Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Perlahan Menghilang


__ADS_3

"Kakak, sebenarnya apa yang terjadi dengan kakak ipar?" suara Giiken seolah sedih


"Kakak sudah bersalah, kakak melakukan sebuah kesalahan." Key dengan tatapan tajam


"Seharusnya ini tidak terjadi. Kakak Ipar begitu mencintaimu." Giiken bingung


"Bahkan kakak lebih mencintai dia, dan kakak harus membuat kesalahan itu. Tapi dia tidak suka dengan tindakan kakak." Key menghela nafas


"Baiklah, Giiken mau pergi dulu." Giiken meninggalkan ruang kerja Key dengan penasaran


Di rumah Berlin sedang berhias, tidak biasanya dia ingin tampil cantik dan anggun. Dia dengan gaya softpink dan memakai Dress warna pink cerah. Lalu memakai sepatu wanita senada dengan bajunya. Bahkan dia juga memakai tas warna pink muda dengan motif bunga sakura.


Berlin berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu rumahnya. Seorang bodyguard membuka pintu mobil itu dengan pelan dan Berlin duduk di bagian kursi belakang. Seorang sopir menanyakan ingin pergi kemana, lalu dia menjawab ingin ke kantor suaminya.


Mobil berjalan menuju kantor Key. Sekitar tiga puluh menit Berlin tiba dikantor suaminya. Ini kali pertama Berlin menginjakkan kaki di Kenan's F.C.


Berlin berjalan dengan anggun, semua orang sudah mengenal Berlin sebagai nyonya Key Kenandeff. Mereka semua menyapa Berlin dan Berlin tersenyum sangat manis.


Berlin menuju ke ruangan Giiken,


"Giiken" Berlin menyapa Giiken dengan tersenyum dan sangat cantik.


"Kakak kesini, dari mana tahu ruangan Giiken?"


Giiken berdiri dari kursinya dan mendekati Berlin.


"Tahu dari resepsionis di lobby. Kamu kenapa, tidak suka aku disini?" Berlin tampak tersenyum.


"Bukan begitu, apa kak Key tahu kalau Kak Berlin kesini?" suara Giiken terkesan tidak suka.


Giiken juga tidak enak dengan kakaknya dan baru saja dia berbicang dengan kakaknya menceritakan Berlin.


"Aku mau ngobrol sama kamu, tapi bukan disini. terus jangan bilang sama Key." Berlin meminta.


"Jangan begitu Kak, saat ini Kak Key bingung dengan keadaan Kak Berlin." Giiken khawatir.

__ADS_1


"Baik, kalau kamu tidak mau. Aku bisa pergi sendiri." Berlin tampak kecewa dengan Giiken.


"Ya sudah, kalau begitu kita mau kemana?" Giiken bingung.


"Kita ke atap Robinson. Aku sudah memesan Helikopter disana." Berlin bersemangat.


"Kalau begini, Giiken nanti kena marah sama Kak Key." Giiken khawatir.


Tiba-tiba Key datang ke ruangan Giiken karena sudah mendapatkan kabar kalau Berlin berada di kantornya.


"Kak Key," Suara Giiken merasa sesak.


"Sayang, kamu disini?" Key berusaha memegang tangannya.


"Iya, aku mau pergi sama Giiken." Berlin tampak dingin dan tidak punya perasaan.


"Kalian mau kemana? aku khawatir sama kamu." Key sedang menata perasaannya karena semenjak Cassandra meninggal, Berlin tampak menghindari Key.


"Maaf kakak, Giiken juga tidak tahu. Kak Berlin datang tiba-tiba mengajak Giiken pergi." Giiken juga bingung dengan situasi ini.


Berlin tampak tidak bersalah.


"Kamu tidak biasanya berdandan begini sayang," Key menatap aneh tapi mengelus rambut Berlin dengan lembut.


"Kenapa, aneh dengan penampilan aku?" Berlin tampak kesal.


