Dijodohkan Nenek

Dijodohkan Nenek
Aira


__ADS_3

Setelah cukup lama memeluk Monika


Aira melepaskan pelukannya


Monika menatap bola mata Aira terlihat cairan bening menetes diusapnya lembut


"katakan lahh sebenarnya apa yang terjadi" tanya Monika berharap Aira mau berbagi suka dukanya


Aira masih diam membisu terlihat ragu, melihat keraguan diraut wajah Aira


Monika pun memegang pundak Aira


"katakan lahh,,,,,,ada apa,,,, pasti suamimu sii Dodi itu nyakitin kamu yaa,,,," Monika hanya menebak saja


Aira hanya mengangguk anggukan kepala


menandakan iyaa


Monika melihat Aira sedih juga ikut sedih diusap rambut Aira begitu lembut


"sebenarnya,,,,,, hemmm,,,," Aira menggantung ucapannya


Disatu sisi Aira ingin berbagi keluh kesah setidaknya agar bisa sedikit lega


"kak Monik,,," panggil Aira


"iya Ra,,,,," sahutnya


Akhirnya Aira menceritakan semuanya


"brengsek, itu laki-laki tuwir beraninya kasar" tangannya mengepal terlihat wajahnya merah emosi


Monika hendak bangkit ingin menemui Dodi


Aira paham apa yang akan dilakukan Monika segera menarik tangan nya


"jangan kak,,,,, " menggelengkan kepala


wajah Aira lesu matanya sembab pipinya bekas tamparan di pipi juga terlihat jelas


Monika memeluk Aira lagi justru kali ini Monika yang menangis


"Raaa maafin kakak, semua ini karena nenek, harusnya hidupmu berkecukupan tetapi karena nenek hidupmu seperti ini,, jika kamu tau semuanya pasti akan membenciku juga Raa,,,, bagaimana pun nenek juga nenek kandungan ku" gumamnya dalam hati


"aku harus membicarakan semua ini ke ibu, aku sudah tidak sanggup melihat Aira menderita apalagi penyebabnya keluargaku sendiri, aku tidak bisa tinggal diam," gumamnya dalam hati


Monika melepaskan pelukannya ditatap wajah aira, wajah sendu tubuh kecil seperti kurang makan rambut acak-acakan wajah yang tidak pernah pakai make up mungkin tidak punya uang untuk membelinya, baju hanya itu-itu saja bahkan warnanya sudah memudar melihat semua itu hati Monika seperti ditaburi garam perihh sekali


Monika melirik dirinya sendiri, Monika memakai pakaian bagus harganya pun cukup mahal setiap bulan juga perawatan kulit, wajah sangat berbanding terbalik dengan Aira, Monika kemanapun pakai mobil sedangkan Aira motor saja tidak punya


Harusnya kemewahan milik Aira tapi karena keserakahan neneknya hidup Aira menderita


Monika membandingkan itu semua membuat hati Monika sesak


"aku harus melakukan sesuatu sudah cukup keluarga ku mengambil harta milik Aira keluarga ku juga tidak berhak mengatur jodoh Aira, sudah,,,,,,, sudah,,, cukup" gumamnya dalam hati


Monika beranjak melangkah pergi tapi Aira mengengam tangan Monika begitu kuat

__ADS_1


"lepasin Raaa,,,,," suaranya terdengar emosi


"aku tidak akan melepaskan sebelum kak Monik berjanji,,,," pinta Aira


"hmmmm,,,,," Monika hanya mendengus


Monika mengerakkan tangan berharap bisa terlepas semakin Monika berusaha semakin kuat Aira mengengam


lama-lama Aira sudah bukan mengengam tangan Monika lagi lebih tepatnya mencekal


"ihhhhh sakit raa,,,," Monika merasa kesakitan


"janjiii dulu,,,, baru aku lepasin,,," melihat wajah Monika kesakitan Aira tetap saja kekeh tidak akan melepaskan sebelum berjanji


Monika merasa sudah tidak ada cara lain lagi akhirnya menurut saja, Monika mengangukkan


kepala, sebenarnya Aira mengerti maksud Monika tapi Aira ingin mendengar langsung dari mulut Monika


"kenapa hanya menganggukkan kepala, janji dulu,,,," pinta Aira suaranya lembut seolah tidak punya salah


"iyaa janjiii" Monika memutar bola matanya merasa lelah tidak ada cara lain lagi


Mendengar Monika sudah berjanji Aira lega karena Aira tau betul bagaimana Kakaknya, Monika Orang yang dapat dipercaya tidak pernah ingkar janji


" jangan sakitin Dodi kak, jangan marahi Dodi, bagaimanapun dia suamiku, salahku juga menjahili Dodi disaat tidur wajar jika Dodot marah lalu menamparku karena memang semuanya salahku,," ucapnya lirih


