
"Key kamu harus mencari Berlin. Mama kecewa sama kamu" Ucap Ayolla
Suara Ayolla terdengar menyakitkan dan Ayolla tidak berhenti menangis
Sehari pencarian Berlin, Key hanya duduk di depan layar mecari jejak Berlin. Markas Robinson sangat ramai, semua keluarga datang dengan rasa khawatir.
"Tante Ayolla, bukan kakak yang bersalah. tapi Giiken, harusnya Giiken menjaganya selama di pantai, harusnya Giiken waspada setelah dia mengatakan cerita itu. Giiken yang bersalah." Suara Giiken dengan rasa kesedihan
"Tante juga kecewa sama kamu, harusnya kamu bilang sama tante kalau Berlin kondisinya tidak stabil. Kalian sama saja!!!" Ayolla masih dengan amarahnya
"Sudah Ayolla, kamu jangan memperkeruh suasana, kita semua juga khawatir. Fabian juga sedang ke kantor polisi untuk pencarian Berlin. Kita lebih baik fokus sama pencarian Berlin. Kamu pulang saja sama Clarisse, aku sama Edward mau ikut mencari Berlin." Suara Henry dengan tegas
"Kalau begitu aku juga ikut kalian." Tegas Ayolla
"Tante, lebih baik di rumah saja, Giiken akan terus mencarinya. Sebenarnya dia mengatakan kalau dia ingin ke suatu tempat tanpa orang mengenal dia. Giiken berfikir dia ada di daerah terpencil atau desa." Ucap Giiken
"Key, apa kamu hanya akan diam seperti itu? dan tidak mencari istri kamu?" Ayolla masih marah dengan Key
Key masih terdiam tanpa bicara apapun. Dia menggenggam alat pelacak yang ditemukan bodyguard. Alat itu ukurannya sangat kecil, dan berada dalam sebuah liontin kalung.
Key memakaikan kalung itu, waktu berpamitan dengan Berlin. Dan itu sekitar 3 tahun lalu, saat Key meninggalkan rumah Ayolla.
"Ayolla sudah, kamu tenang. Kamu juga harus memahami perasaan Key, dia yang paling menderita saat ini. Kamu harus tenang." Suara Henry dengan tenang
"Iya tante, lebih baik kita pulang dulu. Clarisse akan mengantar tante, biar Om Henry dan Edward ikut mencari Kakak." Ucap Clarisse dengan memegang tangan Ayolla
"Papa, ayo kita berangkat sudah ditunggu sama anggota lain." Ucap Edward lalu mengajak Henry pergi
"Key, Maafin Mama. Tapi kamu harus berjanji sama Mama. Secepatnya kamu harus menemukan Berlin." Ucap Ayolla dengan kecewa
__ADS_1
Lalu Ayolla pergi dengan Clarisse. Kerena tadi Ayolla berangkat ke Robinson dengan Fabian. Tapi Fabian juga meminta polisi ikut membantu team Robinson sesuai prosedur. Fabian didampingi anggota Robinson saat ke kantor polisi.
Giiken masih di ruangan tempat Key terdiam. Giiken merasa bersalah atas perginya Berlin.
"Kakak, lebih baik mencarinya sesuai rute pantai itu. Disana tidak ada alat transportasi umum. kemungkinan besar Berlin ikut rombongan turis atau dia menyewa mobil. Giiken tadi sudah meminta daftar pengunjung dari loket informasi." Ucap Giiken
Setelah Giiken memberikan itu, dia beranjak pergi meninggalkan Key sendiri. Dan Giiken ikut anggota Robinson dalam pencarian Berlin.
Ditempat lain Berlin menikmati nasi liwet masakan istri Mang Ujang. Berlin begitu bahagia, dia tahu bahwa di Robinson pasti mengalami masalah karena dia. Tapi dia hanya ingin menikmati kehidupannya.
