
"Jangan mendekat!" Ayesha tidak punya pilihan lain selain melompat dari balkon itu. Namun saat matanya melihat kebawah, ia begitu takut membayangkan tubuhnya yang akan remuk nantinya.
"Kau tidak punya pilihan lain selain melayaniku!"
Ayesha begitu merinding mendengarnya. Jangankan untuk melayani lelaki itu, melihat tubuhnya yang di penuhi dengan tato serta perutnya yang buncit saja sudah membuat Ayesha tidak berselera. Namun, untuk kabur dari tempat itupun begitu sangat sulit. Tidak ada yang akan menolongnya saat ini. Ayesha hanya mempunyai dua pilihan, melayani lelaki itu atau terjun bebas dari balkon.
"Kau jangan mendekat Pak tua!" Ayesha masih mengharapkan pertolongan dari seseorang, makanya ia mencoba mengulur waktu agar tidak dinodai lelaki bejat yang ada dihadapannya itu.
Lelaki itu malah menyeringai. "Kau tidak akan bisa pergi dari tempat ini! percuma saja kau mencoba mengulur waktuku!"
Ayesha merasakan sesak mendengarnya, ia pun tidak bisa berkata apapun lagi. Karena memang betul, ia tidak mempunyai pilihan lain lagi selain menyerahkan diri kepada lelaki itu.
Ayesha meludahi wajah lelaki itu. "Jangan harap kau bisa menyentuhku lelaki brengsek!" Ayesha sudah mengambil ancang-ancang dengan memanjat pagar balkon. Ia tidak rela disentuh lelaki itu, biarlah ia mati terhormat daripada kehormatannya ternodai.
__ADS_1
Sedangkan dari arah luar. Azlan telah berhasil masuk dengan bantuan istri lelaki itu. Azlan bergerak cepat, ia berjalan menelusuri satu persatu kamar yang ada.
"Ayesha...!" Azlan memanggil mantan istrinya itu. Untung saja Azlan datang tepat waktu sehingga Ayesha mengurungkan niatnya untuk melompat dari pagar balkon.
"Kau!" Lelaki itu menunjuk Azlan dengan wajah garangnya. "Kenapa kau bisa masuk ke unitku?" Lelaki itu tampaknya tidak terima, karena Azlan malah menghalangi rencananya. Ia maju selangkah dan hendak mencoba memukul Azlan. Namun saat pukulan itu akan dilayangkan ke wajah Azlan, wanita yang berstatus istrinya malah datang dengan berkacak pinggang.
"Oh... jadi begini kelakuanmu Pa, saat aku tidak ada dirumah?" Dengan wajah kesalnya, istri pria tua itu menendang ************ suaminya.
Ayesha menghela nafas berat. Namun tatapan istri lelaki itu malah mengarah kepadanya. Ia lalu berjalan mendekati Ayesha dan akan mengayunkan tangannya kearah Ayesha.
"Jangan Buk! dia tidak bersalah!" Azlan dengan sigap menahan tangan wanita yang tadi datang bersamanya.
"Apa kau bilang? dia tidak bersalah?" Wanita itu menyeringai tanpa mengalihkan pandangannya dari Ayesha. "Sudah jelas wanita itu datang sendiri untuk menemui suamiku! tapi... sekarang kau malah membela wanita ini?" Wanita itu sepertinya tidak terima, ia tetap maju selangkah dan hendak menerkam Ayesha.
__ADS_1
Ayesha menggeleng lemah. "Buk... saya dijebak. Ini murni bukan kemauan saya!" Ayesha berjalan beberapa langkah untuk mendekati Azlan. Ia ingin berlindung dibelakang punggung mantan suaminya itu.
"Saya tetap tidak percaya! kau pela*cur murahan. Mana mungkin kau mau saja diajak kesini, kalau bukan kemauan kau sendiri!"
Ayesha kelimpungan untuk mencari alasan. Harusnya ia tidak perlu mengikuti keinginan adiknya.
"Kau juga, sudah tahu aku sedang bekerja. Kau malah berani-beraninya menyewa pelacur ketempatku!"
Ayesha meremas baju yang ia pakai. Ia begitu sangat ketakutan menghadapi wanita itu. Untuk bernafas sebentar saja begitu sulit ia lakukan.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Buk." Azlan berucap lirih sambil menarik tangan Ayesha pergi. Namun langkah Azlan tertahan saat mendengar ucapan wanita itu.
"Urusanku dengan jala*ng itu belum selesai. Jadi, kau tidak bisa membawanya pergi begitu saja! kecuali kau mau berkencan denganku barulah kau bisa membawanya pergi!"
__ADS_1