
Setelah cukup lama memeluk Monika
Aira melepaskan pelukannya
Monika menatap bola mata Aira terlihat cairan bening menetes diusapnya lembut
"katakan lahh sebenarnya apa yang terjadi" tanya Monika berharap Aira mau berbagi suka dukanya
Aira masih diam membisu terlihat ragu, melihat keraguan diraut wajah Aira
Monika pun memegang pundak Aira
"katakan lahh,,,,,,ada apa,,,, pasti suamimu sii Dodi itu nyakitin kamu yaa,,,," Monika hanya menebak saja
Aira hanya mengangguk anggukan kepala
menandakan iyaa
Monika melihat Aira sedih juga ikut sedih diusap rambut Aira begitu lembut
"sebenarnya,,,,,, hemmm,,,," Aira menggantung ucapannya
Disatu sisi Aira ingin berbagi keluh kesah setidaknya agar bisa sedikit lega
"kak Monik,,," panggil Aira
"iya Ra,,,,," sahutnya
Akhirnya Aira menceritakan semuanya
"brengsek, itu laki-laki tuwir beraninya kasar" tangannya mengepal terlihat wajahnya merah emosi
Monika hendak bangkit ingin menemui Dodi
Aira paham apa yang akan dilakukan Monika segera menarik tangan nya
"jangan kak,,,,, " menggelengkan kepala
wajah Aira lesu matanya sembab pipinya bekas tamparan di pipi juga terlihat jelas
Monika memeluk Aira lagi justru kali ini Monika yang menangis
"Raaa maafin kakak, semua ini karena nenek, harusnya hidupmu berkecukupan tetapi karena nenek hidupmu seperti ini,, jika kamu tau semuanya pasti akan membenciku juga Raa,,,, bagaimana pun nenek juga nenek kandungan ku" gumamnya dalam hati
"aku harus membicarakan semua ini ke ibu, aku sudah tidak sanggup melihat Aira menderita apalagi penyebabnya keluargaku sendiri, aku tidak bisa tinggal diam," gumamnya dalam hati
Monika melepaskan pelukannya ditatap wajah aira, wajah sendu tubuh kecil seperti kurang makan rambut acak-acakan wajah yang tidak pernah pakai make up mungkin tidak punya uang untuk membelinya, baju hanya itu-itu saja bahkan warnanya sudah memudar melihat semua itu hati Monika seperti ditaburi garam perihh sekali
Monika melirik dirinya sendiri, Monika memakai pakaian bagus harganya pun cukup mahal setiap bulan juga perawatan kulit, wajah sangat berbanding terbalik dengan Aira, Monika kemanapun pakai mobil sedangkan Aira motor saja tidak punya
Harusnya kemewahan milik Aira tapi karena keserakahan neneknya hidup Aira menderita
Monika membandingkan itu semua membuat hati Monika sesak
"aku harus melakukan sesuatu sudah cukup keluarga ku mengambil harta milik Aira keluarga ku juga tidak berhak mengatur jodoh Aira, sudah,,,,,,, sudah,,, cukup" gumamnya dalam hati
Monika beranjak melangkah pergi tapi Aira mengengam tangan Monika begitu kuat
__ADS_1
"lepasin Raaa,,,,," suaranya terdengar emosi
"aku tidak akan melepaskan sebelum kak Monik berjanji,,,," pinta Aira
"hmmmm,,,,," Monika hanya mendengus
Monika mengerakkan tangan berharap bisa terlepas semakin Monika berusaha semakin kuat Aira mengengam
lama-lama Aira sudah bukan mengengam tangan Monika lagi lebih tepatnya mencekal
"ihhhhh sakit raa,,,," Monika merasa kesakitan
"janjiii dulu,,,, baru aku lepasin,,," melihat wajah Monika kesakitan Aira tetap saja kekeh tidak akan melepaskan sebelum berjanji
Monika merasa sudah tidak ada cara lain lagi akhirnya menurut saja, Monika mengangukkan
kepala, sebenarnya Aira mengerti maksud Monika tapi Aira ingin mendengar langsung dari mulut Monika
"kenapa hanya menganggukkan kepala, janji dulu,,,," pinta Aira suaranya lembut seolah tidak punya salah
"iyaa janjiii" Monika memutar bola matanya merasa lelah tidak ada cara lain lagi
Mendengar Monika sudah berjanji Aira lega karena Aira tau betul bagaimana Kakaknya, Monika Orang yang dapat dipercaya tidak pernah ingkar janji
