
"Apa?"
"Ya, perempuan itu akan menemui Bapak." Atika mengulangi ucapannya, terlihat sekali perubahan dari raut wajah Azlan.
Azlan berkeringat dingin, ia seakan tidak bisa mengontrol emosinya. Perempuan yang selalu ia hindari sudah mengetahui keberadaannya sekarang.
Sikap percaya diri yang ia perlihatkan tadi seakan sirna. Azlan belum siap untuk bertemu wanita itu kembali. Sakit yang ia alami masih berbekas di ingatan Azlan.
"Bapak kenapa?" Atika terlihat cemas melihat keadaan Azlan. Namun ia sadar tidak bisa membantu bosnya. Atika hanya bisa menatap Azlan yang meremas jari-jari tangannya sehingga nampak memutih. Bahkan keringat Azlan telah bercucuran.
Atika dengan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter yang biasa menangani penyakit Azlan. Ia tentu tidak ingin disalahkan kalau sampai terjadi apa-apa dengan sang bos.
Setelah panggilannya tersambung, Atika langsung menceritakan apa yang dialami Azlan di kantor. Marco tentu terkejut, pasalnya sudah lama Azlan tidak lagi berkonsultasi dengannya perihal penyakit yang ia alami.
Padahal sebelumnya Marco yakin Azlan telah sembuh dari traumanya. Hal itu terbukti saat Azlan mengangkat sekretaris perempuan untuk menjadi sekretarisnya.
__ADS_1
"Baiklah ... saya akan segera kesana. Tolong jangan kau sentuh dia, cukup kau lihat saja dan nanti kabari kalau terjadi sesuatu dengan Azlan. Saya akan kesana sekarang!" Marco dengan segera berjalan keluar dari ruangannya.
Marco berjalan dengan tergesa-gesa sehingga membuatnya menabrak seorang wanita cantik dengan mata sipit.
"Maaf ... saya sedang tergesa-gesa. Kalau ada apa-apa dengan kamu, nanti saya akan tanggung jawab." Marco meninggalkan wanita yang ia tabrak tadi, yang menjadi fokusnya saat ini hanyalah Azlan. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada sahabatnya.
Butuh waktu 30 menit, Marco telah sampai di perusahaan yang dikelola oleh Azlan. Ia langsung menaiki lantai atas.
Marco membuka pintu ruangan Azlan, disana ia melihat sahabatnya seperti orang kesakitan.
Azlan tidak jua kunjung sadar, ia semakin meremas jari-jari tangannya sehingga menimbulkan luka. Bahkan tubuhnya semakin gemetaran. Marco tidak punya cara lain selain menghentikannya, ia terpaksa menyuntikan obat penenang. selang beberapa menit, Azlan terkulai lemas di kursi yang didudukinya.
Marco sibuk dengan pemikirannya sendiri, ia tengah memikirkan penyebab Azlan mengalami hal seperti itu.
"Bagaimana keadaannya, Om?" Atika masuk ke dalam kamar yang di tempati Azlan untuk memastikan keadaan bosnya bahkan Atika juga sudah menghubungi Papa Azlan karena saking cemasnya dengan keadaan bosnya.
__ADS_1
Marco menatap sekretaris Azlan yang memanggilnya dengan sebutan Om. Apa iya dia setua itu sehingga mesti di panggil Om oleh perempuan itu?
Atika yang melihat tatapan dari Marco menjadi mundur beberapa langkah, tatapan Marco seperti akan menikamnya hidup-hidup.
Marco semakin mendekati Atika sehingga membuat Atika tidak bisa kabur. "Eh ... Om mau ngapain?" Atika menjadi gelagapan sendiri.
Marco menarik pinggang Atika, ditatapnya wajah sekretaris Azlan yang tampak masih muda bahkan Atika sangat cantik dimatanya.
Atika pun memberontak, ia tidak ingin di peluk seperti itu dengan lelaki yang bukan muhrimnya.
"Lepas Om, saya akan aduin ke Pak Azlan perlakuan anda kepada saya!" Atika tidak punya cara lain selain mengancam Marco, ia tidak ingin menggunakan tangannya untuk menampar dokter mesum yang saat ini mendekapnya. Takut akan ada masalah lain nantinya.
Pintu ruangan Azlan terbuka, untunglah Rezel segera datang sehingga Marco mau melepaskannya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Rezel menatapnya penuh selidik sehingga membuat Atika gelagapan sedangkan Marco bersikap seperti biasa, tampak sekali ia seperti tidak mempunyai salah sedikitpun.
__ADS_1