Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Sore hari di Dream House semua keluarga menyambut kepulanganku. Aku bahagia, mereka sangat menyayangi aku.


Mama memelukmu dengan erat dan air matanya membasahi wajahnya. Lalu menciumku dan mengelus perutku.


"Mama bahagia sayang, kamu akan segera menjadi Mommy. Kamu jangan lagi pergi meninggalkan kita semua. Jangan seperti Mama yang dulu pergi meninggalkan keluarga dan anak Mama. Berlin sayang, kamu harus bahagia." Ayolla dengan rasa sedih telah menyesal dan dia juga merasa bahagia karena Berlin sudah pulang.


"Sudah Mama, bahkan sekarang Berlin mengerti betapa susahnya saat Mama dulu hamil Berlin sendirian. Tidak ada siapapun yang menemani Mama. Terima kasih Mama, sudah melahirkan Berlin dan menjaga Berlin. Walaupun kita dulu terpisah. Tapi Mama orang tua yang hebat. Berlin sayang Mama." Berlin tampak tersenyum dan mengusap air mata Ayolla


Semua yang ada di ruang keluarga menjadi haru, Henry juga menangis melihat mereka. Karena Henry saat itu juga tidak bisa menjaga Ayolla.


"Sayang, ini rujak buatan bunda. Ayo kamu makan." Bunda yang membawakan rujak serut.


"Bunda, rujaknya enak. Kayaknya lebih enak lagi kalau pakai daun pisang." Berlin menginginkan yang lain


"Ok.. Giiken ke pasar beli daun pisang." Ucap Giiken bersemangat


"Sama beliin buah buni. Yang waktu aku beli di pasar, kamu ingat nggak?" Tanya Berlin


"Iya, Giiken inget... apa lagi??" Tanya Giiken


"Emmmm udah itu ajah." Ucap Berlin tersenyum


"Giiken aku anterin, sekalian jalan." Ucap Edward


"Kita naik motor aja lebih cepat." Ajak Giiken


"Ok.. ayo..." Edward berdiri


Bunda duduk di dekat Berlin, Ayolla, Fabian dan Henry keluar menyusul Key di halaman belakang. Key membuat saung untuk Berlin. Karena Berlin menginginkan saung dan kolam ikan seperti di rumah Mang Ujang. Dan harus Key yang membuat sendiri. Tapi Archeva sebagai mandor dan Clarisse merekam Key sesuai permintaan Berlin.


"Kakak, itu miring. Kurang dalam lubangnya. Nanti ambruk lagi..." Ucap Archeva


"Bawel, harusnya kamu ke dalam ajah.. Kakak nggak bisa fokus dari tadi kamu bawel." Ucap Key keringatan


"Papa akan bantuin kamu Key.. Ayo semangat" Henry sudah berganti kaos dan celana pendek mengambil bambu


"Archeva, kamu usap itu keringat Key. Kasian kakak kamu." Ucap Ayolla tersenyum


"Biarin ajah tante, lagian kak Berlin nyuruh dia kerjain sendiri." Archeva yang duduk di kursi santai sambil memakan rujak


"Tante Ayolla, kasih kesan buat Kak Key," Ucap Clarisse mengarahkan kameranya


"Key, kamu harus bisa memenangkan cinta kamu. Kamu buktikan, bahwa kamu suami hebat." Ayolla dengan ekspresi bersemangat

__ADS_1


"Sayang, aku ganti baju. Kasian Key, nanti masih harus bikin kolam juga." Ucap Fabian


"Om Fabian, nggak usah. Nanti ketampanan om Fabian luntur. Biar aja cukup kakak yang kucel nantinya." ucap Archeva yang melewati Fabian dan Ayolla


"Anak manis... ya sudah kita masuk.. biar para lelaki bekerja." Ucap Ayolla merangkul Archeva


Clarisse juga ikut masuk ke dalam rumah dan langsung ke dapur.


"Bunda bikin apa lagi?" Tanya Clarisse


"Bunda bikin bumbu buat ayam goreng, sama ini siapin bumbu buat pecak ikan." Ucap Bunda


"Bunda memang rajin kalau masak. Nggak kaya Mama Clarisse." Ucap Clarisse


"Bagaimana kabar Mama kamu sayang??" Tanya Bunda


"Sehat, cuma akhir-akhir ini kalau Clarisse jenguk tatapan mata Mama aneh." Ucap Clarisse


"Coba kamu bawa dokter konsultasi. Kamu tanya sama dokter tentang kondisi Mama kamu. Apalagi dulu terbiasa hidup bebas. Kamu harus sabar." Ucap Bunda memperhatikan Clarisse


"Benar juga bunda. Nanti bilang sama Kak Berlin dan Kak Key dulu." Ucap Clarisse lalu mengambil minuman dari kulkas


Nettly masih didalam penjara. Bahkan Nettly mendapatkan hukum berat. Clarisse juga masih peduli dengan Mamanya. Tapi Clarisse masih ada Papa, walaupun Papanya sudah menikah lagi. Tapi Clarisse tetap berhubungan baik.