"Kamu cantik sayang, terlihat berbeda." Key berusaha tenang.


"Ayo Giiken, keburu siang nanti panas. Disini ada atasan kamu, sekalian minta ijin hari ini." Ucap Berlin sambil menarik tangan Giiken.


"Kakak, bagimana?" Giiken menatap Key dengan rasa cemas.


"Baik, kalian boleh pergi. Tapi ingat harus kasih kabar sama aku." Key menatap istrinya dengan perasaannya yang dalam.


"Biar Giiken saja yang telfon kamu. Ayo Giiken kita berangkat." Berlin lalu beranjak meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Kakak percaya sama kamu, tolong jaga Berlin" Key menepuk pundak Giiken.


"Nanti Giiken akan telfon kakak" Perasaan Giiken juga tidak tenang.


Akhirnya Berlin dan Giiken berada di sebuah pantai. Pantai yang cantik dengan kilauan air memancarkan keindahan.


"Giiken, kamu tahu tentang pantai ini?" Berlin menanyakan kepada Giiken.


"Ini pantai pasir putih." Jawab Giiken sambil memegang ponsel.


"Pantai ini memiliki cerita, orang mengenal pantai ini dengan sebuah cerita gadis dan pria menjalin sebuah ikatan. Tapi gadis itu tiba-tiba menghilang, dan pria itu masih mencarinya. Apakah gadis itu tenggelam dilautan? aku masih penasaran dengan cerita itu." Berlin tampak memandang jauh.


"Aku tidak tahu cerita seperti itu. Bahkan aku tidak percaya dengan cerita itu." Giiken juga memandang jauh ujung pantai.


"Giiken, kalau aku menghilang apa Key akan mencari aku?" Berlin memandang Giiken.


"Pasti Kakak mencarimu, tapi kenapa kamu berfikir seperti itu?" Giiken memandang Berlin.


"Rasanya aku ingin ke suatu tempat, dan tidak ada yang mengenali aku." Berlin dengan tersenyum.


"Kakak jangan aneh-aneh, harusnya kakak bahagia dengan kehidupan kakak sekarang. Apa kakak sudah lupa dengan masa sulit kakak?" Ucap Giiken


"Karena itu, kakak ingin memulai kehidupan kakak yang baru, dan melepaskan semua yang ada." Ucap Berlin dan tersenyum


"Giiken tidak akan khawatir, mana mungkin kakak bisa lari dari para Bodyguard kak Key, dan kak Key pasti bisa melacak kak Berlin dengan cepat." Giiken tersenyum.


"Kamu benar, ya sudah aku mau ke toilet dulu. kamu tunggu disini saja." Berlin beranjak pergi meninggalkan Giiken.


Giiken menghubungi Key dan menceritakan apa saja tentang Berlin. Dan Key sangat Khawatir dengan perkataan Berlin itu. Key menyuruh Giiken dan pengawalnya mengawasi Berlin.


Sudah sepuluh menit berlalu tapi Berlin belum kembali dari toilet. Giiken mencarinya, bahkan tadi ada pengawal yang mengikuti Berlin. Giiken sudah mulai panik dan benar ternyata Berlin tidak ada di toilet itu. Seluruh Bodyguard mencari secara terpisah bahkan Giiken menuju pos pengaduan yang ada di pantai itu.


Berlin menghilang, tidak tampak terlihat. Bahkan setiap orang ditanya tidak melihatnya.


Berlin sudah berada dalam sebuah bus yang sudah berjalan dia memakai kaos putih dengan kacamata hitam juga masker diwajahnya. Berlin juga sudah tahu alat pelacak ditubuhnya, jadi Berlin membuang alat pelacak itu di sekitar pantai.

__ADS_1


"Maafin kakak Giiken, kamu harus menjadi saksi kepergian Kakak" Ucap Berlin didalam bus dan memandang keluar, tampak pantai dari kejauhan.


__ADS_2