
Aldo bergegas pergi ke kantor meninggalkan Bryan sendiri di hotel, jarak hotel ke kantor cukup jauh memakan satu jam perjalanan itu pun kalau tidak macet
Sialnya ditengah perjalanan mobil terasa oleng
"kenapa oleng begini, sepertinya ban mobilku kempes, hhhhh,,,,,, sial" gerutu Aldo memukul stang mobil
Aldo keluar mobil ternyata benar ban mobilnya kempes sepertinya bocor
Disaat genting ban mobil malah bocor, seolah Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepadanya
Tringggg,,,,,,,,Tringgg,,,,,,Tringgg,,,,,,,,
Ponsel Aldo berbunyi, di ambil ponsel dari saku celana dilihat siapa yang telfon dan benar saja dugaan Aldo siapa lagi kalau bukan bokapnya
Dengan cepat di angkat telfon dari bokapnya, cukup lama berbicara apa lagi yang bokapnya katakan kalau bukan marah-marah karena Aldo belum sampai juga di kantor
Stelah telfon ditutup Aldo meninju di udara menghentakkan kaki
"hhhhhh,,,,,,, Siall,,," gerutu Aldo kakinya menendang ban mobil saking kesalnya
"Biar mobilnya diambil Vian saja, lebih baik naik taksi saja agar cepat sampai kantor" gumamnya dalam hati
Vian asisten Aldo juga sahabat Aldo sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas sampai sekarang bahkan dulu juga kuliah bersama
Aldo menunggu taksi lewat, cukup lama Aldo menunggu 15menit belom terlihat taksi lewat membuat kemarahan Aldo serasa diatas ubun-ubun
"hhhhhhh,,,,,,,, lama amat sihhh taksinya bisa marah itu macan kumbang" gerutu Aldo
Dasar anak durhaka yaa,,,, ngatain ayahnya macan kumbang, kalau ayahnya macan kumbang berarti anaknya juga macan
kwkwkwk,,,, mungkin begitu marahnya sampai tidak terpikirkan sampai situ
Aldo bergumam sendiri cukup lama, orang' yang melihat Aldo ngomong sendiri menggira Aldo agak kurang atau setres
Tapi Aldo tidak menghiraukan tatapan mereka Aldo masih bergumam sendiri
Setelah cukup lama menunggu taksi datang, segera Aldo membuka pintu
"pak jalan xxxxxxxxx nomer sekian" suara Aldo begitu judes siapa saja yang mendengar pasti paham jika ia sedang kesal
Pak sopir hanya menganggukkan kepala
Aldo menatap luar jendela selama perjalanan terlihat pohon rindang, gedung-gedung, butik, swalayan, kantor-kantor tetapi tatapan mata Aldo tatapan mata kosong seperti sedang memikirkan sesuatu
tak terasa taksi yang ditumpangi Aldo sudah sampai di kantor milik ayahnya, Aldo masih saja melamun tidak menyadari bila sudah sampai
Berulang kali supir taksi memanggil memberi tahu sudah sampai tetapi Aldo tidak mendengar
"Pakkk,,,,, sudah sampai," teriak sopir taksi membuyarkan lamunan Aldo
__ADS_1
" hhhhhhh,,,,,,,," Aldo menoleh ke arah suara dengan raut wajah polos binggung
"pak,, kita sudah sampai sejak tadi" suara sopir taksi bibirnya tersenyum padahal dalam hati kesal penumpangny dari tadi dipanggil tidak konek
"hhhhhh,,,,,sudah sampai ya,,,," tanya Aldo
"ini pak ongkosnya" sambungnya sambil tangannya mengulurkan beberapa lembar uang
Pak supir menghitung ternyata uang dari Aldo ternyata lebihhh, belum sempat supir taksi berkata sudah duluan Aldo bicara
"sisanya ambil saja," ucap Aldo
Supir taksi hanya menganggukkan kepala
"untung saja dikasih lebih kalau tidak, hhhh,,,,,,,,," gumamnya dalam hati
Aldo sudah masuk ke kantor karyawan yang melihat kedatangan Aldo menundukkan kepala memberikan hormat
Melihat Aldo datang Vian berlari mendekati Aldo
"do,,,,,, kemana saja,,,, Pak Edy sudah marah- marah nunggui elu,,,,," ucap Vian nafasnya terengah-engah karena berlari mengejar Aldo
Aldo tidak menanggapi pertanyaan Vian,
Aldo justru berjalan ke arah ruang meeting
Vian yang mengerti arah yang dituju bosnya ruang meeting ingin memberi tau jika meeting sudah selesai
"do,,,,,"teriak Vian
