamu tahu sendiri gimana Papa sama Mama. Kemana-mana saja aku dikawal." Ucap Berlin


.


.


Acara dimulai, prosesi wisuda berjalan dengan khidmat. Aku bahagia dengan ini, aku bangga dengan diriku sendiri berdiri diantara para wisuda.


Acara telah selesai, walaupun aku bukan dari salah satu mahasiswa terbaik. Tapi aku tidak masalah. Yang jelas pengalaman aku selama berkuliah, itulah penghargaan yang pantas untuk diriku. Setelah dulu hanya dikenal sebagai mahasiswa yang ada nama tapi tak nampak.


Aku bisa.. Aku bisa lulus.. Aku bangga dengan hasil yang aku raih.


"Selamat ya sayang, Putri Papa sudah Sarjana!" Ucap Henry menatap Berlin bahagia


"Iya Papa, Terima kasih atas semua yang Papa lakukan untuk Berlin. kalau saja nggak ada Papa, apa bisa Berlin lulus kuliah." Ucap Berlin


"Mana mungkin Putri Papa tidak akan berkuliah. kemanapun kamu berada, Papa akan selalu didekat kamu, tanpa kamu tahu." Ucap Henry


"Mmmmm Papa... Berlin sayang sama Papa." Ucap Berlin


Pelukan Papa memang pelukan terhangat, aku nyaman dan aku sangat bahagia Papa.

__ADS_1


"Heemmmss Papa saja yang dipeluk, terus Mama kapan dipeluknya??" Tanya Ayolla


"aaah... Mama.. bisa saja.....pastilah peluk Mama juga.. Berlin sayang sama Mama. Berlin juga suka dekapan Mama, sangat nyaman dipeluk Mama" Ucap Berlin


"Iya sayang,, Mama dulu jauh dari kamu, sekarang Mama juga sibuk dengan pekerjaan Mama. Tapi Mama tidak akan melupakan Berlin. Berlin adalah Permata Hati Mama" Ucap Ayolla


"Berlin Permata Hati Mama, terus dia??..." Tanya Berlin


.


.


"Dia ..... hanya suami Mama, Mama juga tidak memiliki anak selain kamu." Ucap Ayolla


.


.


"Lalu dia kemana Ma?? kita sudah bersama tapi tidak pernah datang." Tanya Berlin penasaran


.


.


"Iya pasti dia akan datang, kamu bisa memanggil Papa, Ayah atau Om." Ucap Ayolla


"Baiklah... " Ucap Berlin dengan tersenyum


Kita tidak memandang tentang hubungan, yang jelas ada cinta diantara kita semua. Aku bahagia mereka berdua ada disisiku. Aku tidak peduli dengan siapa aku tinggal, antara Mama dan Papa.


Dulu memang aku tinggal di rumah yang itu. Saat awal aku pulang ke kota ini. Tapi semenjak kepergian Ayah Romy, aku sering tinggal dengan Papa. Karena aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang diberikan Tuhan untuk aku.


I Love You Mama


I Love You Papa


Mereka merubah kehidupanku dengan lembaran baru, suka cita dalam kehidupanku sudah mulai tergores dengan senyuman bahagia.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2