Dijodohkan Nenek

Dijodohkan Nenek
mulai berubah


__ADS_3

Angin berhembus kencang petir pun bergemuruh langit pun terlihat gelap hujan juga mulai turun seolah alam pun mengerti rasa sakit yang Aira rasakan


Aira menyeret kakinya masuk ke dalam rumah baju yang di pakai sudah sedikit basah, wajah Aira tertunduk lesu


Melihat kedatangan Aira Monika sedikit agak berlari menemui Aira, Monika ingin memberikan kue brownies yang baru saja Monika buat, kue kesukaan Aira


Monika menghentikan langkah mematung berdiri didepan pintu Melihat keadaan Aira begitu memprihatinkan niat hati ingin memberikan kue di urungkannya


Nenek Halimah yang sudah tau Aira keluar rumah sejak pagi dan baru pulang sore begitu geram, apalagi Aira pergi tanpa pamit, sebagai orang yang lebih tua dalam keluarga besar merasa dihina tidak dihargai


Kemarahan begitu terlihat di wajah Nenek Halimah


Aira pun sudah masuk ke dalam rumah hendak masuk ke kamar, Aira melewati Monika yang mematung di depan pintu, Aira tidak menyapa Monika bahkan satu kata pun tidak keluar dari mulut Aira


Monika yang melihat sikap Aira raut wajah yang tidak biasanya menebak pasti ada sesuatu yang terjadi begitulah yang ada di fikiran Monika dan benar tebakan Monika


Berbeda dengan Nenek seperti tidak bisa membaca raut wajah dan juga tatapan mata cucunya karena bagi nenek Halimah Aira hanya cucu angkatnya yang dibencinya makanya soal perasaan atau pun kebahagiaan Aira tidak penting baginya


"Airaaa,,,,,,,,,,,,kamu dari mana saja,,,,, kamu sudah keluar rumah terlalu lama, ngapain saja diluar rumah,,,dan siapa tadi yang mengantarmu pulang,,,,,,," teriak nenek Halimah suaranya menggelegar tak kalah keras dengan suara petir diluar


Sebenarnya Nenek Halimah sudah tau siapa yang mengantarkan Aira pulang


Aira mengangkat dagunya menatap wajah nenek tua yang begitu banyak memberinya pertanyaan,,,,,


Tapi Aira tidak menjawab bahkan sepatah katapun tidak keluar dari mulut Aira, Aira tertunduk lagi melanjutkan langkah kakinya menuju kamar yang letaknya dekat dapur


Melihat Aira mengacuhkan dirinya membuat Nenek Halimah semakin geram,,,,,,


"Dasar cucu kurang aj*r,,,,,,,, cucu durh*ka,,,,,,, pasti gara-gara wanita si*lan itu kamu jadi berani sama nenek,,,,,,,," ucapnya suaranya menggelegar serasa pakai toa mushola


yaaa,,,,,setiap Aira membantah ataupun diam seperti saat ini selalu menyalahkan Aldira sahabat Aira, Nenek Halimah berfikir Aldira lahhh pembawa pengaruh buruk


Padahal sikap nenek Halimah yang membuat Aira berubah bukan karena pengaruh buruk siapapun, tapi manusia mana yang mau di injak-injak terus menerus

__ADS_1


Aira tidak menanggapi ucapan nenek Halimah bagi Aira sudah biasa mendengar neneknya selalu menyalahkan orang lain membuat Aira malas meladeni nenek Halimah Karena percuma saja berdebat dengan nenek Halimah karena neneknya tidak akan pernah mau kalah


Melihat Aira yang diam saja justru melangkah semakin jauh meninggalkan nenek Halimah membuat nenek Halimah semakin geram


"Cucu tidak tau di untung,,,,, tidak tau balas Budi,,,,, ingat jika bukan karena nenek kamu tidak akan hidup,,,,," ucap nenek Halimah, mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu balas budi


Biasanya Aira berubah ketika mendengar kata balas budi tapi kali ini Aira tidak menggubris sama sekali, bahkan menoleh saja tidak pandangan mata Aira lurus menyeret kakinya menuju kamar dan Aira pun sudah masuk ke kamarnya


