Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Dunia Berlin Arora


__ADS_3

Malam ini aku ikut gabung diacara makan malam perusahaan Om Fabian, tadinya mama mau datang, tapi tiba-tiba ada urusan penting. Hanya aku, Om Fabian bersama asisten dan karyawan perusahaan. Perusahaan juga baru satu bulan berdiri. Jadi karyawan masih bisa dihitung jari.


Kita disebuah restaurant yang tidak jauh dari kantor MM. Ruangan khusus untuk kita, meja bulat yang sangat besar dan beberapa kursi melingkari meja itu. Berlin duduk disebelah kanan Om Fabian,


"Berlin kenapa sayang??." Tanya Fabian


"Nggak apa-apa Om. Mama nggak jadi datang." Ucap Berlin


"Iya, Om sudah tahu. Mama kamu berusan telfon." Ucap Fabian


Karena semua sudah menunggu, akhirnya Om Fabian membuka acara makan malam ini,


"Semuanya selamat malam, biar kita menjadi akrab, kita disini semua santai saja, kalau begitu mari kita makan." Ucapan Fabian dan semua staff menatap dengan tersenyum


"Mr. Fabian, Ibu Ayolla apa tidak hadir??" Tanya Staff


"Iya tadinya kita menunggu Ayolla, ternyata ada urusan mendadak. Mari semuanya silakan makan." Ucap Fabian


"Baru kali ini Berlin makan ramai-ramai, Berlin suka. Om Fabian.... makasih sudah ngajak Berlin ikut makan bareng." Ucap Berlin tersenyum


staf- semua menatap aku, mungkin aku aneh dimata mereka

__ADS_1


"Memang kamu tidak pernah makan bersama??" (staf 3)


"Berlin, nggak pernah makan bersama dengan suasana ramai begini." Ucap Berlin


"Sayang... sudah.. ayo kamu makan dulu.," Fabian tersenyum


Lalu aku melihat mereka semua menatapku, sepertinya mereka semua orang yang baik.


"Apa Berlin boleh berteman dengan kalian??" Tanya Berlin


"Giiken mau berteman sama Berlin." Ucap Giiken


"Iya kita semua mau berteman." Ucap Staff


"Maksud kamu Berlin??" - Staf


"Berlin senang, bisa makan bersama seperti ini. Dulu waktu kecil makan hanya ada ibu, dan ayah. Terus 4 tahun lalu makan ditemani kakak, Papa, Mama, tapi kakak juga pergi lupa sama Berlin. Kadang makan cuma berdua sama Papa kalau dirumah Papa, Om fabian belum datang cuma sama Mama, kadang sendiri kalau Mama pulang malam. Kalau jalan sama Adik makan bertiga, Tetap saja tidak seperti ini. Kalau di kampus dulu sama kakak, semenjak kakak pergi cuma sama Renata. Kehidupan Berlin semua diawasin dari makanan, dari kamar tidur dan semuanya. Berlin tidak bisa bergaul sesuka hati, kemana-mana di kawal bodyguard. Kadang Berlin kangen masa SMA dulu, tapi mungkin bertemu mereka, pasti sudah nggak kenal Berlin. Karena wajah Berlin berbeda" Berlin menceritakan tentang dia


"Sayang.. sudah.. kamu nggak perlu ingat hal itu lagi ya.. kita disini biar kamu kenal mereka dan berteman, mereka juga seusia kamu. Om sudah bilang sama Mama kamu, perlahan kamu harus melihat dunia luar. Om akan menjaga kamu." Ucap Fabian menenangkan


"Wajah kamu berbeda??" -Staf Penasaran

__ADS_1


"Iya,,, kalian semua pasti juga bingung. Beberapa waktu lalu Berlin juga marah sama adik, ingat tentang wajah Berlin, awalnya kesal dia ungkit luka lama. Lalu Berlin sadar kalau semua ini untuk kebaikan Berlin. Hari ini Berlin tahu bahwa Mama berbuat ini semua untuk Berlin. Dia menghidupkan kembali anaknya tanpa melihat lainnya. Mama berjuang untuk kesembuhan Berlin, dan Papa menjaga keamanan Berlin. Berlin hidup dikuasi oleh mereka, karena cinta mereka untuk Berlin." Ucap Berlin dan semua menatapnya


"Jadi kamu, .. -Staf. masih bingung.


"Dulu Berlin pernah kecelakaan dan Berlin sekarang bukan Berlin yang remaja" Ucap Berlin


"Giiken mau berteman sama kamu, tapi kamu mau ngga berteman sama Giiken??" Jawab Giiken lalu kembali bertanya


"Tapi Berlin khawatir.. Berlin sudah banyak kehilangan orang-orang yang Berlin sayangi." Ucap Berlin dengan sedih


"Sudah sayang! mereka sudah mengerti keadaan kamu, makanya sebelum kamu datang, Om bilang sama mereka nanti ada Putri Mr. mau datang kesini tapi ada beberapa bodyguard juga. Sekarang lanjut makannya." Ucap Fabian


Setelah itu aku menjadi lega, Giiken semoga kamu mengerti, sebagai teman. Aku hanya ingin tidak ada penyesalan nantinya. Karena memang dunia Berlin dan kalian semua berbeda. Berlin juga ingin hidup bahagia. Tapi Berlin takut kehilangan lagi.


"Ok... Berlin berteman dengan kalian semua" Ucap Berlin dengan tersenyum


Mereka bahagia melihat aku bahagia. Aku tersenyum melihat mereka semua. Mulai besok aku bekerja di MM.


Hal terindah dari pertemanan adalah


memahami dan dipahami, tanpa pernah memaksa dan ingin menang sendiri. Bila sebuah awal hanya ingin sendiri, tapi pada akhirnya harus memiliki teman seperti dia.

__ADS_1


**Berlin Arora


🌻🌻🌻🌻🌻**


__ADS_2