Dijodohkan Nenek

Dijodohkan Nenek
tugas


__ADS_3

Matahari sudah terasa tepat diatas Ubun-ubun udara diluar begitu panas, sama seperti didalam kantor milik keluarga Sasongko, meskipun AC menyala sempurna tetap saja terasa panas


Di ruangan Aldo dan Edy (ayahnya Aldo) masih saja bersitegang


Edy sudah muak dengan sikap anaknya seolah tidak serius menjalankan bisnis keluarga,


Terlihat' Edy memikirkan cara agar anaknya bisa menjadi laki-laki yang diharapkan Edy


Setelah cukup lama berfikir Akhirnya Edy mengambil keputusan agar anaknya bisa lebih disiplin bertanggung jawab


"jika tidak ingin perusahaan ini menjadi milik Vian kamu harus buktikan kalau kamu itu layak memimpin perusahaan ini," ucap Edy terlihat begitu tenang Edy begitu yakin anaknya tidak akan memberikan perusahaan turun temurun ini


"akan Aldo buktikan Aldo mampu pa,,," ucap Aldo begitu yakin


"sebenarnya Aldo malas mengurus perusahaan kalau bukan wasiat kakek ,,,,,," gerutu dalam hati


sejak kecil Aldo bercita-cita menjadi pilot tetapi keluarga besar berharap Aldo yang akan meneruskan perusahaan kelak


Aldo sudah berusaha menolak hingga detik-detik ajal kakeknya akan tiba, kakek berpesan menitipkan perusahaan kepada Aldo perusahaan yang dibangun dari nol sampai dititik saat ini pasti tidak mudah melaluinya,terpaksa Aldo menyetujui wasiat kakek


"Buktikan jangan hanya omong kosong,,,,, perusahaan kita di Singapura sedang ada masalah kamu urus dan selesaikan buktikan ke papa kamu mampu papa butuh bukti bukan tong kosong berbunyi nyaring,,," teriak Edy, matanya bulat penuh menekan kalimatnya


Entah menggapa Edy seperti wanita sedang palang merah saja, tadi lembut tiba-tiba bisa jadi garang


Aldo tertunduk lesu mendengar perintah bokapnya, bagaimana pun Aldo lebih nyaman Ditanah Air Indonesia


"hmmm,,,,,, papa saja yang urus perusahaan di Singapura biar Aldo mengurus di sini" bantahnya, Aldo mencoba menegosiasi


" Singapura atau biarkan perusahaan ini menjadi milik Vian?" tanya Edy


" hhhh,,,,,,, iyaa,,,, iyaa,,,,, Aldo mau ke Singapura," suaranya lirih tidak bersemangat


Vian sedari tadi hanya menjadi pendengar tidak mengatakan sepatah kata pun karena Vian yakin Edy hanya menggertak Aldo saja, mana mungkin harta yang tidak akan habis 7 turunan diberikan ke orang lain begitu saja cuma-cuma


"jadi kapan Aldo ke Singapura?" tanya Aldo memastikan agar Aldo dapat bersiap-siap


Edy melirik jam tangan ditangannya


" dua jam lagi" ucapnya


mendengar kata dua jam lagi Aldo membulatkan mata penuh, mulutnya mengganga seolah tak percaya Aldo kaget menggapa dua jam lagi begitu mendadak


"Paa,,,, bagaimana tiketnya, Aldo juga belum berkemas besok saja yaaa,,,,Pa,,," Aldo memasang wajah belas kasihan merengek berharap papanya mengulur waktu setidaknya hanya untuk hari esok


" soal tiket udah siap tenang saja dan tidak perlu berkemas jika butuh apapun beli saja kalau sudah sampai di sana" sahut Edy matanya sudah fokus membolak-balik berkas


"tapii Pa,,,,,," belom sempat Aldo menyelesaikan ucapannya sudah di potong Edy

__ADS_1


Seolah Edy sudah tau apa yang akan dikatakan anaknya


"tidak ada tapi-tapian segera pergi ke bandara sekarang, biar diantar Vian" ucapnya


"Vian antar Aldo ke bandara sekarang" sambungnya lagi


"Siap tuan,,, " dengan sigap Vian menjalankan perintah bos besarnya


Aldo keluar dari ruangan bokapnya


"papa pasti sudah merencanakan semua ini hhhhhh,,,,,,,,,,," gerutu Aldo


Aldo tidak menyadari jika suaranya masih bisa di dengar bokapnya


"Aldo papa masih bisa mendengarnya,"


"hhhhhh,,,,,, Siall,,,,selalu saja menyuruh seenak jidat,," gerutu Aldo


Aldo disepanjang jalan menuju parkiran terus menggerutu tidak peduli berapa ratus mata yang menatapnya


"hhhhh,,,,,,, lucu ngatain bokap sendiri menyuruh seenak jidat padahal dirinya juga sama ketika menyuruh suka seenaknya sendiri, mungkin ini yang dinamakan buah jatuh tidak jauh dari tempatnya" gumam Vian dalam hati