Tetap saja tidak digubris menoleh saja tidak Aldo terus fokus berjalan menuju ruang meeting tidak menghiraukan Vian yang tengah terengah-engah menututi jalannya Aldo bakk jett pribadi
Aldo Sampai diruang meeting tanganya membuka pintu terlihat sudah tidak ada siapapun
Aldo menoleh ke arah Vian yang baru saja sampai nafasnya masih terengah-engah
" annn,,,,, meetingnya belom dimuuuu,,,," belom sempat Aldo menyelesaikan ucapannya Vian sudah menyahut
"meeting telah usai tadi pak Edy yang mengantikanmu" ucap Vian
"kenapa tidak bilang dari tadi" gerutu Aldo
Ingin rasanya Vian berteriak bagaimana mau bilang jika Aldo saja tidak memberikan kesempatan bicara, Vian ingin sekali marah melihat sikap Aldo selalu saja seenaknya sendiri tapi mau bagaimana lagi Vian hanya asisten dan Aldo bosnya
"maaff, belum sempat bicara elu udah,,,," ucap Vian suaranya lirih kepalanya menunduk tetapi belom sempat menyelesaikan ucapannya sudah dipotong Aldo
"sudah,,,,lahh,,,, pasti elu hanya akan mencari pembenaran untuk dirimu sendiri lalu menyalahkan ku" ucap Aldo
pembenaran,,,,,,,, menyalahkan,,,,, Vian mendengar kata itu Vian geleng-geleng kepala
__ADS_1
"inget pasal satu ann,, bos tidak pernah salah" ucap Aldo bangga
"iyaaa,,,,,iyaaa,,,, jika bos melakukan kesalahan ingat pasal satu bos tidak pernah salah" sahut Vian menundukkan kepala merasa malas
Vian paham betul bagaimana bosnya ketika melakukan kesalahan akan mengatakan itu-itu saja
"naahhh itu paham,,,," ucap Aldo senyum menyeringai seolah mengejek posisi Vian dibawah Aldo
"hmmmm,,,,," Vian berdehem
"dimana bokap" tanya Aldo bola matanya melirik kesana kemari mencari bokapnya
"bokap elu di ruang kerjanya" ucap Vian
Vian yang telah salah bicara membungkam mulutnya
Mendengar kata bokap elu mata Aldo melotot sempurna seolah siap menerkam apa saja yang ada didepannya
"maaf do, maksudku tuan besar" ucap Vian menundukkan kepala takut emosi Aldo meledak-ledak
Bagi Aldo jika Vian memanggilnya hanya nama saja tidak masalah karena Vian sahabat Aldo meskipun Aldo bosnya, tapi untuk bokapnya Aldo tidak terima bila Vian memanggilnya tanpa embel-embel tuan
Diluar dugaan Aldo tidak marah-marah tapi hanya diam saja kakinya melangkah pergi meninggalkan Vian yang masih menundukkan kepala
Vian melihat Aldo pergi tidak marah
" hhhhh,,,,, untung saja,,," Vian menghela nafas
Vian menyusul Aldo yang sudah jauh melangkah Vian sudah seperti bebek mengekor dibelakang induknya
Aldo menuju ruang kerja bokapnya setelah sampai Aldo langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu
Edy bokapnya Aldo kaget melihat anaknya sudah berada diruang kerjanya
"anak tidak punya sopan santun, ketok pintu dulu untung papa tidak punya riwayat jantung, kalau punya bagaimana coba" ucap Edy bokapnya Aldo
"hmmm,,,,, Pa,,, kenapa meetingnya nungguin Aldo dulu," ucap Aldo wajahnya seperti anak kecil merengek minta permen
" menunggumu, elu pikir klien kita punya waktu apa, menunggu bos muda yang tidak disiplin, untung ada papa coba kalau tidak pasti klien akan kabur, kalau begini cara kerjamu tidak tepat waktu papa jadi ragu menyerahkan perusahaan ini kepadamu" panjang lebar ucap Edy sekarang meragukan anaknya sendiri
" Paaa,,, Aldo bisa jelasin kenapa Aldo bisa terlambat, lagi pula anak papa cuma Aldo tidak mungkin papa berikan perusahaan ke orang lain" begitu yakin mengatakan
"hhhh,,,, mungkin saja papa bisa saja berikan perusahaan ini untuk Vian sekarang pun bisa" papa Edy hanya menggertak Aldo
Aldo menoleh ke arah Vian
" hhhhhh Vian tidak bisa Pa, Anak papa itu Aldo kenapa jadi Vian" bantahnya,
Aldo tidak terima jika perusahaan mendiang kakeknya jatuh ke tangan orang lain meskipun Vian sahabat Aldo tetap saja bukan keturunan Sasongko kakeknya Aldo dan Bryan
__ADS_1