
Dodi terlelap begitu pulas tidak menyadari jika matahari sudah meninggi.Padahal Dodi sudah tidur dari jam sembilan malam sampai siang bolong
Begitulah Dodi andai ada lomba terlama tidur pasti Dodi lahh juaranya, bagi laki-laki pekerja keras waktu sangat berharga bahkan untuk tidur saja kurang itu bagi laki-laki pekerja keras
Tapi tidak bagi Dodi, bagi Dodi sepertinya hidup hanya untuk tidur
Dodi sedang di alam mimpi bertemu mantan istrinya dulu bercanda gurau mengenang momen indah bersama mantan istrinya
Dodi begitu mencintai mantan istrinya Sebenarnya mantan istrinya pun sama sangat mencintai Dodi
Tetapi wanita mana yang sanggup hanya makan cinta, yaaa,,,, Irma mantan istri Dodi menggugat cerai karena Dodi tidak menafkahinya
Dodi hanya tidur makan tidak bekerja, Irma banting tulang sendiri dari awal pernikahan sampai usia pernikahan puluhan tahun
Irma bersabar, selalu berdoa berharap suatu hari nanti Dodi suaminya berubah tetapi setelah puluhan tahun bersabar akhirnya Irma menyerah memilih bercerai sudah capek memikul beban keluarga sendiri padahal punya suami
yaaa,,,, wajar saja Irma memilih pergi wanita mana yang kuat bertahan
Dodi merasa hidungnya gatal membuka mata terbangun dari mimpi indah bersama mantan istrinya
Dodi mengucek mata, membuka mata lebar ternyata ulah Aira yang membuat hidungnya gatal
Dodi beranjak dari sofa melangkah menuju Aira Dodi membelalakkan mata tanpa berkedip rahangnya keras, rambut acak-acakan karena bangun tidur ditambah sorot mata yang begitu tajam
Tadinya Aira tertawa terbahak bahak tetapi melihat sorot mata Dodi sii Dodot begitu menakutkan nyali Aira langsung menciut
Tangan Aira gemetar memegang kemoceng semakin Dodi mendekat semakin Aira gemetar
"hhhhh,,,,,, apa yang akan dilakukan Dodi sii Dodot ini" gumam Aira dalam hati tangannya bergetar
jantungnya berdegug kencang Daggg,,,,,,Diggg,,,,,Duggg,,,,,,,,,,
Bukan karena cinta tapi karena ketakutan
kekhawatiran Aira memang benar
"PppLaakkkkkk,,,,,,,,,,," Dodi menampar pipi kanan Aira
Aira memegangi pipinya merah padam terasa begitu panas dan perih, Aira menundukkan kepala bulir putih menetes begitu saja
Aira mencoba kuat tidak lemah Aira mengangkat wajahnya menatap mata laki-laki yang berani menamparnya itu
"kamu,,,,,,," terdengar suara Aira menggantung belum sempat Aira menyelesaikan ucapannya
pipi kirinya sudah di tampar lagi
"PppLaakkkkkk,,,,,,,," bunyi tamparan Dodi untuk kedua kalinya
__ADS_1
Aira menjatuhkan kemoceng memegangi kedua pipinya, sakit di pipinya tidak seberapa dibandingkan sakit dihatinya
Bagi Aira pukulan,tamparan sudah biasa karena Nenek sering melakukannya bila Aira melakukan kesalahan
Aira memang salah membangunkan macan tidur tapi niat Aira hanya bercanda, Aira berharap berawal dari bercanda berakhir cinta
Tadinya Aira ingin melawan tetapi setelah pipi kirinya menerima tamparan, Aira mengurungkan niatnya
Aira tidak berkata apapun membalikan tubuh menuju ranjang tempat tidurnya
"Brugggggg,,,,,,,"Aira menghempaskan tubuhnya di atas kasur
Aira menarik selimut menutupi kepala dan seluruh tubuhnya
Aira menangis sesenggukan
"hikzzzz,,,,,,,hikzzzz,,,,,,hikzzzzz,,,,,," meskipun ditutup selimut tetap saja suara tangisan Aira masih bisa terdengar
Didalam selimut Aira menepuk dadanya terasa sakit dan sesak padahal Aira baru akan membuka hatinya untuk suaminya tetapi tamparan yang Aira dapatkan
Dodi sedari tadi hanya menatap Aira, Dodi tau istri bocilnya menangis karenanya tetapi seolah Dodi mati rasa tidak merasa bersalah
Dodi melangkah kan kakinya menuju pintu tidak menghiraukan Aira menangis sesenggukan
"Brakkkkk,,,,,,," Dodi membanting pintu keras