Aldo meninju diudara sedangkan kakinya di hentakan ditanah begitu kesal dengan keputusan bokapnya yang tidak bisa diganggu gugat


Vian mendengar bosnya terus menggerutu hanya geleng-geleng kepala


Di kediaman Aira


Monika sudah duduk diatas ranjang ibunya menarik nafas dalam-dalam mencoba mengatakan sesuatu yang sedari tadi mengganjal perasaannya


"hmmm,,,,, ada apa nak, kenapa kemari,,,," ibu mini membuka percakapan terlebih dahulu


"hmmmm,,,,, sebenarnya,,,,,,," Monika terlihat bingung


Tanpa Monika mengatakan ibu mini sudah bisa memastikan putrinya sedang memikirkan sesuatu terlihat jelas dari raut wajahnya


"hmmm,,,,,,,,," ucapnya


Monika masih ragu mengatakan


"katakanlah sayang, jangan ragu, apa yang membuat putriku tercinta ini gelisah?" tanya ibu mini tangannya mengusap-usap kepala Monika


"hmmmm,,,,,,, sebenarnya tadi Monika ke kamar Aira Bu,,," ucapnya


"Lalu,,,,,,,," sahut ibu Mini


Monika pun menceritakan semuanya tanpa ada ada satu cerita pun yang terlewatkan

__ADS_1


Ibu mini mencoba mencermati, memahami,mendalami perkataan putrinya


"begini nak, perdebatan, kesalahan pahaman dalam rumah tangga itu biasa terjadi sayang" ibu mini mencoba menjelaskan


"tapi ma, Dodi sudah berani menampar Aira padahal baru hitungan hari Dodi resmi menjadi suami Aira, Apalagi bila sudah lama entah apa yang akan dilakukan laki-laki tuwir itu," Monika menautkan rahangnya kedua alisnya terangkat, jelas raut wajah marah seolah siap menerkam apa saja yang ada di depannya


"nak,,,,, bukankah Aira sudah mengatakan tidak apa-apa, Aira juga mengakui jika Aira memancing amarah suaminya," dengan begitu lembut menjelaskan meredam amarah putrinya


"iyaa,,, ma,,, tapi Monika tidak rela Aira disakiti laki-laki tuwir itu" ucapnya


"hussstttt,,,,,tidak baik mengatakan Dodi tuwir, bagaimana pun Dodi suami Aira, Aira saudaramu jadi Dodi juga sudah menjadi bagian keluarga ini,,," ucap ibu Mini


"ibu kenapa sihhhh,,,,, dari tadi membela laki-laki tuwir itu ,,,,," gerutu Monika


Monika kesal membuatnya memutar arah membelakangi ibunya


Melihat anaknya kesal ibu Mini menghembuskan nafasnya kasar, cukup lama ibu dan anak ini saling diam hingga Akhirnya Monika memecah keheningan


"Bu,,,,,,,,,," ucap Monika, tubuhnya sudah diputar menghadap ibunya


"iyaaa nak ada apa" sahut ibu Mini


" Bu, Monika kasian melihat penderitaan Aira apa sebaiknya kita bantu Aira bercerai dari dodi" tanya Monika berharap ibunya setuju dengan idenya


Ibu Mini menghembuskan nafas kasar, tidak menyangka anaknya akan berfikir tentang sejauh itu padahal Aira baru saja menikah,tapi ibu Mini juga menyadari Monika usia saja yang dewasa sedangkan pemikiran masih anak-anak


"apa Aira berbicara kepada mu perihal cerai dari suaminya?" tanya ibu mini


Monika tidak menjawab hanya geleng-geleng kepala


Memang Aira begitu terluka tapi Aira tidak pernah mengatakan perceraian


"begini nak Aira dan Dodi baru saja menikah, mereka menikah karena dijodohkan, jadi butuh waktu bagi Aira dan Dodi memahami karakter masing-masing, seiring berjalannya waktu rasa cinta bisa tumbuh nak" begitu halus lembut ucapnya


"kalau rasa cinta tidak juga tumbuh bagaimana Bu,,,," tanya Monika


" jangan berfikiran yang tidak-tidak anakku, kita tidak tau hari esok akan bagaimana, biar waktu yang menjawab semuanya" ucap ibu Mini


"kalau rasa cinta tidak juga tumbuh bagaimana" pertanyaan Monika masih sama seperti tadi


"ibu akan membantu Aira bagaimana baiknya"


"janjiiii,,,,,," Monika tersenyum lebar memberikan jari telunjuk berharap ibunya akan berjanji


Ibu mini menyambut jari kelingking Monika dengan jarinya


"iya janjiii,,,,,," ucap ibu Mini

__ADS_1


Monika memeluk Ibunya begitu erat


__ADS_2