Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Bangun Dari Tidur Panjangku


__ADS_3

Malam kelabu, dua puluh hari aku hanya terbaring. Sampai kapan, aku dalam bayangan kematian ini. Aku seperti tidur panjang dan aku bermimpi, ada ibu disampingku, dengan tangannya yang lembut mengusap air mataku. Ibu aku merindukanmu, aku ingin bersamamu, Ibu hanya diam dan tersenyum.


Papa ada disampingku, dia selalu mengajak aku berbicara. Karena hanya Papa dan Edward yang diijinkan oleh Key untuk masuk keruangan itu. Ntah kenapa, aku juga tidak tahu. Lalu air mataku mulai menetes dan tubuhku sepertinya sudah kembali normal. Kemudian perlahan aku membuka mata, dan melihat tatapan Papa yang penuh kasih.


"Pa...... Papa" Suara Berlin terbata


"Berlin.. kamu sudah bangun sayang... " Ucap Henry dan merasa lega


Kemudian Papa memanggil Dokter, dan Dokter memeriksa keseluruhan badanku. Aku mulai melihat mereka yang mengenakan pakaian biru.


"Berlin.. kamu sudah sadar, apa yang kamu rasakan??" Tanya Dokter


"Dingin dokter," Ucap Berlin


"Kamu bisa menggerakan jari kamu??" Tanya Dokter


"Bisa dokter." Jawab Berlin


"Coba perlahan kamu menggerakkan kaki kamu" Pinta Dokter


Kenapa kaki aku terasa dingin dan sulit sekali untuk menggerakkannya, aku mulai takut dan rasanya badanku semakin dingin.


"Ya sudah.. kamu beristirahat dulu, kamu mau minum??" Tanya Dokter


Benar tenggorokan rasanya sangat kering, mungkin karena aku Koma jadi hanya tetesan air yang melewati tenggorokan.


"Iya dok... " Ucap Berlin


Lalu suster memberikan aku minum dengan perlahan, semua suster dan dokter belum beranjak dari ruang itu. Mereka masih memeriksa dan memantau keadaanku. Karena kakiku masih dingin, sepertinya kakiku tidak akan bisa berjalan lagi. Tapi dokter tidak mengatakan apa-apa. Lalu mereka semua keluar dan Papa kembali ke ruangan itu.


"Sayang... Papa merindukanmu" Ucap Henry


Papa mencium keningku lalu duduk disampingku.


"Papa.. Mama....??" Tanya Berlin

__ADS_1


"Mama kamu diluar sayang, semua menunggu diluar." Ucap Henry


"Berlin kangen" Ucap Berlin


Suaraku juga masih lemah, ingin sekali aku memeluk Papa tapi tidak bisa, tubuhku masih lemah.


"Kamu istirahat ya sayang, nanti Dokter akan memindahkan kamu ke ruangan lain. Nanti kamu bisa bertemu Mama dan lainnya." Udap Henry


Berlin hanya tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan Papa. Berlin kembali tertidur, dan setelah terbangun Berlin sudah berada di ruang VIP dan didalam ruang itu ada Mama, Papa, Edward dan Om Fabian.


"Ma.... " Ucap Berlin


"Iya sayang.. ini Mama.. " Ucap Ayolla tersenyum


"... kangen" Ucap Berlin terbata


Suaraku masih terbata-bata aku ingin sekali segera memeluk Mama dan mengatakan Berlin kangen Mama.


"Mama juga kangen banget sama kamu sayang," Ayolla memeluk Berlin


Mereka menatap Berlin dengan rasa rindu. Aku selalu membawa orang-orang yang disekitarku dalam masalah. Seandainya aku tidak bekerja pasti, aku tidak menyeret karyawan Om Fabian untuk masalah ini. Pasti mereka semua dalam kecemasan dan ketakutan.


"Om Fabian... " Ucap Berlin


"Iya sayang.. kamu istirahat ya.. tidak usah berfikir dulu. Om Fabian sayang Berlin."


Hanya senyum kecil yang aku berikan. Dan aku milihat ke Edward yang tampan tapi dia dalam kesedihan dari sorot matanya sudah berkaca-kaca


"Edward.. adik kakak... " Sapa Berlin


"Iya.. Edward ada disini.. setiap hari Edward jagain kakak.. Edward nungguin kakak bangun." Ucap Edward


"Emmmss.... Kakak tahu, kamu juga menangis, kakak mendengar seperti mimpi." Ucap Berlin


"Kakak istirahat ya, kita semua tidak boleh lama-lama disini, diluar masih banyak penjagaan" Ucap Edward

__ADS_1


kemudian Key Kenandeff masuk keruangan itu dan yang lainpun keluar dari ruangan.


"Kamu sudah bangun??" Tanya Key


"Emmmss.. Kamu" Ucap Berlin


Ada air mata kerinduan yang menetes dari pipiku, ntah apa yang aku rasakan. Ingin sekali aku memaki dia dan berkata dia jahat. Tapi aku tidak bisa. Aku sangat merindukan dia. Dia yang selalu bersamaku setiap hari untuk membuka lembaran baru. Jadi dia seperti belahan jiwaku yang telah lama pergi.


"Sudah.. jangan menangis.. mau aku marahin lagi seperti dulu???" Ucap Key


"Harusnya aku yang marah........ " Ucap Berlin


tapi aku masih lemah.. tidak banyak kata terucap dari bibirku yang kering.


"Istirahat.. jangan banyak pikiran.. aku sayang sama kamu, mana mungkin aku lupa, aku juga sudah berjanji nanti akan kembali ke rumah itu" Ucap Key


"Kamu bohong"


"Buktinya sekarang aku disini, aku tidak berbohong" Ucap Key tersenyum


"Luka kamu sudah kering????" Tanya Berlin


"Oeh.. ini.. kamu masih mengingatnya, berarti kamu sudah pulih. Aku senang akhirnya kamu kembali" Ucap Key


"Tapi kakiku... " Perasaan Berlin takut


"Sudah.. jangan banyak berfikir. Itu hanya karena obat, perlahan pasti bisa kembali normal." Ucap Key menenangkan Berlin


Lalu aku diam dan menatap dia. Ternyata memang tak ada sedikitpun yang berubah dari dia. Malah semakin terlihat tampan.


"Aku haus......" Ucap Berlin


"Iya.. aku akan ambilkan minum" Balas Key


Dia mengambilkan minum dari dispenser yang ada dalam ruangan itu. Kemudian ada suster yang masuk membawa makanan. Dengan teliti Key mencoba makanan itu. Lalu dia menyuapi aku. seketika keadaan ini membuat aku nyaman. Ternyata dia tidak melupakan aku. Terima kasih kamu sudah kembali dalam kehidupanku.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2