DIKEJAR KAWIN

DIKEJAR KAWIN
Berdua


__ADS_3

Di tinggal berdua dengan Ayesha membuat Azlan terlihat kaku. Ia bingung harus memulai percakapan terlebih dahulu. Terlebih perhatian Ayesha sama sekali tidak tertuju kepadanya. Ayesha terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, sehingga membuat Azlan merasa terabaikan. Raga Ayesha memang berada di dekat Azlan namun pikirannya entah berada dimana.


Sesekali Azlan melirik kearah Ayesha yang duduk tidak jauh dengannya. Namun Ayesha hanya tertunduk lesu dan seperti tidak bersemangat bahkan menatap suaminya sepertinya begitu enggan.


Azlan sedikit tersulut emosi melihat Ayesha yang tengah mengabaikan keberadaannya. Ia mengepalkan tangannya untuk menahan emosi agar tidak meledak.


"Pulanglah! Kau tidak perlu menemaniku disini!" Azlan mengubah posisi tidurnya dengan sengaja membelakangi Ayesha. Keputusan sepihak yang Azlan ambil ternyata membuat perasaan Azlan tertekan. Harusnya ia tidak perlu memaksa Ayesha untuk menikah dengannya jikalau perempuan itu masih saja tidak menganggapnya ada.


Ayesha mengangkat kepalanya. "Tidak, aku mau disini saja menemanimu!" Ayesha membantah perkataan Azlan.


"Menemaniku?" Azlan tertawa sinis, ia tidak mengerti kenapa sikap Ayesha begitu memuakkan. Ia mempunyai istri tapi seperti tidak mempunyai istri. Perhatian Ayesha bukan tertuju untuknya.


"Memangnya kenapa? Bukannya aku disini menemanimu?" Ayesha begitu egois, ia sama sekali tidak merasa bersalah.


Apa begini cara kau menemaniku?" Akhirnya kata itu terucap juga dari mulut Azlan sedari tadi ia menahannya namun Ayesha seakan tidak peduli dengannya.

__ADS_1


Ayesha terperangah, ia menatap Azlan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak menyangka Azlan akan berucap seperti itu.


"Kenapa? Bukannya kau terlihat enggan merawatku?" Azlan terlihat mengubah posisi tidurnya dengan menghadap kearah Ayesha. Mata sipitnya menatap Ayesha dengan perasaan campur aduk. Kebenciannya terhadap Ayesha seolah melebur saat menatap Ayesha penuh cinta.


"Memang kau pikir aku sekejam itu dengan menelantarkan suamiku sendiri di rumah sakit ini?" Ujar Ayesha yang tentu tidak terima dengan perkataan Azlan yang seakan menyudutkannya.


"Menelantarkan?" Azlan menanyakan ulang ucapan Ayesha barusan. Tentu tanpa ada Ayesha pun di rumah sakit ini, ia bisa di rawat oleh keluarganya sendiri.


Ayesha menjadi kikuk sendiri, ia sepertinya salah berbicara.


Lama mereka terdiam, hingga membuat Azlan sedikit jenuh. Ia menatap Ayesha yang masih di posisi tadi. "Yesha...!" panggil Azlan, ia ingin mendengar suara istrinya itu, suara yang selalu ia rindukan. Berada dekat dengan Ayesha merupakan kebahagian tersendiri baginya meskipun Ayesha tidak menganggap Azlan sebagai suami.


Suara itu sangat lembut terdengar di telinga Ayesha. Sepertinya Azlan telah melupakan pertengkaran mereka barusan. Ayesha tersenyum penuh kemenangan, ia menoleh dan menatap kearah Azlan. "Kenapa?"


Hem

__ADS_1


Azlan berdehem sejenak, ia ingin bertanya mengenai maksud ucapan Ayesha saat awal datang tadi. Apakah bener perempuan yang berstatus istrinya itu menginginkan pernikahan mereka berakhir? Namun untuk bertanya pun, tenggorokannya seakan tercekat. Azlan takut Ayesha malah mengiyakan dan menginginkan pernikahan mereka berakhir.


Ayesha menatap Azlan dengan tatapan penuh tanya. Ada apa dengan suaminya? Itulah yang ada di pikiran Ayesha saat ini.


"Kenapa? Katanya kau mau menanyakan sesuatu?"


Azlan mengangguk mengiyakan. Ia memang sedang menyusun kata-kata untuk ia sampaikan kepada Ayesha. Namun malah Azlan bingung sendiri untuk memulainya.


Ayesha tertawa kecil melihatnya. "Memangnya kau grogi dengan istrimu sendiri?" Ayesha memberanikan diri mendekati Azlan. Wajahnya ia dekatkan ke wajah Azlan. Terlihat sekali wajah Azlan bersemu merah, Azlan sebelumnya tidak pernah seintim itu dengan perempuan barulah Ayesha pertama kali melakukan hal itu.


Azlan membuang muka ia tidak ingin Ayesha mengetahui perasaannya saat ini. Namun tanpa di duga Ayesha malah menarik wajah Azlan agar bisa bertatapan dengannya. Mata mereka saling bertatapan, ada desiran tak terduga yang timbul dari keduanya. Bibir keduanya semakin dekat dan menempel. Ya, hanya sekedar menempel karena Azlan sendiri tidak tahu cara memulainya.


Azlan menarik kembali wajahnya. Perasaannya campur aduk, ingin rasanya ia mengecup bibir istrinya namun seketika rasa takut menghantuinya, ia takut penyakitnya akan timbul dan membuat Ayesha kecewa. Di satu sisi lain Azlan juga takut Ayesha menolaknya, meskipun statusnya sendiri sudah sah menjadi suami istri


Ayesha kecewa atas penolakan Azlan. Awalnya ia memang berniat untuk sedikit mempermainkan Azlan namun ketika melihat penolakan Azlan tadi, Ayesha merasa sedih dan kecewa.

__ADS_1


__ADS_2