"Rayzen... sayang Kakak Berlin??" Tanya Berlin


"Sini peluk kakak. Kamu bobo disini ajah sama kakak," Ucap Berlin


"Nanti Kak Clarisse sama siapa?" Tanya Rayzen


"Kakak Clarisse sama kakak Edward. Jadi nanti kamu tinggal disini ajah. Sama Kak Berlin." Ucap Berlin memeluk Reyzen


Ayolla dan Archeva menonton drama Korea di ruang TV lalu Clarisse mengusul mereka.


"Tante, Edward kemana?" Tanya Clarisse


"Ikut Giiken ke pasar beli daun pisang." Ucap Ayolla


"Oeh.. kirain tidur.." Clarisse lalu duduk bersama mereka


"Archeva, bunda kamu sibuk sama pembantu di dapur kita disini duduk manis." Ayolla disamping Archeva


"Bunda memang gitu. Selalu sibuk di dapur." Archeva masih fokus di depan TV

__ADS_1


Berlin menggandeng Rayzen ke ruang TV.


"Para ibu-ibu menonton drama, para bapak-bapak di belakang membuat saung." Berlin masih berdiri


"Archeva bukan ibu-ibu kakak!!!" Teriak Archeva


"Owh.. disini ada Archeva. Kirain ibu-ibu." Ucap Berlin meledek Archeva


Semua dengan kesibukan masing-masing. Tanpa terasa sudah malam. Setelah makan malam bersama, semua pulang kecuali Rayzen yang masih tinggal di rumah Berlin.


Rayzen cukup manis dan tidak rewel. Berlin mengajaknya untuk tidur. Berlin membacakan sebuah buku dongeng. Perlahan Rayzen tertidur dalam pelukan Berlin. Sebenarnya Berlin ingin sekali Nettly bebas dari penjara. Tapi Key masih memikirkannya.


Nettly mungkin sudah bersalah. Tapi Berlin sangat menyayangi Clarisse dan Rayzen. Apalagi Clarisse akan segera menikah dengan Edward. Berlin ingin semua keluarga berkumpul. Begitu juga Clarisse dan Rayzen pasti ingin sekali Mamanya ada disisinya dihari yang penting itu.


Key mungkin bisa mengeluarkan Nettly dari penjara. Tapi Key masih khawatir, apalagi Berlin sedang hamil. Key sangat menjaga istri dan anaknya.


Kehamilan Berlin sudah memasuki bulan ke enam. Selama beberapa bulan tinggal di kota hujan. Berlin banyak belajar tentang kehidupan rumah tangga. Selama hamil dia selalu berantem dengan Key. Mungkin bawaan kehamilan. Tapi Key sabar menghadapi Berlin.


"Sayang, kamu tidur disini?" Tanya Key


"Iya, sayang. Aku mau bobo sama Rayzen. Kasian dia masih kecil. Tapi Mamanya harus jauh darinya. Apa kamu tidak kasian?" Tanya Berlin


"Aku tahu, apa yang kamu pikirkan. Nanti aku akan coba bicarakan dengan pengacara." Key dengan menatap Rayzen


"Sayang, kamu keren. Aku suka." Ucap Berlin tersenyum


"Ayo pindah ke kamar. Aku sudah capek. Seharian bikin saung. Pegel semua badanku." Ucap Key serasa membujuk Berlin


"Baru gitu ajah udah capek. Iya, tapi aku mau bobo sini. Lama nggak ketemu Rayzen. Kalau kita setiap hari ketemu." Ucap Berlin


"Ok.. aku balik ke kamar." Key tampak murung


Berlin tidak tega melihat suaminya. Akhirnya Berlin menyusul Key. Berlin memeluk Key dari belakang.


"Sayang kamu bobo?" Tanya Berlin


"Belum..." Ucap Key


"Baby nendang-nedang, coba kamu ajak dia bobo." Ucap Berlin sambil menaruh tangan Key di perutnya.


Key dengan rasa cinta, langsung mencium perut Berlin, dan mengobrol dengan Baby yang ada di perut Berlin. Berlin seketika tertawa mendengar obrolan Key kepada anaknya. Berlin merasa terhibur, karena suaminya sangat pandai bercerita.


Malam yang bahagia bersama orang tercinta.

__ADS_1


Mungkin kebersamaan hari ini tak akan terulang lagi. Tapi aku percaya akan ada hari-hari esok yang lebih membahagiakan.


Berlin Arora


__ADS_2