
Vian bingung mengapa sahabatnya yang juga bosnya tiba-tiba mengajak kerumahnya
Padahal selama ini Aldo engan masuk kerumah Vian, mungkin karena rumah Vian kecil tidak seperti rumah Aldo bak istana, begitulah yang ada di benak Vian
Aldo yang duduk di kursi belakang menatap punggung Vian sejak tadi karena Vian hanya diam saja tidak menyahut perkataan Aldo
"an,,,,,, ini bukan jalan ke rumahmu, apa kamu lupa perintahku" ucap Aldo memicingkan mata
Vian yang mendengar suara bariton pria dibelakangnya tersadar jika mobil yang dikendarai tidak melaju menuju rumahnya
"maaf do,,,," ucap Vian
Vian memutar balikkan mobil yang dikendarainya menuju arah rumahnya
Begitu banyak pertanyaan yang ada dibenak Vian tapi mulutnya terasa kelu , lidah serasa bertulang tidak mampu berucap
Setelah begitu banyak pertimbangan akhirnya Vian mencoba bertanya
"do, ngapain kamu mau ke rumahku, bukankah,," ucap Vian menggantung karena Aldo sudah bersuara memotong perkataan Vian
"jenguk adikmu, bukankah adikmu habis kecelakaan" ucap Aldo tatapan matanya tidak lepas dari ponsel
Vian yang mendengar perkataan Aldo semakin bingung karena seorang Aldo anak pengusaha sukses yang sibuknya minta ampun bisa-bisanya mau menjenguk adik dari asistennya
Sepersekian detik rasa khawatir menyelimuti hati Vian, mengapa tidak Vian begitu faham seorang Aldo, pria dingin hatinya tak tersentuh karena pernah ditolak gadis cinta pertamanya
Vian takut Mila berbuat salah dan menjenguk Mila hanya alasan saja untuk mendekati Mila
seperti wanita yang sudah-sudah
yaa,,,,,dulu pernah ada wanita yang acuh dengan seorang Aldo dan Aldo yang merasa tertantang mencoba mendekati wanita tersebut, setelah wanita itu luluh begitu mencintai Aldo justru Aldo memutuskan sepihak begitu saja
"hemmm,,,,,,,,," Aldo berdehem
Mendengar Aldo berdehem Vian melirik sebentar ke arah belakang setelah itu fokus memandang kedepan
Saat ini Vian tidak fokus mengemudi tapi untung saja jalanan tidak terlalu ramai, sangat berbahaya mengemudi keadaan banyak fikiran Vian juga mengetahui akan hal itu tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin Vian menyuruh Aldo mengemudikan mobil
__ADS_1
Vian yang sudah lelah bergulat dengan fikiranya mencoba bertanya dari pada membuat beban pikirannya, itulah yang ada di benak Vian
"do, kenapa kamu bisa tau jika adikku kecelakaan, dan untuk apa kamu menjenguk adikku bukankah kalian tidak saling mengenal" ucap Vian panjang lebar
Jika menyangkut adik satu-satunya Vian tidak akan membiarkan Aldo berani menyakiti adiknya, sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya Vian tidak peduli
"apa kamu lupa siapa saya Vian" ucap Aldo
"aku dan adikmu memang belum saling mengenal makanya sekarang mau menjenguk adikmu biar saling mengenal" ucap Aldo panjang lebar
Deg,,,,,
"saling mengenal" gumam Vian dalam hati
Wajah Vian semakin memucat bagaimana tidak boss tempatnya bekerja yang juga sahabatnya ingin mengenal adiknya
"Mila,,,,, apa yang telah kamu perbuat sampai Aldo ingin mengenalmu" ucap Vian pastinya dalam hati
Andai Aldo pria yang mencintai adiknya dengan tulus pasti hari ini Vian akan sangat bahagia
Tapi Vian sadar Aldo mendekati adiknya pasti ada maksud dan tujuan tertentu, tujuan yang belum Vian ketahui sama sekali
Aldo tersenyum menyeringai, sebelumnya Aldo sudah bisa memperkirakan jika Vian akan berkata seperti itu
"sudah tau masih nanya" ucap Aldo ketus
Mendengar ucapan Aldo yang ketus Vian menghentikan mobilnya
"Citttt,,,,,,,,," suara rem mobil berdecit
Aldo yang duduk dikursi belakang kaget dan
"Brukkkk,,,,,,,," tubuh Aldo oleng dan keningnya menghantam ujung kursi penumpang depan
