Dijodohkan Nenek

Dijodohkan Nenek
kantor Aldo


__ADS_3

Aldo bergegas pergi ke kantor meninggalkan Bryan sendiri di hotel, jarak hotel ke kantor cukup jauh memakan satu jam perjalanan itu pun kalau tidak macet


Sialnya ditengah perjalanan mobil terasa oleng


"kenapa oleng begini, sepertinya ban mobilku kempes, hhhhh,,,,,, sial" gerutu Aldo memukul stang mobil


Aldo keluar mobil ternyata benar ban mobilnya kempes sepertinya bocor


Disaat genting ban mobil malah bocor, seolah Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepadanya


Tringggg,,,,,,,,Tringgg,,,,,,Tringgg,,,,,,,,


Ponsel Aldo berbunyi, di ambil ponsel dari saku celana dilihat siapa yang telfon dan benar saja dugaan Aldo siapa lagi kalau bukan bokapnya


Dengan cepat di angkat telfon dari bokapnya, cukup lama berbicara apa lagi yang bokapnya katakan kalau bukan marah-marah karena Aldo belum sampai juga di kantor


Stelah telfon ditutup Aldo meninju di udara menghentakkan kaki


"hhhhhh,,,,,,, Siall,,," gerutu Aldo kakinya menendang ban mobil saking kesalnya


"Biar mobilnya diambil Vian saja, lebih baik naik taksi saja agar cepat sampai kantor" gumamnya dalam hati


Vian asisten Aldo juga sahabat Aldo sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas sampai sekarang bahkan dulu juga kuliah bersama


Aldo menunggu taksi lewat, cukup lama Aldo menunggu 15menit belom terlihat taksi lewat membuat kemarahan Aldo serasa diatas ubun-ubun


"hhhhhhh,,,,,,,, lama amat sihhh taksinya bisa marah itu macan kumbang" gerutu Aldo


Dasar anak durhaka yaa,,,, ngatain ayahnya macan kumbang, kalau ayahnya macan kumbang berarti anaknya juga macan


kwkwkwk,,,, mungkin begitu marahnya sampai tidak terpikirkan sampai situ


Aldo bergumam sendiri cukup lama, orang' yang melihat Aldo ngomong sendiri menggira Aldo agak kurang atau setres


Tapi Aldo tidak menghiraukan tatapan mereka Aldo masih bergumam sendiri


Setelah cukup lama menunggu taksi datang, segera Aldo membuka pintu


"pak jalan xxxxxxxxx nomer sekian" suara Aldo begitu judes siapa saja yang mendengar pasti paham jika ia sedang kesal


Pak sopir hanya menganggukkan kepala


Aldo menatap luar jendela selama perjalanan terlihat pohon rindang, gedung-gedung, butik, swalayan, kantor-kantor tetapi tatapan mata Aldo tatapan mata kosong seperti sedang memikirkan sesuatu


tak terasa taksi yang ditumpangi Aldo sudah sampai di kantor milik ayahnya, Aldo masih saja melamun tidak menyadari bila sudah sampai


Berulang kali supir taksi memanggil memberi tahu sudah sampai tetapi Aldo tidak mendengar


"Pakkk,,,,, sudah sampai," teriak sopir taksi membuyarkan lamunan Aldo

__ADS_1


" hhhhhhh,,,,,,,," Aldo menoleh ke arah suara dengan raut wajah polos binggung


"pak,, kita sudah sampai sejak tadi" suara sopir taksi bibirnya tersenyum padahal dalam hati kesal penumpangny dari tadi dipanggil tidak konek


"hhhhhh,,,,,sudah sampai ya,,,," tanya Aldo


"ini pak ongkosnya" sambungnya sambil tangannya mengulurkan beberapa lembar uang


Pak supir menghitung ternyata uang dari Aldo ternyata lebihhh, belum sempat supir taksi berkata sudah duluan Aldo bicara


"sisanya ambil saja," ucap Aldo


Supir taksi hanya menganggukkan kepala


"untung saja dikasih lebih kalau tidak, hhhh,,,,,,,,," gumamnya dalam hati


Aldo sudah masuk ke kantor karyawan yang melihat kedatangan Aldo menundukkan kepala memberikan hormat


Melihat Aldo datang Vian berlari mendekati Aldo


"do,,,,,, kemana saja,,,, Pak Edy sudah marah- marah nunggui elu,,,,," ucap Vian nafasnya terengah-engah karena berlari mengejar Aldo


Aldo tidak menanggapi pertanyaan Vian,


Aldo justru berjalan ke arah ruang meeting


Vian yang mengerti arah yang dituju bosnya ruang meeting ingin memberi tau jika meeting sudah selesai


