
Saat ini aku sudah berada di sebuah tempat yang terkenal dengan nama Kota Kembang. Aku sedang menikmati makan siang di sebuah cafe, banyak anak muda yang sedang bercengkrama dengan teman atau pasangan mereka. Melihat itu aku jadi rindu suamiku.
Setelah dari cafe itu aku pergi dengan mobil travel, aku hendak pergi ke Kota Hujan. Kota dimana mama Ayolla pernah tinggal. Aku ingin disana sementara waktu, sampai aku merasa nyaman dengan hidupku.
Tiga jam perjalanan membuat aku tertidur nyaman, lalu ada seorang gadis disebelahku yang membangunkan aku dan dia mengatakan kalau sudah hampir sampai.
Aku sudah sampai di Kota Hujan, tapi aku bingung. Awalnya aku ingin ke Villa, pasti disana sudah ada Robinson yang mengawasi.
Aku ingin mencari rumah sewa. Aku mencari info dari aplikasi handphone. Sambil memilih rumah sewa aku makan asinan buah, aku jadi teringat bunda ketika Key mengidam. Bunda mebuatkan asinan Mangga dan aku berikan pada Cassandra.
Sebenarnya aku pergi meninggalkan Key, bukan karena kepergian Cassandra. Tapi Key sudah berubah, Key tidak memberikan aku kesempatan untuk kehidupanku, padahal kita sudah menikah. Dan ternyata dia selalu melacak keberadaanku. Aku baru mengetahuinya dan itu membuat aku kecewa meskipun itu untuk keselamatanku.
Aku sedang berjalan ke rumah yang aku pilih. Rumah itu tidak jauh dari pusat kota. Dari luar tampak kecil, ada carport, dan sedikit halaman depan. Begitu masuk ke dalam rumah ada dua kamar yang sudah rapi dengan tempat tidur dan satu lemari, lalu ada satu kamar mandi, dapur, juga sedikit ruang belakang untuk menjemur pakaian.
"Bagaimana, Ibu suka dengan rumah ini?" Tanya seorang ibu pemilik rumah.
"Iya, saya suka. Lalu bagaimana kontrak sewanya?" Tanya Berlin
"Kalau Ibu sudah cocok, saya akan membuat kontraknya, dan harga itu sudah termasuk air dan listrik. Saya akan mengisi token listrik untuk satu bulan." Kata Ibu pemilik rumah
"Baik, saya mau. Ibu namanya siapa? tadi kita belum perkenalkan." Tanya Berlin
"Saya, Mirna. Kamu bisa memanggil saya Bu Mirna." Ucap Mirna
"Saya Berlin, senang bertemu Bu Mirna" Ucap Berlin sedang berjabat tangan
"Ibu Berlin sudah berkeluarga?" tanya Mirna
"Iya, saya sudah berkeluarga. Tapi saya tinggal disini sendiri. Karena suami saya masih di luar kota. Apa saya harus melengkapi dengan kartu keluarga?" Tanya Berlin yang bingung
__ADS_1
"Iya, sebenarnya ibu harus melengkapi surat keluarga. Untuk melapor pada ketua komplek ini. Tapi bila Ibu Berlin tidak membawa tidak masalah, saya akan mengurusnya." Ucap Mirna
Setelah mereka melakukan kesepakatan, Mirna pulang. Berlin menutup gerbang pagar dan menguncinya. Berlin beranjak untuk mencuci pakaiannya, karena dia tidak banyak membeli baju. Dalam tas ranselnya hanya tersisa dua baju ganti, dan uangnya yang semakin menipis. Karena Berlin tidak bisa mengambil dari ATM, kalau dia melakukan penarikan pasti Key akan tahu keberadaan Berlin. Berlin hanya membawa uang tunai dan itupun dia mengambil dari brankas Key.
"Sayang lapar," Ucap Berlin dengan memegang perutnya.
"Sayang, Maafin Mommy, kamu capek atau senang? kita jauh dari Daddy." Ucap Berlin dengan mengelus perutnya.
Berlin sudah mengandung, dia juga baru tahu setelah dari tempat Mang Ujang. Waktu makan dengan Kirana di tempat wisata dia mual tapi yang lain tidak tahu, karena Berlin langsung ke toilet. Berlin mengingat tanggalnya, dan saat pagi di Kota Kembang dia datang ke rumah bidan, dan hasilnya Berlin hamil dua bulan.
"Sayang, mommy mau masak dulu. Kamu suka apa sayang?" Berlin sambil melihat isi kulkas,
Sebelum Berlin ke rumah itu, dia sudah berbelanja sayuran dan buah di pasar kota. Karena dia tidak ingin membeli makanan di luar. Ada bayam, brokoli, wortel, kentang, tomat dan bahan lainnya. Serta buah-buahan yang segar juga masam.
