
"Aku mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu karena hidupku semakin lebih baik saat mengenalmu." Tatapan mata Azlan tidak bisa berbohong, sungguh Azlan sangat mencintai Ayesha. Ingin sekali Azlan mengutarakan perasaan yang telah tumbuh dihatinya. Namun hal itu hanya bisa ia pendam di dalam hati, karena tidak ingin Ayesha menjauhi dirinya dan satu hal lagi, Azlan tentu belum siap untuk di tolak kembali.
Azlan berusaha meredam emosinya, ia tidak Ingin semakin gegabah bisa saja Ayesha bakal menjauhinya karena sikapnya.
"Baiklah ...! Aku akan melepaskanmu, tapi dengan satu syarat. Kau harus jujur kepadaku!"
Ayesha seolah terhipnotis oleh ucapan Azlan. Kejujuran? Apakah ia bisa jujur atas apa yang ia alami. Sungguh Ayesha malu mengutarakan masalah yang ia hadapi.
"Ayesha ...!" Azlan memanggil Ayesha, karena sedari tadi Ayesha hanya diam saat ditanya.
Azlan mengusap pelipisnya, ia tahu Ayesha sedang dirundung masalah serius. Namun melihat Ayesha terdiam, ia pun menjadi bingung. Apa yang mesti ia lakukan sedangkan Ayesha saja tidak mau berbagi masalah yang sedang dihadapinya.
"Bisa minggir gak?" Ayesha merasa malu di tatap Azlan seperti itu. Gemuruh di hatinya pun seakan mengatakan kalau ia memiliki perasaan yang sama. Namun malu yang ada dalam diri Ayesha sudah menggunung. Sudah menolak lelaki setampan Azlan sekarang malah menginginkan lelaki itu.
__ADS_1
"Jawab dulu pertanyaanku Ayesha ...!" Suara Azlan kembali melunak, ia berusaha untuk mengontrol emosinya agar Ayesha mau terbuka dengannya.
"Memang kau pikir, aku mau kemana?"
Azlan melepaskan cengkraman tangannya dan berjalan sedikit menjauhi Ayesha.
"Kau mau kemana Ayesha? Biar aku saja yang mengantarkanmu ...!" Ayesha terdiam, tidak mungkin ia mengatakan akan mencari kontrakan. Akan tetapi, kalau Ayesha tidak mengatakannya tentu Azlan tidak akan membiarkannya pergi dari sini.
"Apa?"
"Seperti yang kau dengar kali Pak, tidak perlu diulangi."
"Maksudku ... bukannya aku ikut campur, tapi buat apa kau mencari kontrakan sedangkan rumahmu juga tidak terlalu jauh dari kantorku?"
__ADS_1
Ayesha terdiam, tidak mungkin ia mengatakan telah diusir Bahri kemarin. Ditambah, permasalahannya dengan Bahri cukup rumit. Ayesha juga tidak tahu, apa penyebab Bahri bersikap sedemikian padahal sebelumnya Bahri merupakan Ayah yang baik buat Ayesha.
"Aku hanya ingin mandiri." Ya, hanya itu alasan yang Ayesha ungkapkan untuk menutupi permasalahan yang ia hadapi.
"Hanya itu?" Azlan masih belum mempercayai alasan yang diungkapkan Ayesha. Tidak mungkin dengan alasan ingin mandiri, Ayesha tega meninggalkan orang tuanya.
"Lebih kurangnya seperti itu, Pak. Tapi satu hal lagi, aku juga tidak mungkin tinggal berdua dengan Ayah dirumah sedangkan Ayah juga tidak memiliki pasangan. Apalagi bapak tahu sendiri, diumurku sekarang belum juga menikah." Ayesha nyengir untuk menutupi perasaannya. Tentu ia ingin menikah seperti gadis lain, tapi untuk memulai semuanya ia takut gagal.
Kalau gagal dalam menjalani pernikahan tidak masalah, ia akan mendapatkan status janda. Tapi ini masalahnya gagal sebelum berperang, yang mana ia selalu di tinggal sebelum akad di ucapkan. Bahkan sekarang predikatnya bertambah menjadi perawan tua yang tidak laku.
"Jadi ... kau maunya apa? menikah?" Azlan menatap Ayesha dengan tulus. Ingin sekali lagi, Azlan melamar Ayesha tapi itu semua terasa berat Azlan ucapkan.
"Ayesha berjalan beberapa langkah sambil berpikir. Azlan yang melihat Ayesha seperti itu, merasa harap-harap cemas. Azlan ingin Ayesha mengatakan iya, maka ia akan berusaha untuk mendekati Ayesha dan membuat gadis itu mencintainya.
__ADS_1