
Hari aku ingin sekali keluar sendirian. Aku juga sudah tidak ke kampus lagi. Ingin rasanya pergi berjalan-jalan sendiri. Setelah aku mendapatkan ijin, aku merubah penampilanku.
Aku ingin bebas, tapi tidak ingin lagi membawa masalah apapun. Mungkin dari kejauhan, para bodyguard itu akan tetap mengawasi aku. Tapi setidaknya aku bisa berjalan sendiri seperti yang lainnya. Bukannya aku terlalu berani setelah apa yang terjadi dalam hidupku. Tapi untuk sekali seumur hidupku. Hari ini aku akan melakukan apapun yang ingin aku lakukan.
Pagi ini aku memulai dari menaiki kereta kota, yupsss..... dari rumah aku diantar ke stasiun terdekat. Kemudian aku melakukan perjalanan menggunakan kereta listrik. Aku turun disebuah stasiun, kemudian aku berjalan kaki menuju sebuah pasar tradisional.
Melihat sekeliling yang jarang aku jumpai, dulu pernah berbelanja dengan ibu ke pasar tradisional, pagi-pagi sekali kita berangkat, karena ibu suka membeli cumi segar, udang, ikan dan beberapa sayuran segar.
"Permisi, Bu.. mau tanya ini buah apa ya??" Tanya Berlin kepada pedagang
"Oh.. ini buah Buni, biasanya dirujak." Ucap Pedagang
Karena aku penasaran akhirnya aku membeli 1kg, lalu aku berjalan lagi. Aku menemukan beberapa kue yang menurut aku, sangat jarang aku jumpai.
"Bapak, ini kue apa ya??" Tanya Berlin
"Ini namanya Bandros, Eneng mau??" Ucap penjual
"Boleh pak, saya beli 2 bungkus." Ucap Berlin
Bapak penjual menjelaskan kalau Bandros terbuat dari tepung beras, kelapa parut, santan, dan suji lalu diberi taburan gula pasir. Masih terasa hangat dan sangat nikmat.
Aku lanjut berjalan, kemudian ada tempat makan yang lumayan ramai diwaktu menjelang siang, kenapa warung tenda itu ramai sekali??? aku ikut dalam keramaian itu. Owh.. ternyata Mie Ayam
"Kak.. saya pesan satu, makan disini, minumnya es teh manis satu" Ucap Berlin
"Baik, silahkan duduk kak" Ucap Pelayan
Pelayan di warung itu masih muda, mungkin seumuran denganku. Yang memasak seorang pemuda juga. Tapi apa yang membuat begitu ramai. Setelah aku ambil bangku dan aku sedikit memakan bandros. Akhirnya Mie Ayam datang setelah berdesakan sekitar 30 menit.
Ternyata rasa Mie Ayamnya benar-benar nikmat, ada pangsit kering di atasnya. Potongan daging ayam cukup besar dan aroma kuahnya sungguh menggoda, ditambah sawi dan acar mentimun menjadi perpaduan yang segar saat dinikmati.
"Maaf... boleh duduk disini??" Tanya pemuda
"Iya silahkan....." Ucap Berlin
__ADS_1
Seorang pemuda yang juga ingin menikmati Mie Ayam, karena hanya di depanku yang kursinya kosong.
Cuaca mulai panas, aku melepaskan topi dan kacamataku. Kenapa aku harus pakai kacamata setebal ini. Aku menggumam sendiri, sambil menikmati es teh yang belum habis. Di dalam tas ransel sudah ada buni dan bandros yang tersisa sedikit.
"Kamu bukan orang lingkungan sini?? sepertinya aku baru melihat kamu." Tanya Pemuda
Apakah orang ini memperhatikan setiap wajah yang datang ke pasar. Aku bingung harus jawab apa, usianya masih di bawahku.
"Iya.. aku hanya berjalan-jalan." Ucap Berlin
"Kamu harus berhati-hati membawa tas, disini banyak copet." Ucap pemuda
"Iya.. terima kasih, sudah mengingatkan" Ucap Berlin
"Iya.. sama-sama, kalau kamu pergi lewat yang jalan arah ramai itu. Kamu jangan ke gang itu." Ucap Pemuda
"Owh.. Ok, terima kasih. Saya pergi dulu." Ucap Berlin dengan perasaan aneh
Berjalan menelusuri jalan utama dipasar itu. Bertemu dengan jalan raya, lalu aku memutuskan untuk menaiki Bus kota. Karena sudah terlihat halte bus di kiri jalan. Aku masuk ke dalam Bus dan Bus melaju menuju pusat sejarah kota ini.
"Haii... " Sapa Pemuda
"Iya.. yang tadi." Ucap Pemuda
"Aku tidak liat kamu masuk Bus,???" Tanya Berlin
"Aku baru naik, di Halte yang barusan." Ucap Pemuda itu dengan tersenyum
Cepat juga ini pemuda mengejar Bus berjalan dan tahu-tahu sudah duduk disebelahku.
"Kamu mau kemana??" Tanya Pemuda
"Museum Sejarah Kota." Jawab Berlin
"Boleh aku temani." Ucap Pemuda
__ADS_1
Haddeeeeehh... ini cowok, aku lagi pengen sendirian. Kenapa harus ikutan naik sih.
"Emmms maaf, aku lagi ingin sendirian" Ucap Berlin
"Owhh gitu.. Ya sudah nggak apa-apa." Ucap Pemuda
"Iya.. bukannya nggak boleh. Tapi memang aku lagi ingin sendirian." Ucap Berlin
"Ok.. no problem." Ucap Pemuda lalu bergumam
****** Naze kare ni chikadzuku no ga muzukashī nodesu ka (kenapa susah mendekatinya) *****
"Eemmm.. kamu mau mendekati aku???" Ucap Berlin
"Kamu tahu??." Tanya Pemuda
"Walaupun pelan, telingaku masih normal." Ucap Berlin dengan kesal
Dalam hati cowok itu.. breengsssek.. kenapa aku harus ngomong gitu.. hilang sudah kesempatan aku!!!
"Kenapa nggak lanjut ngomongnya??" Tanya Berlin
"Kenalin.. Giiken Zeon" Pemuda itu memperkenalkan diri
"Mmmm... Alice" Ucap Berlin
"Nama yang bagus.." Ucap Giiken
"Terima Kasih. Kamu bisa mengejar Bus ini??" Tanya Berlin
"Iya, tadi aku juga satu kereta sama kamu." Ucap Giiken
"Jadi kamu PENGUNTIT!!!!!" Ucap Berlin dengan keras dan menatap tajam
"Bukan, maksud aku bukan gitu.." Ucap Giiken dengan malu
__ADS_1
Melihat ekspresi dia yang tulus dan menundukkan wajah karena malu. Sepertinya dia hanya ingin mengenal aku. Dan kita sudah sampai di Museum.
🌻🌻🌻🌻🌻