
Dari pintu pagar terlihat bangunan rumah dua lantai, dengan halaman luas, terdapat pohon mangga yang cukup besar tampak beberapa buah mangga menggantung ditangkai. Lalu dibawahnya ada beberapa tanaman hias yang tertata rapi. Terlihat ada mobil terparkir disisi kiri rumah itu.
Aku mulai memasuki halaman itu, aku masih dengan kursi rodaku dan Key mendorong aku masuk ke dalam rumah. Ada seorang Bibi yang membuka pintu rumah.
"Berlin sayang.... nantinya kamu akan tinggal disini. Aku akan menjaga kamu, kamu tidak akan terluka lagi." Ucap Key tersenyum
Aku hanya menghela nafasku. Aku mulai merasa gelisah seperti waktu aku kembali ke kota ini.
"Ini yang namanya Berlin, gadis yang cantik." Sapa Bunda
"Iya Bunda, dia Berlin." Ucap Key
Akhirnya aku bertemu Ibunda Key. Wanita yang lembut dan tampak sederhana dengan memakai dress batik warna hijau, rambutnya pendek tapi rapi, raut wajah yang bersih dengan senyuman.
"Saya Bunda Key, kamu cantik nak. Kamu boleh memanggil saya Bunda" Ucap Bunda
"Bunda saya Berlin Arora" Ucap Berlin tersenyum
"Iya, Key sudah menceritakan tentang kamu sudah lama, Bunda juga ingin sekali bertemu dengan kamu. Ayo kita masuk melihat kamar kamu." Ucap Bunda
"Baik Bunda.. " Ucap Berlin bahagia
Akhirnya aku dengan Bunda menuju ke kamar. Setelah masuk ke dalam rumah. Ternyata rumah ini sangat besar, tampak beberapa ruangan, tujuh kamar tidur, ruang makan, ruang santai dan dapur.
"Ini kamar Berlin, dan kamar sebelahnya itu tadi. kamar Key. Semua ini Key yang menatanya, apa kamu suka??" Tanya Bunda
"Iya Bunda.. kamar yang rapi, Berlin suka." Ucap Berlin tersenyum melihat kamarnya tertata tapi
"Disini Bunda tinggal dengan adik-adiknya Key, dia sedang Bekerja dan yang kecil masih SMA. Nanti kamu juga bertemu mereka." Ucap Bunda
"Kalau Ayah??" Tanya Berlin
"Ayah Key sudah meninggal sekitar dua tahun yang lalu karena penyakitnya. Ayah Key mengidap Kanker empedu." Jawab Bunda
__ADS_1
"Maaf Bunda, Berlin tidak tahu." Ucap Berlin sedih
"Sudah tidak apa-apa, Key sudah bekerja keras untuk keluarga. Katanya akan ada gadis yang tinggal disini. Bunda bahagia, Bunda juga tidak memiliki sanak sodara, jadi Bunda bahagia kalau ada yang tinggal disini. Rumah ini milik Key, dulu kita tinggalnya jauh dari sini. Setelah Ayahnya sakit, kita semua diajak Key kesini dan tinggal disini, karena Key juga ingin merawat ayahnya." Ucap Bunda
"Iya.. Bunda.. berarti Berlin salah, tadinya Berlin berfikir kakak sudah lupa sama Berlin." Ucap Berlin
"Tidak apa-apa, o iya... kamu mau makan apa Berlin? tadi Bunda baru masak Rendang, katanya kamu suka." Tanya Bunda
"Rendang juga boleh Bunda. Pasti kakak sudah cerita." Ucap Berlin
"Iya...... Key menceritakan semua tentang kamu, nanti kalau kamu butuh apa-apa, bilang sama Bunda, atau ke bibi Mun. Bibi Mun yang tadi membuka pintu. Kamu bisa panggil dia." Ucap Bunda bahagia
"Baik Bunda." Ucap Berlin
Berlin tersenyum, setelah Key masuk ke kamar dan merapikan beberapa baju Berlin, Bunda keluar dari kamar.
"Kakak..... Berlin mau bicara sama Kakak" Ucap Berlin
"Dimana istri kakak??"..... Tanya Berlin
.
.
.
.
kakak tidak langsung menjawab aku, dia berhenti menata baju aku. Dan langsung menghampiri aku.
"Kenapa kamu tanya itu... aku belum menikah, masak punya istri." Ucap Key
"Tapi waktu itu.. Berlin liat sendiri, Kakak masuk mini market di kawasan stadion raya, gadis itu cantik, turun dari mobil kakak, lalu mengikuti kakak masuk ke mini market. Berlin hafal mobilnya Audi warna merah." Ucap Berlin
__ADS_1
.
.
.
.
kakak menatap Berlin dengan rasa aneh, sepertinya kakak menyembunyikan sesuatu lagi. Karena Berlin sudah hafal setiap sorot matanya.
"Bukan siapa-siapa Berlin.. cuma orang. Aku belum punya istri." Ucap Key
"Bohong... kata Edward, gadis itu merebut coklat dari Edward yang untuk Berlin. Terus kakak merangkul gadis itu. Nah gara-gara Berlin jadi marah sama Edward. Dia bilang gadis itu cantik alami sedangkan Berlin wajah buatan." Ucap Berlin
"Edward bilang begitu sayang??" Tanya Key
"Iya.. emang perasaan Berlin waktu itu lagi badmood, dia hampir keceplosan ngungkit itu. akhirnya Berlin diemin, Berlin di Kamar, Edward juga ditampar sama Papa. sebenarnya bukan masalah wajah yang buat Berlin Badmood, tapi karena kakak nggak pernah ada kabar, tahu-tahu sudah menikah, terus nggak kasih tahu ke Berlin. tadinya Berlin mau turun kasih ucapan selamat ke kakak, tapi Berlin nggak berani takutnya istri kakak bingung." Ucap Berlin
"Kenapa kamu cemburu sayang???" Tanya Key
"Berlin bukan cemburu, cuma akhir-akhir itu mimpi buruk soal kakak, Berlin jadi khawatir sama kakak, makanya begitu liat kakak masih hidup dan sehat, Berlin cukup tenang." Ucap Berlin
"Kamu khawatir sama aku??" Tanya Key
"Iya.. Berlin sayang sama Kakak, sama kaya dulu kakak selalu ada buat Berlin. Berlin kira kakak lupa, sama Puisi Jingga." Ucap Berlin
"Iya.. itukan tulisan Tante Ayunna. Aku menyalin sedikit puisi itu buat kamu." Ucap Key
"Berlin juga baru tahu waktu marah sama Edward itu, akhirnya baca buku itu sampai kebawa mimpi." Ucap Berlin
Setelah kita berbincang, semua terasa nyaman dihati Berlin. Aku sebenarnya tidak berharap seperti ini. Tapi Key, dia memberiku pelukan terhangat dan aku merasakan kenyamanan.
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1