"Awwwww,,,,,,,,," Aldo meringis tangannya mengusap keningnya
Aldo membetulkan posisinya yang sedikit oleng karena Vian mengerem secara mendadak, Aldo sudah duduk dengan nyaman, ponsel Aldo sempat akan jatuh tapi untung saja Aldo dengan sigap menangkapnya, entah apa yang akan terjadi dengan Vian jika sampai ponsel Aldo yang berlogo apel digigit jatuh akibat ulahnya yang mengerem mendadak
__ADS_1
"an,,,,,,,,," Aldo berteriak
Mendengar sahabatnya memanggil namanya Vian menoleh
"apa, kamu mau marah, silahkan,,,,,,,, selama ini aku diam menjadi teman terbaikmu bukan cuma teman tapi sahabat, sudah banyak suka duka yang telah kita lewati ,tapi kamu bisa-bisanya ingin menyakiti adikku, apa pengorbanan ku selama ini persahabatan kita tidak ada artinya apa-apa do,,,," ucap Vian berteriak matanya melotot terlihat dari nanar matanya Vian begitu marah
"apa karena aku cuma orang miskin, apa karena aku hanya asisten mu, kau anggap aku bisa diinjak-injak sesuka hatimu, ingat baik-baik do jika kamu berani menyakiti adikku kamu akan berurusan dengan ku" sambung Vian
Vian sudah tidak punya rasa takut sama sekali berhadapan dengan Aldo Sasongko anak pengusaha sukses yang bisa melakukan apapun dengan uangnya bahkan untuk menghancurkan keluarga Vian ibarat menjentikkan jari
Vian sudah tidak peduli semua itu bahkan jika harus kehilangan nyawa karena melindungi adiknya Vian sudah tidak peduli lagi
Mungkin bagi Mila Vian kakak yang menyebalkan karena Vian bersikap dingin sedingin minum es di Kutub Utara. Vian jarang bicara sekali bicara melarang, itulah Vian dibalik sikapnya yang terkesan cuek di depan adiknya sebenarnya Vian begitu menyayangi adik satu-satunya tersebut
Aldo yang melihat Vian begitu kesal, marah bukanya takut justru tertawa, bagi Aldo ekspresi Vian ketika marah justru terlihat lucu
"hahahahahahaha" suara gelak tawa Aldo memenuhi penjuru ruangan mobil
Mendengar Aldo tertawa Vian mengerutkan keningnya, Aldo tidak habis fikir ketika amarahnya serasa di atas ubun-ubun bisa-bisanya Aldo malah tertawa harusnya Aldo takut, begitulah yang ada di benak Vian
Aldo memegangi perutnya , tak terasa sudut matanya juga berair karena tertawa terbahak-bahak, Aldo pun menarik nafas dalam dan keluarkan berusaha menetralkan agar berhenti tertawa sedangkan jari tangannya menyeka air matanya yang jatuh bukan air mata kesedihan lho yaa,,,,,,
Setelah dirasa netral Aldo berbicara mencoba menjelaskan sedangkan Vian masih diam datar tanpa ekspresi
"aku tidak akan menyakiti adikmu tenang saja" ucap Aldo dengan tenangnya
Sedangkan Vian diam saja tatapan matanya kosong ekspresinya datar
Melihat sahabatnya masih diam saja Aldo membuka percakapan lagi
" aku bukan pria gila yang akan menghancurkan persahabatan kita begitu saja, lagi pula adikmu bukan seleraku" ucap Vian sedangkan tangannya mengambil ujung kerah, mengisyaratkan jika Vian pria tampan,keren sejuta pesona mana mungkin menyukai adik dari asistennya
Vian membulatkan matanya mendengar perkataan bosnya yang super kepedean tingkat dewa dan adikmu bukan seleraku
Ahhhhh,,,,,,,, kata - kata itu sungguh membuat Vian kesal, Mila adiknya gadis cantik,baik juga gadis yang berprestasi laki-laki mana yang tidak menginginkan adiknya tapi bisa-bisanya Aldo berkata bukan seleraku
Jangan lupa Like, Vote dan Komen
__ADS_1
Melihat orang yang Like karya author makin sedikit membuat author sedih
Terkadanga author berfikir ingin menyerah saja tapi terkadang juga berfikir ahhhh kok semudah itu menyerah, bukankah semakin tinggi pohon semakin banyak angin yang menerpa