
Perlahan pintu ruangan inap itu Azlan buka, ia lalu melangkah masuk untuk memastikan bahwa sang Papa masih berada di ruangan yang sama dengan yang Azlan cari. Meski mendapatkan tatapan yang tidak bersahabat oleh seseorang yang berada di dalamnya, seakan itu tidak menjadi masalah bagi Azlan karena yang terpenting ia bisa menemui sang Papa disana.
"Hei... kau mau mencari siapa?"
"Papa. Ya, aku mencari Papaku." Seperti seorang anak kecil Azlan menjawabnya, bahkan jangan lupakan matanya yang sudah memerah menahan tangis.
"Jangan asal masuk begitu dong. Sana pergi! anakku mau beristirahat kau datang-datang malah mengganggu!" Ujarnya dengan kesal.
Azlan seakan tidak mempedulikan hal itu. Dengan bodohnya kakinya melangkah menuju kamar mandi, karena ia yakin sang Papa masih hidup dan masih berada disana padahal ruangan yang ia masuki khusus untuk satu pasien di dalamnya jadi mana mungkin Papanya yang sudah meninggal berada di ruangan itu.
"Pa... Papa dimana, Pa?" Setelah pintu terbuka, tetap saja sang Papa tidak Azlan temui sehingga membuat Azlan terduduk dan menangis histeris.
Oma Freya menajamkan pendengarannya saat seorang lelaki paruh baya tengah melapor tentang ada seorang lelaki yang masuk ke dalam ruangan inap anaknya bahkan lelaki itu tengah membuat kekacauan di dalam sana dan sangat mengganggu ketenangan putrinya yang lagi sakit.
"Ya Allah, Azlan." Oma Freya yakin bahwa Azlan lah yang orang itu sebut.
Dengan langkah cepat, Freya berjalan. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan sikap Azlan yang seperti itu.
Tok
Tok
Tok
Freya mengetuk pintu tersebut terlebih dahulu sebelum ia masuk ke dalam. "Maaf mengganggu, saya mau mencari cucu saya." Ujar Freya meminta izin.
"Siapa cucunya, Bu? Karena kalau yang Abang tadi baru saja pergi!" Ujar gadis itu dengan nada sopan, tidak seperti orang tuanya ketika melapor.
Freya tertunduk lesu, saat tidak menemukan cucunya disana. Namun sebelum ia melangkah pergi, ia perlu memastikan terlebih dahulu tentang laporan orang tadi mengenai kekacauan yang sedang di buat oleh Azlan. Kalau benar Azlan melakukan kesalahan, maka Freya siap untuk mengganti ruginya.
__ADS_1
Mata Freya melirik ke sekeliling ruangan yang di tempati gadis itu, untuk memastikan kekacauan yang di buat oleh Azlan cucunya. Namun setelah di perhatikan, Freya sama sekali tidak menemukan sedikitpun kejanggalan bahkan kekacauan yang lelaki tua itu katakan. Kalaupun ia cucunya berbuat salah, tentunya Freya akan mengganti ruginya.
"Ibu, kenapa?"
"Tidak! Saya hanya mau memastikan sesuatu."
Gadis itu lantas tersenyum ramah. "Saya paham akan maksud Ibu. Tolong maafkan orang tua saya, atas ucapannya yang terlalu di lebih-lebihkan." Ujar gadis itu karena ia tahu bagaimana sikap orang tuanya sendiri.
"Baiklah. Saya permisi dulu untuk mencari cucu saya. Semoga lekas sembuh ya, Nak."
"Terimakasih atas doanya. Panggil saja saya Dinda, Buk."
"Oh ya, Nak. Semoga Nak Dinda lekas sembuh. " Ujar Freya sebelum melangkah pergi dari sana.