Di dalam fikiranya Aira menyalahkan diri sendiri Mengapa ia ditampar


Monika mendengar Aira menyalahkan diri sendiri geleng-geleng kepala sebenarnya apa yang dikatakan Aira ada benarnya, Aira sudah menggangu macam tidur wajar jika Dodi marah tapi bukan berarti main tangan juga, perbuatan kekerasan fisik tidak dapat dibenarkan


"hehehehheh,,,,," sudut bibirnya terangkat tersenyum kecil


"Dodot itu Dodi kak,,,,," sahutnya bibirnya masih tersenyum


"dodot,,,,,,,," Monika terlihat berfikir sesuatu


lalu tertawa


"hahahahahahhahahha,,,,,,,,"


Aira melihat Monika tertawa bingung Monika


terlihat tertawa lepas memegangi perutnya, Air matanya juga ikut menetes saking kerasnya tertawa


Aira masih diam terpaku memandang Monika,


Monika menyadari Aira menatapnya bingung mencoba menetralkan agar tidak tertawa lagi di tariknya nafas dalam-dalam lalu keluarkan, ditarik keluarkan,begitu sampai Monika benar-benar lega, setelah dirasa sudah lega Monika bertanya


"pasti kamu bingung kenapa aku tertawa" mencoba menjelaskan


Aira hanya menganggukkan kepala


mengisyaratkan iya Aira binggung


"gini lho menggapa kakak tertawa karena kamu memanggil Dodi dengan sebutan Dodot tidak dodol sekalian" Monika menjelaskan agar Aira tidak bingung lagi


"owhhhh,,,," jawabnya cuek

__ADS_1


"hikssss,,,,,, jangan bilang Dodot itu panggilan sayangmu" Monika menebak saja


Aira membulatkan mata,


"bisa-bisanya kak Monika berfikir panggilan sayang, ketika bersama saja sudah seperti orang asing bagaimana bisa punya panggilan sayang" bantah Aira menggerutu tidak terima


Melihat Aira kesal


"iyaaa,,,,,iyaaa,,,,,, gitu aja ngambek" ucap Monika


"enggak ngambek" bantah Aira menegaskan bila Aira tidak ngambek


keasikan mengobrol membuat Monika lupa jika tadi ingin menemui ibunya, seketika Monika mengingat kembali


"udah dulu yaaa Ra,,, aku mau ambil minum haus ketawa Mulu," bohong Monika padahal ingin mencari ibunya ingin mengatakan sesuatu


Aira percaya tidak curiga hanya menjawab


"iyaaa,,,,,,,"


"jangan nangis lagi nanti cantiknya hilang jadi jelek," Monika menggoda Aira


"sudah jelekk," sahut Aira begitu ketus


Monika hanya geleng-geleng kepala, dilanjut melangkahkan kaki keluar dari' kamar Aira hendak mencari ibunya


Monika menuju dapur berfikir ibunya didapur tapi tidak ada, di ruang keluarga juga tidak ada, di halaman juga tidak ada


Monika lelah mencari kesana kemari tetapi tidak terlihat ibunya sama sekali


"hhhhh,,,,, kemana sihhh ibu,,,, ihhhh bodoh banget kenapa tidak kepikiran yaa,,,, pasti di kamar hhhh,,,,," gumamnya dalam hati tangannya memukul-mukul kepala menyalahkan diri sendiri atas kebodohannya


Monika melangkah dengan pasti menuju kamar ibunya


Tokkkk,,,,,,,Tokkkk,,,,,,,Tokkk,,,,,,,,,,


Monika mengetuk pintu kamar ibunya, tidak ada sahutan dari dalam Monika mengetuk pintu lagi


Tokkk,,,,,,Tokkk,,,,,,Tokkk,,,,,,,


Monika masih menunggu didepan pintu tapi tidak ada sahutan


"hhhh,,,,,, ibu kemana sihhh,,,,,," menggerutu


"buuuu,,,,,,, ibu,,,,,, ini Monika, ibu didalam tidak,,," Monika berteriak keras berharap ibunya mendengar pertanyaan


Ibu Monika mendengar suara anaknya didepan pintu segera membuka pintu, sebelum sampai didepan pintu terdengar suara ketukan lagi


Tokkkk,,,,,,,,Tokkk,,,,,,,,Tokkk,,,,,,,,,,,,


Kali ini ketukannya lebih keras dari tadi mungkin Monika sudah benar-benar marah menunggu terlalu lama


" sabarrrr,,,,,," teriak ibu mini


"hhhhhh,,,,, ketuk pintu kayak mau dobrak pintu saja, bar-bar banget siapa sihhh yang ketuk pintu ngak sopan" menggerutu


Ibu mini tidak tahu jika putri kesayangannya yang mengetuk pintu

__ADS_1


__ADS_2