Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Pencarian Selanjutnya


__ADS_3

"Selamat Pagi" Sapa Berlin kepada Ibu tua sebelah rumahnya


"Iya selamat pagi. Kamu warga baru?" Sapa ibu tua


"Iya, tapi saya hanya sementara tinggal di rumah Ibu Mirna." Ucap Berlin


"Owh, rumah Mirna. Disini komplek yang aman. Kamu tidak perlu takut." Ucap Ibu tua


"Bu, kalau dari sini ke kota apa bisa naik angkot?" Tanya Berlin


"Bisa, kamu keluar jalan itu. Sampai gerbang komplek, nanti kamu jalan ke kanan. Lurus saja sekitar seratus meter. Itu sudah jalan raya. Nanti naik angkot 03 hijau. Sudah sampai Mall." Ucap Ibu Tua


"Baik, terimakasih. Saya mau ke pasar." Ucap Berlin


"Iya kalau ke pasar sebelum Mall." Ucap Ibu tua


"Kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih." Ucap Berlin


"Hati-hati" Ucap Ibu tua,


Aku berjalan keluar komplek tidak begitu jauh. ketemu dengan satpam komplek dan dia bertanya padaku. Karena baru pertama melihat aku. Ternyata ibu Mirna masih di komplek yang sama, tapi rumahnya tidak jauh dari gerbang. Rumah dua lantai dengan nuansa coklat muda.


Aku sudah berada dalam angkot. Aku sama sekali tidak membawa tas, aku hanya membawa uang secukupnya.


Setiba di pasar melihat semua makanan ringan aku jadi lapar. Uang sepuluh ribu aku sudah mendapatkan lemper, risol, pastel dan martabak. Lalu aku duduk di bangku sambil minum es cendol. Cukup membayar lima ribu aku sudah kenyang dengan es cendol. Rasanya sangat nikmat, dan aku melupakan keluargaku.


Aku ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan pokok, kemarin aku hanya membeli beras sedikit. Sebelum membeli beras, aku melihat toko baju. Dengan uang seratus ribu aku sudah mendapatkan dua daster batik yang sangat halus.


Ternyata semua memudahkan aku, tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Aku berbelanja sendiri, dan sangat cukup. Ada bapak tua yang membawakan belajaanku. Dia juga memanggilkan mobil untukku karena aku tidak membawa ponsel. Bapak itu sangat baik, aku memberinya uang tapi dia hanya mengambil setengahnya. Mungkin karena tadi aku sudah bilang kalau aku sedang hamil dan jauh dari keluargaku. Dia cukup senang membantu aku, semoga kita bertemu lagi.


Sampai di rumah, sopir mengangkat beras itu ke depan pintu. Lalu mengangkat semua belanjanku. ternyata dia juga cukup mengenal bapak tua itu. Kemudian aku bertanya padanya dimana rumahnya. Dia memberikan alamat padaku. Semoga nanti aku bisa mengunjungi mereka.


"Sayang, mommy cantik?" Ucap Berlin sedang bercermin


Aku memakai daster batik warna ungu, aku sangat menyukai ini. Aku jadi ingin membeli daster lagi. Aku sudah hafal toko itu. Pelayan toko juga sangat ramah melayani aku.


____________


Satu minggu kemudian


Aku berselfi dan aku mengirimkan seseorang,


Pesan

__ADS_1


📷


*Sayang,, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu mencari aku. Aku hanya ingin disini sementara waktu. Disini aku bahagia. Sampaikan salam sayang untuk semua keluarga. Love You 😘*


Setelah tanda terkirim, aku mematikan ponselku lalu membuangnya. Karena aku pasti akan dilacak. Aku tidak butuh ponsel. Yang jelas aku bisa hidup tanpa mereka. Saat ini aku hanya ingin sendiri.


Dream House jam satu siang


"Berlin sayang, kamu kurus nak. Mama kangen" Ucap Ayolla datang setelah diberi tahu Key,


Semua keluarga datang dan melihat foto serta pesan Berlin


"Kakak, bisa melacaknya dari Robinson" Ucap Giiken


"Ponselnya sudah tidak aktif. Nanti kalau sudah aktif lagi. Kakak sudah menyambungkan ke jaringan Robinson, kalau nanti aktif langsung terdeteksi." Ucap Key


"Bunda sampai pangling, rambutnya pendek apalagi memakai daster. Bunda jadi ingat waktu itu di kamar bunda. Bunda suka pakai daster? Iya kalau bunda tidur. Berlin mau? Nggak Berlin cuma penasaran, apa nyaman kalau pakai daster? Nyaman sayang, bahannya adem, kalau Berlin mau, bunda belikan. Lalu dia bilang, nanti saja kalau Berlin sudah hamil. Melihat ini kenapa perasaan bunda, mengatakan Berlin sudah hamil." Ucap Bunda