~
Azlan sudah sampai di kediaman orang tuanya. Meskipun sakit di kakinya masih terasa amat sakit, hal itu tidaklah menjadi penghalang baginya karena yang terpenting ia perlu mencari tahu kemana perginya Papa dan Mamanya saat ini.
"Pa, Ma." Panggil Azlan berulang kali namun tidak ada sahutan dari keduanya.
"Kemana perginya kalian." Ujar Azlan yang tengah meratapi kebodohannya karena tidak mengetahui tentang apa yang sudah terjadi dengan kedua orang tuanya.
Azlan kembali turun kebawah dan menemui Bibi yang tadi membukakan pintu rumahnya.
"Bi, dimana Mama dan Papa saya ya, Bi?" Tentu pertanyaan Azlan membuat sang Bibi mengernyit heran. Bagaimana mungkin Azlan tidak mengetahui tentang meninggalnya Papa Rezel dan Mama Vira yang saat ini sedang di rawat di rumah sakit.
"Bi, kenapa tidak di jawab?"
"Tolong beritahu dimana Papa, saya?" Dengan suara lantang Azlan berucap karena rumah yang di tempati orang tuanya tampak sepi tidak ada kedua orang tuanya disana.
__ADS_1
Bibi itu menggeleng. Ia bingung untuk menceritakanya karena sudah di larang Nyonya Freya untuk menceritakannya kepada Azlan. Freya beralasan, ia akan menceritakannya langsung. Namun nyatanya sekarang, Freya malah belum menceritakan kebenarannya kepada cucunya sendiri.
"Kenapa Bi? Bibi pasti mengetahuinya kan?" ujar Azlan mendesak sang Bibi untuk jujur. Namun tetap saja Bibi itu tidak mau mengeluarkan suara dan menjawabnya.
Azlan yang sangat kesal lantas berlalu pergi dari sana. Namun sebelum Azlan pergi, ia mesti kembali ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil dompet dan kunci mobil miliknya. Setelah semua ia dapat, dengan langkah cepat ia berjalan keluar rumah.
"Kau mau kemana lagi, Nak?" Freya yang baru saja datang menghalangi kepergian Azlan. Tentu Freya tidak akan membiarkan cucunya pergi begitu saja dengan mobil miliknya karena melihat kondisi Azlan yang baru saja sembuh.
"Oma tidak perlu tahu! Biar aku sendiri yang akan mencari tahu dimana Papa dan Mamaku berada! Ujar Azlan dengan ketus, ia benar-benar jengkel dengan sikap Oma Freya yang telah menyembunyikan kebenarannya.
"Azlan, tolong dengarkan Oma!"
"Apalagi yang mesti Azlan dengar, Oma? apa pantas, aku seorang anaknya tidak mengetahui keberadaan kedua orang tuaku sendiri. Dimana letak hati Oma, sehingga menyembunyikan semuanya."
Mata Oma Freya berkaca-kaca dan terus memohon agar sang cucu tidak akan pergi kemana-mana. "Oma akan menceritakan semuanya, Nak."
"Benarkah? Apa benar Oma mau menceritakannya?"
Freya lantas mengangguk dan beranjak masuk ke dalam di ikuti oleh Azlan di belakangnya.
"Ceritakan, Oma!"
Freya mengangguk lalu mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupinnya
"Tidak Oma! ini pasti tidaklah, benar!"
"Itulah kenyataannya Azlan."
Azlan lalu beranjak pergi, ia masih belum mempercayai tentang ucapan Oma Freya barusan. Ia masih menganggap Papanya masih hidup dan tidak akan meninggalkan Mamanya begitu saja.
__ADS_1
"Tuhan! kenapa saat aku ingin merasakan kebahagian malah orang tuaku yang kau bawa pergi." Ujar Azlan dengan sangat histeris, ia meratapi kecelakaan yang menimpanya beberapa hari yang lalu dan juga kepergian Azlan untuk menikahi Ayesha malah membawa petaka untuknya dan keluarga besarnya sendiri.