" jangan sakitin Dodi kak, jangan marahi Dodi, bagaimanapun dia suamiku, salahku juga menjahili Dodi disaat tidur wajar jika Dodot marah lalu menamparku karena memang semuanya salahku,," ucapnya lirih
Di dalam fikiranya Aira menyalahkan diri sendiri Mengapa ia ditampar
Monika mendengar Aira menyalahkan diri sendiri geleng-geleng kepala sebenarnya apa yang dikatakan Aira ada benarnya, Aira sudah menggangu macam tidur wajar jika Dodi marah tapi bukan berarti main tangan juga, perbuatan kekerasan fisik tidak dapat dibenarkan
"hehehehheh,,,,," sudut bibirnya terangkat tersenyum kecil
"Dodot itu Dodi kak,,,,," sahutnya bibirnya masih tersenyum
"dodot,,,,,,,," Monika terlihat berfikir sesuatu
lalu tertawa
"hahahahahahhahahha,,,,,,,,"
Aira melihat Monika tertawa bingung Monika
terlihat tertawa lepas memegangi perutnya, Air matanya juga ikut menetes saking kerasnya tertawa
Aira masih diam terpaku memandang Monika,
Monika menyadari Aira menatapnya bingung mencoba menetralkan agar tidak tertawa lagi di tariknya nafas dalam-dalam lalu keluarkan, ditarik keluarkan,begitu sampai Monika benar-benar lega, setelah dirasa sudah lega Monika bertanya
"pasti kamu bingung kenapa aku tertawa" mencoba menjelaskan
Aira hanya menganggukkan kepala
mengisyaratkan iya Aira binggung
"gini lho menggapa kakak tertawa karena kamu memanggil Dodi dengan sebutan Dodot tidak dodol sekalian" Monika menjelaskan agar Aira tidak bingung lagi
"owhhhh,,,," jawabnya cuek
__ADS_1
"hikssss,,,,,, jangan bilang Dodot itu panggilan sayangmu" Monika menebak saja
Aira membulatkan mata,
"bisa-bisanya kak Monika berfikir panggilan sayang, ketika bersama saja sudah seperti orang asing bagaimana bisa punya panggilan sayang" bantah Aira menggerutu tidak terima
Melihat Aira kesal
"iyaaa,,,,,iyaaa,,,,,, gitu aja ngambek" ucap Monika
"enggak ngambek" bantah Aira menegaskan bila Aira tidak ngambek
keasikan mengobrol membuat Monika lupa jika tadi ingin menemui ibunya, seketika Monika mengingat kembali
"udah dulu yaaa Ra,,, aku mau ambil minum haus ketawa Mulu," bohong Monika padahal ingin mencari ibunya ingin mengatakan sesuatu
Aira percaya tidak curiga hanya menjawab
"iyaaa,,,,,,,"
"jangan nangis lagi nanti cantiknya hilang jadi jelek," Monika menggoda Aira
"sudah jelekk," sahut Aira begitu ketus
Monika hanya geleng-geleng kepala, dilanjut melangkahkan kaki keluar dari' kamar Aira hendak mencari ibunya
Monika menuju dapur berfikir ibunya didapur tapi tidak ada, di ruang keluarga juga tidak ada, di halaman juga tidak ada
Monika lelah mencari kesana kemari tetapi tidak terlihat ibunya sama sekali
"hhhhh,,,,, kemana sihhh ibu,,,, ihhhh bodoh banget kenapa tidak kepikiran yaa,,,, pasti di kamar hhhh,,,,," gumamnya dalam hati tangannya memukul-mukul kepala menyalahkan diri sendiri atas kebodohannya
Monika melangkah dengan pasti menuju kamar ibunya
Tokkkk,,,,,,,Tokkkk,,,,,,,Tokkk,,,,,,,,,,
Monika mengetuk pintu kamar ibunya, tidak ada sahutan dari dalam Monika mengetuk pintu lagi
Tokkk,,,,,,Tokkk,,,,,,Tokkk,,,,,,,
Monika masih menunggu didepan pintu tapi tidak ada sahutan
"hhhh,,,,,, ibu kemana sihhh,,,,,," menggerutu
"buuuu,,,,,,, ibu,,,,,, ini Monika, ibu didalam tidak,,," Monika berteriak keras berharap ibunya mendengar pertanyaan
Ibu Monika mendengar suara anaknya didepan pintu segera membuka pintu, sebelum sampai didepan pintu terdengar suara ketukan lagi
Tokkkk,,,,,,,,Tokkk,,,,,,,,Tokkk,,,,,,,,,,,,
Kali ini ketukannya lebih keras dari tadi mungkin Monika sudah benar-benar marah menunggu terlalu lama
" sabarrrr,,,,,," teriak ibu mini
"hhhhhh,,,,, ketuk pintu kayak mau dobrak pintu saja, bar-bar banget siapa sihhh yang ketuk pintu ngak sopan" menggerutu
Ibu mini tidak tahu jika putri kesayangannya yang mengetuk pintu
__ADS_1