
Hari sudah berganti hari, sang surya dan sang rembulan silih bergantian hadir tak terasa waktu sudah berjalan satu bulan lamanya
Aira masih seperti biasa menjadi ibu rumah tangga, berusaha menerima kepergian sang kekasih dan berusaha mencintai suaminya
Kegiatannya selama satu bulan ini seperti ibu rumah tangga pada umumnya, membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan suaminya, dari menyiapkan makan pagi,siang dan sore, Aira juga menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya
Selama satu bulan ini Aira berusaha mencintai suaminya tapi hati tak bisa dibohongi bukan semakin mencintai suaminya dan melupakan Bryan sang mantan kekasih
Justru malah cinta Aira untuk Bryan semakin besar, apalagi Bryan yang memilih mengakhiri hidupnya dari pada harus melihat orang yang disayang bersama pria lain
Membuat Aira terkagum, betapa besar cinta Bryan untuknya, begitulah yang ada dibenak Aira
Tapi dilain sisi Aira juga merasa menjadi dalang dibalik insiden yang membuat Bryan lebih memilih mengakhiri hidup
Padahal itu bukan salah Aira, semuanya sudah takdir Yang Maha Kuasa, tapi tidak untuk Aira, bukannya tidak menerima kehendak Yang Maha Kuasa tapi Aira masih merasa sangat bersalah
Andai kehidupan bisa dipilih sesuai keinginan, Aira lebih memilih tidak pernah mengenal Bryan
Dengan begitu pastinya Bryan masih hidup sampai saat ini, begitulah yang ada dibenak Aira
Saat ini Aira masih duduk termenung di depan teras rumah, duduk sambil menopang dagu tatapan matanya lurus tapi kosong karena fikiranya kemana-mana
Aira memikirkan nasib kisah cintanya bersama sang pujaan hati yang harus kandas, Aira juga memikirkan bagaimana caranya menghapus perasaannya terhadap Bryan, karena bagaimanapun tidak baik jika sudah bersuami masih memikirkan pria lain
Meskipun pria itu sudah meninggal tapi tidak baik saja masih memikirkannya
Aira juga berfikir bagaimana caranya mencintai Dodi suaminya, meskipun Aira dan Dodi tinggal bersama dalam satu atap bahkan satu kamar dan sudah berbulan-bulan lamanya
Tapi tetap saja cinta Aira untuk Dodi suaminya tidak tumbuh sedikitpun meskipun itu hanya sebulir padi
Tiba-tiba Aira teringat tabungannya yang selama ini ia kumpulkan semakin hari semakin menipis karena pengeluaran setiap hari sedangkan pemasukan tidak ada
Apalagi Aira yang sudah tidak bekerja selama berbulan-bulan agar dapat melupakan mantan kekasihnya dan berharap bisa mencintai suaminya
Tapi hanya harapan realita tak sesuai ekspektasi, bukannya melupakan dan mencintai suaminya justru yang ada malah tabungannya yang habis karena terlalu lama menganggur
Meskipun Aira sudah sah menjadi suami Dodi tapi Dodi tidak pernah memberikan nafkah lahir maupun batin untuk Aira
Eitsss ralat, pernah diberi nafkah lahir tapi itu sudah lama sekali waktu awal pernikahan itupun hanya 500 ribu rupiah
__ADS_1
Sedangkan Aira dan Dodi sudah menikah sekitar 5bulan lamanya, dapat dipastikan uang segitu sudah habis dari jauh-jauh hari
Aira yang menanggung semua kebutuhan yang ada dirumahnya dari makan sampai biaya bayar listrik ini dan itu dapat dipastikan tabungannya yang selama ini susah payah dikumpulkan sudah habis habis begitu saja
Aira yang teringat tabungannya sudah menipis segera berfikir bagaimana caranya agar dapurnya tetap mengepul
yaa,,,,, meskipun Aira istri sah Dodi tapi Aira tidak berani meminta uang kepada suaminya sendiri, sedangkan Dodi entah karena pelit, tidak punya uang atau kurang peka sehingga tidak memberikan haknya Aira sebagai seorang istri