"Kak, sepertinya kakak benar. Soalnya dulu Ayolla hamil Berlin badan Ayolla kurus. Tapi yang mengidam Henry." Ucap Ayolla


"Bunda, jangan bikin Key makin panik. Kalau Berlin hamil Key harus segera mencari Berlin. Key nggak bisa menunggu lagi." Ucap Key


"Key, Papa punya ide. Ini foto bisa kita bagikan ke sosmed." Kata Henry


"Benar kata kamu Edward." Ucap Henry


"Key, kita harus ke Kota Hujan. Sudah satu minggu di Kota Kembang tidak ada yang menemukan Berlin, bahkan di semua hotel juga tidak ada nama Berlin." ucap Fabian


"Begini saja, Giiken sama Om Fabian kita menelusuri area puncak, Kakak sama om Henry area Kota. Kakak ingat nggak, waktu itu dia naik kereta dan dia pergi ke pasar. Giiken yakin itu dia beli daster di pasar. Kita telusuri saja semua toko di pasar." Ucap Giiken


"Ucapan Giiken masuk akal juga, kenapa Key nggak kepikiran itu. Kalau begitu kita bergerak sekarang." Ucap Key


"Edward sama Clarisse juga ikut, lebih banyak orang mencari lebih bagus." Ucap Edward


"Ibu ibu di rumah saja, semoga kita bsa menemukan Berlin." Ucap Henry


Mereka berpencar, Robinson juga bergerak cepat. Key dan Henry ikut di helikopter.


Di Kompleks Maheswari Berlin menonton televisi diruang tamu dengan bersandar sofa


"Sayang, mommy ngantuk. Bobo yuk."


Lalu beranjak tidur siang. Perut kenyang mata ngantuk itulah yang di rasakan ibu hamil. Berlin cukup baik merawat dirinya. Berlin menjauhkan semua yang membuat dia mual.

__ADS_1


Key tiba di Kota Hujan, dia langsung ke pasar kota, Henry sudah mulai bertanya pada orang. Henry memperlihatkan foto itu.


"Bagaimana Key?" Tanya Henry


"Iya, mereka melihat Berlin seminggu yang lalu." Ucap Key


"Papa yakin Berlin masih di Kota ini." Ucap Henry


"Key bingung Papa." Ucap Key


Karena memang ada beberapa orang yang melihat, tapi mereka tidak memberi petunjuk yang jelas.


Kalau begitu kita mencari dibeberapa hotel terdekat.


"Papa saja, Key akan bertanya sama sopir angkot dan tukang ojek." Ucap Key


"Iya, lebih baik kita terpisah. Papa pergi dulu dengan yang lain. Nanti kita saling menghubungi saja." Ucap Henry bergegas dengan team Robinson


Key melihat situasi ini tampak aneh, Key merasa menderita. Bahwa istrinya meninggalkan dia, bahkan Berlin yang segala kebutuhannya terpenuhi oleh suami dan keluarga. Tapi dia tidak segan untuk berbelanja sendiri ke pasar.


Key dulunya orang biasa, dia bekerja keras atas asuhan kakek Berlin. Disaat segalanya tampak menyenangkan untuknya dan keluarga, tapi istrinya pergi dan Key tidak bisa mencarinya. Walaupun sudah dengan segala cara, materi, tenaga, semua dia kerahkan untuk mencari istrinya.


"Punten kang, akang pernah melihat dia?" Key menunjukkan kepada beberapa tukang ojek


"Owh.. ini mah neng geulis yang waktu itu, kita disini melihatnya. Ada apa dengan dia?" Tanya mereka balik


"Dia istri saya, sudah beberapa hari saya mencarinya." Ucap Key


Ucapan beberapa orang membuat Key tampak terluka, tapi demi istrinya apapun yang orang katakan dia tidak peduli.


"Coba bapak tanya mereka, mereka sopir yang biasa mengantarkan pembeli dari pasar." Ucap salah satu tukang ojek


"Iya, terima kasih. Ini buat akang untuk membeli kopi." Ucap Key


Key memberikan amplop dari tas ranselnya, setiap dia bertanya kepada orang, dia tidak segan memberi imbalan kepada mereka


"Maaf saya takut." Ucap tukang ojek


"Saya Ikhlas, mohon akang terima." Ucap Key


Key beranjak pergi dan tukang ojek itu memarahi beberapa temannya yang tadi bercanda. Dengan bahasa khas mereka, tapi Key mengerti apa yang mereka katakan.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2