Dibalik Buku Harian

Dibalik Buku Harian
Hanya Seorang Berlin Arora


__ADS_3

Aku terbangun di sore hari, badan terasa segar. Kenapa disini aku selalu tidur dengan nyenyak. Berbeda dengan di rumah, selalu merasa gelisah setiap.


Aku mulai memasak untuk makan malam, tadi pagi aku beli ayam ungkep dan beberapa sayuran di abang tukang sayur yang lewat depan rumah.


Aku perlu memasak nasi lagi, karena terkadang tengah malam aku merasa lapar. Aku mengupas wortel, kentang, lalu aku memotongnya dan juga brokoli, daun bawang serta seledri, sore ini aku akan membuat sup.


Tidak lupa aku menyiapkan bahan untuk membuat sambal dan tidak lupa tempe mendoan.


Walaupun aku dirumah sendirian, aku selalu memasak banyak, terkadang aku bawakan untuk sepasang suami-istri yang sudah tua, mereka jauh dari anaknya, tapi mereka tampak sehat dan harmonis.


Juga terkadang ada anak dari tetangga depan yang suka ke rumah, anak umur sembilan tahun yang cantik dan manis, terkadang aku suka bermain dengan dia.


"Sayang, mommy sudah selesai masak. Mommy mau mandi, biar kita cantik." Ucap Berlin dengan manis mengusap perutnya


Selama hamil Berlin sangat suka kebersihan, dari perawatan badannya, dia selalu ingin memakai parfum dan wewangian.


Selesai mandi, Berlin keluar rumah. Senja di sore itu tampak indah. Dia mengatakan dalam hati, kalau kehidupan ingin sangat berharga untuknya.


"Tante Berlin, senyum sendiri." Sapa Aurelie


"Sayang, kamu memperhatikan tante." Berlin mengusap rambutnya


"Iya, dari jendela kamar Aurelie melihat tante senyum sendiri. Tante melihat apa?" Tanya Aurelie


"Senja sore hari yang sangat cantik. Seperti Aurelie yang cantik." Ucap Berlin tersenyum


"Tante bisa saja, tapi Aurelie suka." Aurelie dengan manis dan tersenyum bahagia


"Aurelie mau makan bareng sama tante nggak?" Tanya Berlin


"Malam ini Aurelie mau pergi sama Ayah Bunda, soalnya kita mau jemput Kakak." Ucap Aurelie


"Tante sendirian dong. Tapi besok pagi tante antar kamu ke sekolah. Bilang sama Bunda, kalau tante Berlin ikut mengantar ke sekolah." Ucap Berlin


"Ok, tante." Ucap Aurelie lalu beranjak pergi dan melambaikan tangannya.


Berlin lalu masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba dia merasa kesepian, haruskah aku pulang, tapi aku nyaman disini. Setidaknya sampai Key nanti menjemput aku. Tadi aku sudah menyuruh mereka untuk tidak mencari aku.


Berlin menonton acara TV sambil mengemil keripik pisang. Kemudian ada yang mengetok pintu gerbang pagar depan. Berlin beranjak dari tempat dia duduk dan menuju ke pintu depan.


"Iya, tunggu sebentar." Ucap Berlin lalu membuka kunci gerbang


Mereka saling menatap dengan pandangan rapuh, Berlin tercengang dengan apa yang ada dihadapnya. Seolah dia tidak percaya sosok yang berdiri dengan tatapan rindu


"Sayang,........" Suara Key terdengar rapuh


"Kamu tahu aku disini." Ucap Berlin


"Kamu marah?" Tanya Key dengan pelan


"Ayo masuk dulu, tidak enak diliat orang." Ajak Berlin menyuruh Key masuk dalam rumah


Suasana sore menjelang malam dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rindu, bahagia, kecewa dan terluka.


"Kamu mencari aku?" Tanya Berlin yang duduk di sofa

__ADS_1


"Iya, aku mencari istriku. Aku terus mencari istriku." Ucap Key


"Kamu sendiri?" Tanya Berlin


"Saat ini aku sendiri, tapi tadi Papa sama Team mereka mencari di setiap hotel." Ucap Key


"Sudah, kamu sepertinya lelah. Aku buatin minum dulu." Berlin beranjak ke dapur


Key menghubungi yang lainnya, Key mengatakan sama keluarga kalau sudah bertemu dengan Berlin. Key meminta mereka untuk segera pulang dan tidak perlu mencemaskan Berlin, karena saat ini kondisi Berlin sangat baik. Dan Key yang harus menghadapi Berlin.


"Minum, cuma ada teh disini. Aku tidak membeli kopi." Ucap Berlin seolah tampak asing dengan situasi ini


"Sayang, kamu sehat? Aku khawatir." Tanya Key


"Kamu bisa liat sendiri, aku sehat dan baik." Ucap Berlin


"Kamu sepertinya nyaman tinggal disini." Ucap Key


"Iya, aku sangat nyaman. Bahkan sampai aku lupa, kalau ada keluarga yang aku tinggalkan." Ucap Berlin


"Teh buatan istriku sangat nikmat." Suara Key menjadi sesak dan tak tertahan


Berlin juga tidak tahan melihat suaminya terluka. Berlin memeluknya dengan rasa rindu, air matanya menetes dada Key.