Aira sebenarnya tau apa saja kewajiban seorang suami, tanggung jawab yang harus dipenuhi seorang suami tapi mau bagaimana lagi Aira tidak berani meminta haknya terlebih dahulu
Setelah cukup lama berfikir mempertimbangkan ini dan itu, Aira memutuskan untuk bekerja lagi, toh dirumah juga sama saja tidak bisa melupakan Bryan, begitulah yang ada dibenak Aira
Aira meraih ponsel miliknya yang tergeletak disamping tempatnya melamun
Aira mencoba menghubungi Aldira sahabatnya, setelah cukup lama menunggu akhirnya Aldira mengangkat panggilan dari Aira
"assalamualaikum" ucap Aira
"waallaikum salam" jawab Aldira dari balik ponsel
"Al,,,,,," ucap Aira lirih ragu untuk mengatakannya
"anakku sedang demam jadinya rewel cepat katakanlah, aku tidak punya banyak waktu" ucap Aldira tegas
Aira yang mendengar Alvira demam jadi khawatir
"udah diperiksakan ke dokter belum????" ucap Aira panik
"tanpa menunggu perintah mu sudah aku periksakan dari tadi" ucap Aldira ketus
Meskipun Aldira sering berbicara ketus juga sikapnya yang sering menyebalkan, tapi Aira tidak perlu sakit hati akan perkataan ataupun sikap Aldira
Karena Aira sadar dibalik sikap Aldira yang seperti itu sesungguhnya Aldira wanita yang baik juga sahabat terbaik untuk Aldira
"maaf, santai saja bro gitu saja ngegas" ucap Aira tanpa merasa tidak enak
"two the poin, cepat" ucap Aldira ngegas
Namanya juga emak-emak kalau anak sudah masuk angin bakalan garang
__ADS_1
Mungkin karena lelah menjaga anak rewel, juga rasa bingung, sedih, lelah, tercampur menjadi satu membuat seorang Aldira mudah naik pitam
Bukan cuma Aldira sihh tapi kebanyakan ibu dimana pun juga begitu
"Al, ditempatmu kerja ada lowongan pekerjaan atau tidak, soalnya aku ingin bekerja lagi" ucap Aira lirih tapi dapat didengar Aldira
Aldira memicingkan matanya mendengar perkataan Aira, tidak habis fikir mengapa Aira tiba-tiba ingin berkerja lagi, begitulah yang ada di benak Aldira
Pasti ada sesuatu yang terjadi, begitulah yang ada dibenak Aldira, ingin rasanya Aldira bertanya saat ini juga, tapi mau bagaimana lagi keadaan dan situasi sedang tidak bersahabat
"ada banyak lowongan pekerjaan ditempat ku kerja" ucap Aldira menjawab pertanyaan Aira
yaa,,,, saat ini Aldira sudah tidak bekerja di sebuah swalayan lagi, semenjak Aira mengundurkan diri dari swalayan tersebut karena ingin melupakan Bryan sang mantan pacar, tak lama kemudian Aldira juga mengundurkan diri, bukan karena tak ada Aira sahabatnya
Tapi karena ada sebuah perusahaan baru yang menawarkan gaji lebih menjanjikan membuat Aldira segera gerak cepat tidak menyia-nyiakan kesempatan
"lowongan di bagian apa????" tanya Aira
"sudah jangan tanya mulu sudah seperti wartawan saja" ucap Aldira
"hikkzzzzzz,,,,,, hikzzzzz,,,,,, hikkzzzzzz,,,,,," suara tangisan Alvira terdengar sampai dibalik ponsel
Aira yang mendengar suara Alvira menangis dari balik ponsel sedikit panik
"Cup,,,,, cup,,,,,,cup,,,,," ucap Aira mencoba menenangkan Alvira dari balik ponsel
Aldira yang mendengar suara anaknya menangis membuatnya panik
Aldira segera mengendong tubuh Alvira anaknya, meninggalkan ponselnya yang ia letakkan diatas nakas
Aira yang mendengar suara Alvira menangis dari balik ponsel ikutan panik, andai dekat sudah dapat dipastikan Aira akan segera menenangkan Alvira
Aira masih setia mendengarkan suara Aldira yang sedang berusaha menenangkan anaknya
*************************
Sedangkan ditempat lain terlihat pria gagah,masih muda ganteng terlihat sangat kesal
"huhhhhhh,,,,,,," ucap pria itu sambil mendengus kesal
__ADS_1