Melihat Aira yang semakin hari semakin berani membuat nenek Halimah semakin geram, nenek Halimah ngomel-ngomel sendiri


Monika yang melihat drama sedari tadi hanya geleng-geleng kepala, apalagi Monika yang sudah mengetahui semuanya membuat Monika tidak akan membela neneknya sama sekali


Aira yang sudah sampai di kamar langsung meraih handuk menuju kamar mandi


Setelah ritual mandinya selesai dan sudah berganti pakaian Aira menyeret kakinya menuju pulau kapuk alias ranjang tempat ter-nyaman baginya


Aira menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya bahkan juga wajahnya,


waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Aira masih menangis sesenggukan sudah ribuan Air mata yang jatuh wajah sudah sembab tapi Aira masih engan menghentikan tangisnya


yaa,,,,,, wajar saja wanita mana yang kuat mendengar kabar laki-laki yang dicintai melakukan hal b*doh karena dirinya,,,,,


Tokkk,,,,,,,,Tokkkk,,,,,,,,Tokkkkk,,,,, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Aira


Aira yang mendengar suara ketukan pintu menoleh ke arah pintu tapi tidak membukanya ataupun menjawab


Merasa tidak ada Jawaban ataupun dibukakan pintu seseorang diluar pintu pun membuka pintu kamar Aira yang ternyata tidak dikunci


Aira yang melihat pintu terbuka segera menghapus air matanya


Terlihat Monika muncul dibalik pintu, yaaa,,,,,, yang mengetuk pintu tadi ialah Monika


Setelah masuk Monika menutup pintu, Monika berjalan menuju ranjang Aira, tangan Monika membawa nampan berisi makanan dan minuman

__ADS_1


Monika tau Aira belum makan malam karena tadi waktu makan malam Aira tidak ada dan di panggil ribuan kali tidak menjawab, Monika fikir Aira tidur ternyata salah Aira menangis, meskipun Aira sudah menghapus air matanya tapi wajah sembabnya tatapan matanya terlihat jelas Aira menangis berjam-jam


Aira yang melihat Monika mendekatinya bahkan sudah duduk disampingnya masih diam saja tidak membuka percakapan sama sekali


Monika menaruh makanan dan minuman ke nakas


Monika melihat keadaan Aira seperti saat ini cukup mengiris-iris hatinya, meskipun Aira bukan saudara tapi Monika sudah menganggap Aira seperti saudara kandung sendiri


Monika mengelus-elus kepala Aira, Aira pun berusaha duduk diatas ranjang Monika yang melihat Aira hendak duduk memegang punggung Aira membantu Aira yang terlihat lemas


"makasihhh,,,,,,, " ucap Aira


" hemmm,,,,,," Monika hanya berdehem sudut bibirnya tersenyum kecil


Setelah percakapan itu Monika dan Aira saling diam, Monika masih menatap Aira sedangkan Aira menundukkan kepala


Begitu banyak pertanyaan yang ingin Monika tanyakann tapi Monika ragu apa Aira akan terbuka mau mengatakan semuanya, mengingat Monika sudah lama tidak bertemu Aira


Setelah cukup lama bergulat pada pemikirannya akhirnya Monika mencoba memberanikan diri bertanya


"Raaa,,,,, maaff sebelumnya,,, mengapa kamu menangis ada apa, ceritalahhh,,,," Monika mencoba meyakinkan Aira agar Aira mau berbagi keluh kesahnya


Aira menatap manik mata Monika ada keraguan dalam hati Aira untuk bercerita tapi Aira butuh bahu untuk bersandar butuh pelukan di saat seperti ini


Monika yang melihat keraguan dari sorot mata Aira mencoba meyakinkan Aira agar mau membagi susahnya


"Raa,,,, ada apa,,, katakan lahh,,, apa kamu ragu membagi keluh kesahmu dengan ku,,," ucapnya


Aira menggeleng kepala lalu memeluk Monika menangis dibahu Monika


Monika membalas pelukan Aira,merasa nyaman dengan pelukan Monika membuat Aira semakin mempererat pelukannya


Sebenarnya Monika merasa sesak nafas karena pelukan Aira begitu erat tapi tidak mungkin Monika melepaskannya

__ADS_1


__ADS_2