
Setiap orang punya ketakutannya masing-masing. Namun, hanya beberapa saja yang memiliki ketakutan yang cukup aneh dan sedikit unik apabila di pikirkan. Salah satunya seperti yang di derita Azlan, badannya menggigil, gerak tubuhnya menjadi tidak nyaman bahkan seluruh wajahnya sudah mengeluarkan keringat.
Marco terheran dengan perubahan sahabatnya. Lalu tanpa di duga, Azlan langsung ambruk tidak sadarkan diri.
Marco dengan segera mengangkat tubuh jangkung Azlan dan memasukkan Azlan ke dalam mobilnya yang di deretan bangku belakang.
""Shitt ... ada apa dengan dia? Kenapa Azlan berubah setelah melihat dua wanita itu," gumam Marco, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Karena Marco yakin, pasti ada hubungan Azlan dengan dua wanita itu sehingga membuat Azlan drop dan merasa ketakutan luar biasa.
Sesampainya di pelantaran rumah sakit, Marco membuka pintu mobilnya dan tidak lama setelah itu terlihat dua orang perawat datang medorong sebuah brankar. Mereka terlihat siap siaga mengangkat tubuh Azlan untuk di letakkan di brankar dorong.
Mereka membaringkan tubuh Azlan setelah sampai di ruang VIP rumah sakit.
Marco menghela napas dengan kasar, ia sepertinya harus mencari tahu dua perempuan yang di duga menjadi penyebab utama Azlan mengalami penyakit seperti itu.
~
__ADS_1
Rezel dan Vira dengan segera turun dari mobil setelah sampai di rumah sakit tempat dimana putranya di rawat.
Setelah menemukan ruang rawatnya, Rezel dengan segera memutar knop pintu. Terlihat Marco masih berada disana. Rezel dan Vira sedikit berlari menghampiri putra semata wayangnya yang terlihat lemah dan masih tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.
Marco yang saat itu masih memeriksa keadaan Azlan menatap kedua orang tua Azlan yang terlihat begitu cemas.
"Marco, bagaimana keadaannya?"
Marco hanya bisa tertunduk, sepertinya trauma yang di derita Azlan akan bertambah parah. Itu terbukti, saat Azlan yang saat itu sempat sadar malah langsung histeris saat ia melihat seorang suster yang baru saja datang untuk menemani Marco memeriksa keadaan Azlan.
Rezel tersenyum. "Kamu sudah melakukan hal yang terbaik, Marco! Mungkin memang belum waktunya Azlan untuk sembuh. Kita hanya bisa berdoa, semoga Azlan di berikan kesembuhan dengan segera," ujar Rezel menyemangati sahabat putranya. Rezel mengetahui bagaimana perjuangan Marco dalam penyembuhan sang putra, jadi kalau pun sampai putranya bisa kambuh lagi. Mungkin inilah takdir yang perlu ia sesalkan. Seandainya dulu ia bisa membagi waktunya untuk sang putra mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.
~
Di tempat lain
__ADS_1
Ayesha baru saja menyelesaikan tugasnya, ia yang saat itu sedang berada di bilik toilet kantor. Diam-diam, Ayesha mendengar ucapan seseorang yang berada di luar.
Perempuan yang berada di luar, sedang membicarakan Azlan yaitu bosnya.
Ayesha tersentak saat mengetahui hal itu, pasalnya Azlan terlihat baik-baik saja saat Azlan berjalan keluar dari kantor sejam yang lalu.
Ada apa dengan lelaki itu? Ayesha sempat-sempatnya memikirkan Azlan. Padahal lelaki itu adalah seseorang yang sudah Ayesha tolak lamarannya beberapa hari yang lalu.
"Darimana kamu mengetahuinya?" jawab salah seorang teman perempuan itu yaitu yang bernama Zea.
"Saya melihatnya sendiri, saat pak bos seperti orang ketakutan lalu pak bos langsung tidak sadarkan diri setelahnya,"
"What ... sampai separah itu? Padahal pak bos terlihat sehat-sehat saja. Apa kamu tidak salah lihat, mungkin saja itu orang lain."
Zea mencuci tangan dan wajahnya sebelum keluar dari toilet karyawan sedangkan Ayesha diam-diam masih mencuri dengar ucapan Zea dengan temannya.
__ADS_1
Ayesha memegang dadanya yang terasa nyeri, entah kenapa ia merasa sedih mendengar Azlan sakit seperti itu. Akan tetapi ia harus bagaimana?