"do,,,,,"teriak Vian


Tetap saja tidak digubris menoleh saja tidak Aldo terus fokus berjalan menuju ruang meeting tidak menghiraukan Vian yang tengah terengah-engah menututi jalannya Aldo bakk jett pribadi


Aldo Sampai diruang meeting tanganya membuka pintu terlihat sudah tidak ada siapapun


Aldo menoleh ke arah Vian yang baru saja sampai nafasnya masih terengah-engah


" annn,,,,, meetingnya belom dimuuuu,,,," belom sempat Aldo menyelesaikan ucapannya Vian sudah menyahut


"meeting telah usai tadi pak Edy yang mengantikanmu" ucap Vian


"kenapa tidak bilang dari tadi" gerutu Aldo


Ingin rasanya Vian berteriak bagaimana mau bilang jika Aldo saja tidak memberikan kesempatan bicara, Vian ingin sekali marah melihat sikap Aldo selalu saja seenaknya sendiri tapi mau bagaimana lagi Vian hanya asisten dan Aldo bosnya


"maaff, belum sempat bicara elu udah,,,," ucap Vian suaranya lirih kepalanya menunduk tetapi belom sempat menyelesaikan ucapannya sudah dipotong Aldo


"sudah,,,,lahh,,,, pasti elu hanya akan mencari pembenaran untuk dirimu sendiri lalu menyalahkan ku" ucap Aldo


pembenaran,,,,,,,, menyalahkan,,,,, Vian mendengar kata itu Vian geleng-geleng kepala

__ADS_1


"inget pasal satu ann,, bos tidak pernah salah" ucap Aldo bangga


"iyaaa,,,,,iyaaa,,,, jika bos melakukan kesalahan ingat pasal satu bos tidak pernah salah" sahut Vian menundukkan kepala merasa malas


Vian paham betul bagaimana bosnya ketika melakukan kesalahan akan mengatakan itu-itu saja


"naahhh itu paham,,,," ucap Aldo senyum menyeringai seolah mengejek posisi Vian dibawah Aldo


"hmmmm,,,,," Vian berdehem


"dimana bokap" tanya Aldo bola matanya melirik kesana kemari mencari bokapnya


"bokap elu di ruang kerjanya" ucap Vian


Vian yang telah salah bicara membungkam mulutnya


Mendengar kata bokap elu mata Aldo melotot sempurna seolah siap menerkam apa saja yang ada didepannya


"maaf do, maksudku tuan besar" ucap Vian menundukkan kepala takut emosi Aldo meledak-ledak


Bagi Aldo jika Vian memanggilnya hanya nama saja tidak masalah karena Vian sahabat Aldo meskipun Aldo bosnya, tapi untuk bokapnya Aldo tidak terima bila Vian memanggilnya tanpa embel-embel tuan


Diluar dugaan Aldo tidak marah-marah tapi hanya diam saja kakinya melangkah pergi meninggalkan Vian yang masih menundukkan kepala


Vian melihat Aldo pergi tidak marah


" hhhhh,,,,, untung saja,,," Vian menghela nafas


Vian menyusul Aldo yang sudah jauh melangkah Vian sudah seperti bebek mengekor dibelakang induknya


Aldo menuju ruang kerja bokapnya setelah sampai Aldo langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu


Edy bokapnya Aldo kaget melihat anaknya sudah berada diruang kerjanya


"anak tidak punya sopan santun, ketok pintu dulu untung papa tidak punya riwayat jantung, kalau punya bagaimana coba" ucap Edy bokapnya Aldo


"hmmm,,,,, Pa,,, kenapa meetingnya nungguin Aldo dulu," ucap Aldo wajahnya seperti anak kecil merengek minta permen


" menunggumu, elu pikir klien kita punya waktu apa, menunggu bos muda yang tidak disiplin, untung ada papa coba kalau tidak pasti klien akan kabur, kalau begini cara kerjamu tidak tepat waktu papa jadi ragu menyerahkan perusahaan ini kepadamu" panjang lebar ucap Edy sekarang meragukan anaknya sendiri


" Paaa,,, Aldo bisa jelasin kenapa Aldo bisa terlambat, lagi pula anak papa cuma Aldo tidak mungkin papa berikan perusahaan ke orang lain" begitu yakin mengatakan


"hhhh,,,, mungkin saja papa bisa saja berikan perusahaan ini untuk Vian sekarang pun bisa" papa Edy hanya menggertak Aldo


Aldo menoleh ke arah Vian


" hhhhhh Vian tidak bisa Pa, Anak papa itu Aldo kenapa jadi Vian" bantahnya,


Aldo tidak terima jika perusahaan mendiang kakeknya jatuh ke tangan orang lain meskipun Vian sahabat Aldo tetap saja bukan keturunan Sasongko kakeknya Aldo dan Bryan

__ADS_1


__ADS_2