
Angin berhembus kencang petir pun bergemuruh langit pun terlihat gelap hujan juga mulai turun seolah alam pun mengerti rasa sakit yang Aira rasakan
Aira menyeret kakinya masuk ke dalam rumah baju yang di pakai sudah sedikit basah, wajah Aira tertunduk lesu
Melihat kedatangan Aira Monika sedikit agak berlari menemui Aira, Monika ingin memberikan kue brownies yang baru saja Monika buat, kue kesukaan Aira
Monika menghentikan langkah mematung berdiri didepan pintu Melihat keadaan Aira begitu memprihatinkan niat hati ingin memberikan kue di urungkannya
Nenek Halimah yang sudah tau Aira keluar rumah sejak pagi dan baru pulang sore begitu geram, apalagi Aira pergi tanpa pamit, sebagai orang yang lebih tua dalam keluarga besar merasa dihina tidak dihargai
Kemarahan begitu terlihat di wajah Nenek Halimah
Aira pun sudah masuk ke dalam rumah hendak masuk ke kamar, Aira melewati Monika yang mematung di depan pintu, Aira tidak menyapa Monika bahkan satu kata pun tidak keluar dari mulut Aira
Monika yang melihat sikap Aira raut wajah yang tidak biasanya menebak pasti ada sesuatu yang terjadi begitulah yang ada di fikiran Monika dan benar tebakan Monika
Berbeda dengan Nenek seperti tidak bisa membaca raut wajah dan juga tatapan mata cucunya karena bagi nenek Halimah Aira hanya cucu angkatnya yang dibencinya makanya soal perasaan atau pun kebahagiaan Aira tidak penting baginya
"Airaaa,,,,,,,,,,,,kamu dari mana saja,,,,, kamu sudah keluar rumah terlalu lama, ngapain saja diluar rumah,,,dan siapa tadi yang mengantarmu pulang,,,,,,," teriak nenek Halimah suaranya menggelegar tak kalah keras dengan suara petir diluar
Sebenarnya Nenek Halimah sudah tau siapa yang mengantarkan Aira pulang
Aira mengangkat dagunya menatap wajah nenek tua yang begitu banyak memberinya pertanyaan,,,,,
Tapi Aira tidak menjawab bahkan sepatah katapun tidak keluar dari mulut Aira, Aira tertunduk lagi melanjutkan langkah kakinya menuju kamar yang letaknya dekat dapur
Melihat Aira mengacuhkan dirinya membuat Nenek Halimah semakin geram,,,,,,
"Dasar cucu kurang aj*r,,,,,,,, cucu durh*ka,,,,,,, pasti gara-gara wanita si*lan itu kamu jadi berani sama nenek,,,,,,,," ucapnya suaranya menggelegar serasa pakai toa mushola
yaaa,,,,,setiap Aira membantah ataupun diam seperti saat ini selalu menyalahkan Aldira sahabat Aira, Nenek Halimah berfikir Aldira lahhh pembawa pengaruh buruk
Padahal sikap nenek Halimah yang membuat Aira berubah bukan karena pengaruh buruk siapapun, tapi manusia mana yang mau di injak-injak terus menerus
__ADS_1
Aira tidak menanggapi ucapan nenek Halimah bagi Aira sudah biasa mendengar neneknya selalu menyalahkan orang lain membuat Aira malas meladeni nenek Halimah Karena percuma saja berdebat dengan nenek Halimah karena neneknya tidak akan pernah mau kalah
Melihat Aira yang diam saja justru melangkah semakin jauh meninggalkan nenek Halimah membuat nenek Halimah semakin geram
"Cucu tidak tau di untung,,,,, tidak tau balas Budi,,,,, ingat jika bukan karena nenek kamu tidak akan hidup,,,,," ucap nenek Halimah, mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu balas budi
Biasanya Aira berubah ketika mendengar kata balas budi tapi kali ini Aira tidak menggubris sama sekali, bahkan menoleh saja tidak pandangan mata Aira lurus menyeret kakinya menuju kamar dan Aira pun sudah masuk ke kamarnya
Melihat Aira yang semakin hari semakin berani membuat nenek Halimah semakin geram, nenek Halimah ngomel-ngomel sendiri