"Kirana sudah sekolah belum?" Berlin bertanya kepada anak umur lima tahun
"Sudah kakak, Kirana sudah TK B." Ucap Kirana dengan imut kalau tertawa sangat lucu
"Berlin sok atuh nambah lagi, nanti bibi masak kesukaan Berlin." Suara Bibi Mina
Mang Ujang dulu pernah tinggal dengan Berlin, waktu Berlin masih kecil. Mang Ujang kerja di rumah Berlin sebagai tukang kebun. Dan Berlin masih hafal jalan ke rumah Mang Ujang, waktu pernikahan Mang Ujang, Ibu dan Ayah mangajak Berlin ke kampung itu. Mereka juga menginap satu minggu di kampung itu untuk liburan.
"Berlin kangen desa ini. Untung Berlin masih hafal alamat Mang Ujang, dulu terakhir kita ketemu juga bibi Mina melahirkan anak pertama. Waktu itu masih ada Ibu sama Ayah." Suara Berlin jadi syahdu
"Mang Ujang sama Mina masih mengingat kebaikan Ibu Ayunna, kita menikah tapi dia yang mempersiapkan semuanya. Waktu dapat kabar Ibu meninggal kita juga kesana. Tapi kita tidak bertemu neng Berlin." Mang Ujang juga merasa sedih
"Berlin bahkan juga tidak bisa melihat wajah Ibu untuk yang terakhir kalinya. Soalny Berlin ada diluar negeri." Ucap Berlin
"Sudah atuh neng, jangan sedih lagi. Nanti bibi siapin kamar buat neng Berlin. Kita bahagia bisa ketemu lagi sama neng Berlin." Ucap Mina dengan senyuman khas di wajahnya
"Terus Kakak Kirana dimana? dari tadi tidak keliatan?" tanya Berlin
Karena Berlin tahunya anak pertama Mang Ujang sudah cukup besar dan usianya dua belas tahun
__ADS_1
"Dia di pondok Uwa, sudah dua tahun tidak tinggal dengan kita. Uwa sendrian, jadi Tisna tinggal disana." Ucap Mina
Selama makan di saung depan rumah, mereka berbincang menceritakan masa kecil Berlin bersama Ayah Ibunya.
Berlin melihat kamar yang disiapkan Mina, tempat tidur dari kayu diatasnya ada kasur busa dengan sprei batik berwarna biru.
Berlin berbaring ditempat tidur, dia merasa sangat nyaman dengan udara dingin di kampung itu. Disana hanya Mang Ujang dan Mina yang mengenal dia.
Tapi Mina dan Mang Ujang, belum tahu tentang semuanya. Mereka hanya tahu Berlin anak dari majikan tempat Mang Ujang bekerja dulu. Mereka hanya mengenal Berlin si gadis kecil. Bukan Berlin sang pewaris Meghan Group dan juga seorang nyonya yang terjaga kehidupannya.
Sore hari Berlin berjalan-jalan dengan Kirana menelusuri sawah, Berlin bagaikan anak kecil yang dulu bahagia melihat sawah dengan aliran air yang jernih.
"Kakak suka?" Ucap Kirana, yang sudah berdiri diatas aliran air yang mengelilingi sawah itu
"Kak Berlin suka sekali." Ucap Berlin yang duduk dipinggiran sawah dan kakinya menyentuh kedalam air yang dingin
"Kakak punya pacar?" Tanya Kirana yang baru berumur lima tahun
"Anak kecil, tanya pacar." Ucap Berlin dengan gemas menyentuh hidung Kirana
"Kakak Cantik, pasti banyak yang suka sama kakak, kaya di film" Ucap Kirana, karena Ibu Kirana suka menonton sinetron jadi Kirana mengerti
"Kak Berlin sudah menikah." Ucap Berlin dengan pelan
Kirana tidak mendengar hal itu, Kirana menarik tangan Berlin untuk jatuh ke air. Mereka berdua asyik bermain air.
Awal Berlin datang ke desa itu, Mang Ujang tidak mengenali dia, bukan karena wajah baru Berlin. Dulu Mang Ujang setelah menikah tidak lagi bekerja di rumah Berlin, dan mereka bertemu lagi waktu Mina melahirkan anak pertamanya.
Tapi Mang Ujang menyimpan foto keluarga Berlin waktu pernikahannya. Berlin juga menunjukkan foto keluarga yang ada di buku harian Ibunya. Akhirnya Mang Ujang dan Mina menangis haru.
__ADS_1