"Mommy bingung sayang, bagaimana cara menggoreng tempe," Ucap Berlin,
Lalu dia buka ponsel dan melihat beberapa tutorial memasak tempe mendoan.
Berlin sebenarnya dulu sering membuat rusuh di dapur ketika masih bersama Ayunna, dia tidak pernah memperhatikan apa yang dimasak Ibunya. Berlin hanya mengacak-acak tepung dan bermain.
"Ibu, aku menyesal kenapa dulu tidak memperhatikan Ibu waktu memasak, Ibu apa kau melihat aku sekarang." Ucap Berlin
Setengah jam sudah akhirnya dia bisa menggoreng tempe itu dan sayur bayam.
"Untung saja aku tahu cara menyalakan kompor ini, kalau tidak aku sudah kelaparan. Sayang ayo kita makan." Ucap Berlin dengan mengelus perutnya
Sebelum memasak lauk. Berlin juga tidak tahu cara memasak nasi dengan rice cooker, dia cari tahu dari aplikasi ponselnya. Dan dia baru tahu kalau beras harus dicuci bersih, kemudian diberi air sesuai takaran lalu memasukkan kedalam rice cooker dan menekan tombol cook, menunggu sampai nasi matang.
Key dan lainnya sudah di Dream House, mereka juga sempat singgah ke Kota Kembang. Tapi mereka tidak bertemu. Sebenarnya mobil Key melewati Berlin yang sedang berjalan. Karena Berlin memakai jaket, masker dan topi. Key dan lainnya tidak mengenalinya.
__ADS_1
"Harusnya kalian ketempat itu dulu. Henry kenapa kamu tidak berfikir Berlin kesana, malah kamu ke Villa dulu." Ayolla tampak emosi
"Sudah sayang, kita semua sudah berusaha. Yang penting Berlin sehat, dan kita sudah mendapatkan petunjuk. Kita sudah mengerahkan orang untuk mencari di Kota Kembang." Ucap Fabian
"Key, yang salah Ma. Mama tidak perlu menyalahkan Papa. Kalian bisa melihat apa yang digambar Berlin. Dia kecewa dengan Key, karena Key selalu mengawasi dia." Ucap Key
"Kamu berbuat itu, untuk keselamatan Berlin. Papa mengerti itu. Kita hanya bisa berusaha untuk mencari Berlin. Tapi kita semua juga harus tenang." Ucap Henry menghela nafas
"Kak Key, apa tidak melacak dari ATM, kalau dia naik pesawat atau kereta sepertinya dia takut kita menemukannya. Waktu itu dia hanya membawa tas kecil, pasti hanya ada sedikit uang." Ucap Giiken
"Iya, kamu benar. Tapi kakak sudah melihat ATMnya dari kemarin, ATM sama sekali tidak ada penarikan. Bahkan Berlin sudah membeli ponsel baru untuk dia dan Kirana, pasti uangnya tinggal sedikit. Berlin pergi hanya membawa sepuluh juta." Ucap Key
"Apa kamu bilang Key, sepuluh juta?!!" Suara Ayolla kaget
"Iya, Key melihat brankas Berlin tidak membawa apapun, hanya uang tunai yang Key taruh disitu dan dia hanya membawa itu." Ucap Key
"Lalu bagaimana dia bisa hidup dengan uang itu? Edward nggak yakin sampai dia bertahan lama." Ucap Edward
"Bunda khawatir Key, Berlin tidak terbiasa makan sembarangan, lalu dimana dia tinggal sekarang." Ucap Bunda menangis
"Kakak, dari gambar ini Archeva lihat. Kak Berlin tidak di Kota kembang, melainkan Kota hujan." Ucap Archeva memandangi gambar diponsel Key.
"Clarisse juga memikirkan hal yang sama dengan Archeva. Seperti kak Berlin sudah mengalihkan kalian." Ucap Clarisse
"Tapi apa kak Berlin sanggup bertahan dengan uang segitu?" Ucap Giiken khawatir
"Dia bisa bangkit dari keadaannya, Key yakin dia bisa bertahan hidup. Dan ini akan membuat kita semakin sulit menemukan dia." Ucap Key sedih
Aku merasa bersalah, keluargaku pasti sedih. Aku sudah membuat mereka khawatir. Tapi aku cukup nyaman dan merasa bahagia disini. Maafin Berlin untuk saat ini, Berlin hanya ingin belajar. Dari masalah ini, Berlin sudah bisa melakukan pekerjaan seorang Ibu.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