Sedangkan Dodi sudah sampai diruang makan perutnya lapar langsung mengambil piring tidak peduli ilernya masih menempel di pipi
iiiihhhhhh,,,,,,,, siapa pun yang melihat pasti akan risihh sungguh jorok
Monika sampai mau muntah sebenarnya Monika sudah melihat Dodi sejak keluar kamar sampai ruang makan tapi Monika Engan menyapa Dodi
"di,,,,,, Aira mana,, kenapa makan sendiri dimana Aira," tanya nenek Halimah yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Dodi
Dodi menoleh ke asal suara ternyata Nenek Halimah
"Aira dikamar nek,, tidur,," bohong dodi
Dodi fokus lagi memakan makanannya dengan lahap
" itu anak bener-bener tidak tau diri, baru bangun sudah tidur lagi,,, biar nenek bangunkan enak aja seperti nyonya bos dirumah ini,,," Nenek Halimah berbicara sambil berjalan menuju kamar Aira
" Hhheedeehhhh,,,, gawat jangan sampai nenek Halimah melihat Aira menangis, apalagi kalau Aira mengadu aku sudah menamparnya hhhhh,,,,, tidak bisa dibiarkan aku harus menghentikan nenek" gumamnya dalam hati
Dodi berlari mengejar nenek mencoba menghentikan nenek
"Haaapppp,,,,,," tangan nenek berhasil diraih Dodi
__ADS_1
Nenek Halimah yang merasa tangannya dicekal menoleh kebelakang ternyata Dodi
Dengan nafas terengah-engah Dodi berkata
"jangan ganggu Aira nek, Aira pasti sangat kecapekan ka,,,,,,re,,,,,,na,,,,,,, tadi malam olahraga" tadinya Dodi bingung alasan apa yang pas agar nenek tidak curiga
hhhhh,,,, olahraga malam,,, Entah mengapa kata olahraga malam bisa lolos begitu saja dari bibirnya
Mendengar kata Olahraga malam nenek Halimah tersenyum lebar, nenek Halimah bukan anak kecil lagi tentu saja faham arti kata olahraga malam
Setelah mendengar kata olahraga malam Nenek Halimah mengurungkan niat awalnya menuju kamar Aira
Nenek Halimah memutar badannya melangkahkan kaki menuju halaman
"mau kemana nek,,," tanya Dodi yang melihat nenek putar arah
"ke halaman diii,,,, memang kenapa,,, tenang saja nenek tidak akan menggangu Aira" sahut nenek Halimah suaranya terdengar semakin menjauh
"hhhhhhh untung saja" ucap Dodi tangannya mengusap-usap dada
Dodi melangkah kan kaki kembali menuju ruang makan melanjutkan makan siangnya yang tertunda
Monika mendengar Dodi berkata untung saja berfikir pasti ada sesuatu yang disembunyikan Dodi fikir Monika
Monika merasa ada yang janggal Mengapa Dodi begitu takut nenek Halimah masuk kamar? ada apa sebenernya pertanyaan itu mutar-mutar diotak
"hhhhh,,,,, tidak bisa dibiarkan" gumamnya
Monika melangkah pasti secepat kilat menuju kamar Aira
"Cekkkleeekkkkkk,,,,, " Monika membuka pintu kamar Aira
Terlihat Aira menoleh kearah pintu melihat Monika datang Aira buru-buru mengusap air matanya tetapi percuma saja Monika sudah melihatnya, tohhh wajah sembab tidak bisa dihilangkan seketika
Monika duduk di diranjang Aira, Monika menarik selimut Aira
Aira berusaha menahan selimutnya seolah Monika tau apa yang akan Aira lakukan ditarik selimut begitu kuat
Akhirnya selimut terlempar ke lantai, Aira menyadari langsung sigap menutup wajahnya mengunakan tangan
Monika langsung memeluk Aira tidak peduli Aira yang masih menutupi wajahnya
Tadinya Aira menahan tangis tapi pelukan Monika yang begitu menenangkan membuat air mata Aira lolos begitu saja, Air mata sudah payah ditahan jatuh dipelukan Monika, seolah matanya tidak mampu berbohong didepan Monika
Monika menyadari Aira menangis semakin mempererat pelukan
"menangis lah Aira, tumpahkan semua kesedihanmu cukup setelah ini tidak akan ada lagi air mata ,,, yang ada hanya kebahagiaan" gumam Monika dalam hati sedangkan tangannya mengelus lembut rambut Aria
__ADS_1