"Sayang, aku juga kangen." Ucap Berlin


"Aku khawatir, Aku rapuh tidak bisa menemukan kamu." Key dengan menatap Berlin


Mereka mengungkapkan perasaan mereka,


"Aku dan Papa mencari kamu di pasar kota, lalu tadi ketemu sama sopir pasar yang mengantarkan kamu. Dia masih hafal kamu, terus dia yang mengantar aku kesini." Ucap Key


"Kamu mandi sayang, aku mual. Habis itu kita makan, aku sudah lapar." Pinta Berlin


"Jadi benar kamu hamil?" Tanya Key


"Iya, sudah dua bulan. Sudah sana mandi dulu. Ayo kita bawa tas kamu ke kamar." Ajak Berlin


Berlin menghangatkan sup yang masih di atas kompor. Lalu menyiapkan piring di meja makan, semua sudah tertata rapi dan Berlin menatap masakan dengan tersenyum.


"Sayang, kamu masak?" Tanya Key


"Sini, duduk. Cobain masakan istri kamu." Ucap Berlin dengan menarik kursi di meja makan


"Jadi kamu masak semua ini. Aku akan menghabiskan masakan kamu. Sudah beberapa hari aku juga tidak makan." Ucap Key


Melihat suaminya makan dengan lahap Berlin tersenyum


"Sayang, mommy sama daddy makan dulu, kamu mau yang mana sayang?" Ucap Berlin dengan mengelus perutnya


"Aku suka tempe mendoan, kamu ternyata pandai membuatnya." Ucap Key


"Pantas saja anak kamu suka tempe mendoan, hampir setiap hari aku makan itu." Ucap Berlin


"Anak Daddy pintar." Ucap Key langsung mencium perut Berlin

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam berdua, Key sangat bahagia malam ini.


Dream House Keluarga sudah berkumpul


"Biarkan mereka berdua dulu." Ucap Henry kepada Ayolla yang masih belum tenang


"Jadi kamu sama sekali tidak menemui anak kamu?" Tanya Ayolla kesal


"Key menyuruh aku segera pulang, dia yang mau membujuk Berlin sendiri. Lagian mereka suami istri. Aku cukup senang mendengar Key sudah bertemu Berlin." Henry yang duduk dan melihat ponselnya


"Iya sayang, kamu jangan panik. Yang terpenting Key sudah bersama Berlin. Kondisi Berlin Sehat dan baik. Jadi kita menunggu disini saja. " ucap Fabian berusaha menenangkan Ayolla


"Giiken apa kakak kamu tidak telfon lagi? Bunda sangat yakin kalau Berlin sudah hamil." Tanya Bunda ke Giiken yang duduk di sofa


"Belum, nanti kakak juga telfon. Tadi dikirim pesan itu kita sudah senang dan langsung pulang. " Ucap Giiken dengan tersenyum


"Sudah.. Kita makan dulu. Edward mulai merasa lapar setelah tahu kabar kakak. Dari kakak menghilang Edward tidak nafsu makan." Ucap Edward beranjak menuju ruang makan


"Tante, paman, om dan Giiken ayo makan. Itu Clarisse sama Archeva sudah siapin makanan, kita makan dulu. Sambil menunggu telfon dari kak Key." Clarisse mendatangi mereka yang di ruang keluarga


"Iya, kita semua makan dulu." Ucap Henry seraya berdiri


"Sayang ayo kita makan dulu." Ajak Fabian dan Ayolla masih dengan wajah kesal


Di ruang makan mereka begitu akrab,


Areche membuka ponselnya, karena tidak lepas dari tangannya walaupun sedang makan


"Liat mereka berdua." Archeva menunjukkan foto dari Key


"Mana liat. Ini bukan berdua. Tapi bertiga. Ada foto USG itu." Ucap Giiken yang ada disebelah Adiknya


"Foto Usg apaan?" Archeva penasaran


"Foto bayi di perut kak Berlin." Ucap Giiken dengan menatap foto itu


Melihat Foto kiriman dari Key semua tampak gembir


"Jadi aku akan punya cucu" Ucap Ayolla begitu bahagia


"Iya, kita jadi kakek dan nenek." Ucap Henry tersenyum


"Aku om Edward" Ucap Edward begitu ceria


"Jadi aunty Clarisse." Ucap Clarisse menatap foto itu dengan bahagia


"Bunda bahagia, kakak kamu akan jadi Ayah. Giiken, Archeva. Bilang sama Kak Key untuk menjaga Kak Berlin dengan baik. Kalau Kak Berlin belum mau pulang. Kakak suruh disana dulu." Ucap Bunda


"Bunda tidak perlu khawatir, Giiken yakin Kakak akan menjaga Kak Berlin dengan baik." Ucap Giiken dengan tersenyum bahagia


Inilah harta berharga dalam hidupku, aku, suamiku, baby, orang tua dan seluruh keluargaku. Aku memulai kehidupan baruku. Dan inilah awal kehidupan baruku, yang awalnya hanya seorang anak, lalu menjadi istri dan sekarang menjadi Ibu.


Tapi aku tidak melupakan ibu dan ayahku. Aku selalu merasakan kehangatan cinta ibuku dari buku hariannya. Dibalik buku harian Ibu dan Key, aku mengetahui kehidupanku yang sebenarnya.


Kisah Berlin Arora

__ADS_1


Terima kasih🙏


__ADS_2