Monika yang melihat drama sedari tadi hanya geleng-geleng kepala, apalagi Monika yang sudah mengetahui semuanya membuat Monika tidak akan membela neneknya sama sekali
Aira yang sudah sampai di kamar langsung meraih handuk menuju kamar mandi
Setelah ritual mandinya selesai dan sudah berganti pakaian Aira menyeret kakinya menuju pulau kapuk alias ranjang tempat ter-nyaman baginya
Aira menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya bahkan juga wajahnya,
waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Aira masih menangis sesenggukan sudah ribuan Air mata yang jatuh wajah sudah sembab tapi Aira masih engan menghentikan tangisnya
yaa,,,,,, wajar saja wanita mana yang kuat mendengar kabar laki-laki yang dicintai melakukan hal b*doh karena dirinya,,,,,
Tokkk,,,,,,,,Tokkkk,,,,,,,,Tokkkkk,,,,, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Aira
Aira yang mendengar suara ketukan pintu menoleh ke arah pintu tapi tidak membukanya ataupun menjawab
Merasa tidak ada Jawaban ataupun dibukakan pintu seseorang diluar pintu pun membuka pintu kamar Aira yang ternyata tidak dikunci
Aira yang melihat pintu terbuka segera menghapus air matanya
Terlihat Monika muncul dibalik pintu, yaaa,,,,,, yang mengetuk pintu tadi ialah Monika
Setelah masuk Monika menutup pintu, Monika berjalan menuju ranjang Aira, tangan Monika membawa nampan berisi makanan dan minuman
__ADS_1
Monika tau Aira belum makan malam karena tadi waktu makan malam Aira tidak ada dan di panggil ribuan kali tidak menjawab, Monika fikir Aira tidur ternyata salah Aira menangis, meskipun Aira sudah menghapus air matanya tapi wajah sembabnya tatapan matanya terlihat jelas Aira menangis berjam-jam
Aira yang melihat Monika mendekatinya bahkan sudah duduk disampingnya masih diam saja tidak membuka percakapan sama sekali
Monika menaruh makanan dan minuman ke nakas
Monika melihat keadaan Aira seperti saat ini cukup mengiris-iris hatinya, meskipun Aira bukan saudara tapi Monika sudah menganggap Aira seperti saudara kandung sendiri
Monika mengelus-elus kepala Aira, Aira pun berusaha duduk diatas ranjang Monika yang melihat Aira hendak duduk memegang punggung Aira membantu Aira yang terlihat lemas
"makasihhh,,,,,,, " ucap Aira
" hemmm,,,,,," Monika hanya berdehem sudut bibirnya tersenyum kecil
Setelah percakapan itu Monika dan Aira saling diam, Monika masih menatap Aira sedangkan Aira menundukkan kepala
Begitu banyak pertanyaan yang ingin Monika tanyakann tapi Monika ragu apa Aira akan terbuka mau mengatakan semuanya, mengingat Monika sudah lama tidak bertemu Aira
Setelah cukup lama bergulat pada pemikirannya akhirnya Monika mencoba memberanikan diri bertanya
"Raaa,,,,, maaff sebelumnya,,, mengapa kamu menangis ada apa, ceritalahhh,,,," Monika mencoba meyakinkan Aira agar Aira mau berbagi keluh kesahnya
Aira menatap manik mata Monika ada keraguan dalam hati Aira untuk bercerita tapi Aira butuh bahu untuk bersandar butuh pelukan di saat seperti ini
Monika yang melihat keraguan dari sorot mata Aira mencoba meyakinkan Aira agar mau membagi susahnya
"Raa,,,, ada apa,,, katakan lahh,,, apa kamu ragu membagi keluh kesahmu dengan ku,,," ucapnya
Aira menggeleng kepala lalu memeluk Monika menangis dibahu Monika
Monika membalas pelukan Aira,merasa nyaman dengan pelukan Monika membuat Aira semakin mempererat pelukannya
Sebenarnya Monika merasa sesak nafas karena pelukan Aira begitu erat tapi tidak mungkin Monika melepaskannya
__ADS_1