DIKEJAR KAWIN

DIKEJAR KAWIN
Kepergianmu


__ADS_3

Ayesha baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Dengan balutan handuk yang melilit tubuh, ia berniat untuk menggoda Azlan agar mau menyentuhnya.


Ya, sebelumnya Ayesha sudah mempertimbangkannya. Ayesha ingin pernikahannya dengan Azlan untuk selamanya, tidak ada kontrak pernikahan yang melandasinya.


Dengan semangat empat lima, Ayesha mencoba keluar. Ayesha berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk itu, tidak masalah Azlan mengatakan ia perempuan hina nantinya. Azlan sudah menjadi miliknya, apapun yang di pikirkan Azlan akan Ayesha terima.


Ayesha keluar dari kamar mandi, namun seseorang yang Ayesha harapkan sudah tidak berada disana. Antara kesal dan kecewa menjadi satu.


"Kemana dia?" Ayesha celingukan mencari keberadaan Azlan.


"Apa karena aku yang terlalu lama di kamar mandi? Ya, dia pasti berada di ruang tamu." Ayesha mengurungkan niatnya untuk memakai baju. Ia mesti menunggu Azlan untuk kembali ke kamar terlebih dahulu.


Satu jam berlalu, namun Azlan tidak jua kunjung kembali. Tubuh Ayesha menjadi kedinginan karena daerah pedesaan yang mereka tempati lumayan dingin, ditambah diluar masih saja hujan mengguyur.


"Sial ...! kemana sih dia?" Ayesha dengan segera mengambil pakaian yang ada di lemari pakaian. Pakaian itu sudah disediakan Azlan sebelumnya untuk Ayesha sebelum pernikahan mereka.


Ayesha berjalan keluar kamar, ia mengamati setiap sudut rumah namun keberadaan Azlan tidak ia temukan.


Ayesha berjalan menuju pintu keluar rumah untuk mencari keberadaan Azlan. "Sial, pintunya malah di kunci." Ayesha terlihat marah, ternyata Azlan benar-benar sudah meninggalkannya disini sendirian.


Dan benar saja, Azlan kembali lagi ke kota. Ia mendapat telfon dari sang Mama bahwa Papa Rezel sudah tidak sadarkan diri lagi.


"Papa, bertahanlah Pa." Azlan menangis di sepanjang perjalanan menuju kota. Terlihat sekali penyesalan yang ada di diri Azlan, ia menjadi menyesal telah meninggalkan Papa Rezel demi menikahi Ayesha.


Hanya menempuh perjalanan satu jam, mobil Azlan sudah memasuki area perkotaan.


Ponsel Azlan kembali berbunyi. Dengan raut wajah cemas, Azlan kembali mengangkatnya. "Hallo Assalamualaikum, Ma."

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari sana yang Azlan dengar. Ia hanya mendengar suara isak tangis sang Mama. Azlan menjadi berfikir hal buruk tentang kondisi Papa Rezel dan itu membuat Azlan tidak terlalu fokus mengendarai mobilnya.


"Ma, jawab aku Ma! Gimana keadaan Papa?" Azlan menjadi tidak sabaran, pikirannya menjadi tidak tenang sedangkan rumah sakit tempat sang Papa di rawat menempuh waktu lima belas menit lagi untuk Azlan sampai kesana.


"Azlan ... Papa sudah pergi meninggalkan kita, Nak."


Brak


Azlan menabrak trotoar jalan saat mendengarkan kabar tersebut. Darah seketika mengalir di kepala dan membuatnya tidak sadarkan diri.


"Azlan ...!" Panggil Mama Vira karena tidak ada sahutan dari sang putera.


Lama Vira memanggil nama sang putera namun tetap saja Azlan tidak menyahutinya.


Mama Vira kembali menghubungi ponsel Azlan, namun Azlan tidak kunjung jua mengangkatnya. Perasaan Vira menjadi tidak enak, takut hal buruk menimpa sang putera.


"Vira ..." Mama Freya mendekat dan memeluk menantu sekaligus merupakan puteri angkatnya.


"Ma ..." Vira menangis histeris di pelukan sang mertua. Ia masih belum bisa menerima kepergian suaminya begitu saja, ditambah keadaan sang putera yang mengacaukan pikiran Vira.


Kepergian sang suami untuk selamanya membawa luka mendalam di hati Vira. Kesalahpahaman yang terjadi pun tidak sempat suaminya luruskan.


Vira masih sempat berdamai dengan hatinya dikala sang suami sakit. Sedetikpun, Vira tidak meninggalkan suaminya seorang diri. Vira masih merawat Rezel dengan baik, ia mencoba untuk melupakan tentang perselingkuhan itu meskipun hatinya tetap tidak terima di selingkuhi oleh suami yang sangat ia cintai.


Vira mencoba untuk tabah menerima kenyataan yang ada karena baik buruknya Rezel, ia tetap jadi suami yang pernah menemani hidupnya puluhan tahun lamanya.


"Kamu yang sabar ya, Nak! Maafkan atas kesalahan anak Mama." Mama Freya mencoba menepuk pelan punggung Vira yang menggetar, ia mencoba menenangkan hati menantunya. Freya sudah mengetahui, kabar perselingkuhan puteranya saat Kinanti datang ke rumah sakit sebelum Rezel menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


"Ma ..., Vira tidak sanggup Ma. Vira tidak bisa sesabar Mama dalam menerima kenyataan ini. Vira masih mengharapkan kesembuhan Bang Rezel, Ma. Tapi kenapa malah terjadi seperti ini." Vira masih mencoba menyembunyikan keburukan suaminya di depan mertuanya. Biarlah keburukan suaminya cukup Vira yang tahu karena itu adalah aib suaminya yang perlu ia jaga.


"Kamu yang sabar, Nak. Mama juga rapuh seperti kamu. Namun apa hendak dikata saat ini. Tuhan berkehendak lain dan kita tidak bisa berbuat apa-apa selain memperbanyak doa, agar Rezel pergi dengan tenang." Freya mencoba menghapus jejak air mata di pipi Vira, ia tahu Vira sangat terpuruk dengan musibah yang menimpa keluarga mereka.


"Apa jenazah Rezel sudah bisa di pulangkan sekarang Nak?" Freya belum melihat jenazah puteranya, ia langsung menghampiri menantunya yang tengah menghubungi seseorang.


"Belum Ma. Vira masih menunggu kedatangan Azlan dan Mama. Dan kebetulan Mama segera datang, Vira menjadi tenang sekarang."


Freya menatap kearah menantunya. "Bagaimana mungkin Azlan tidak disini?"


"Iya, Ma. Setelah kedatangan Azlan tadi pagi, Azlan tidak kembali lagi ke rumah sakit. Vira sudah menghubungi Azlan dan memberitahunya. Namun sampai sekarang, Azlan belum juga datang."


"Ya sudah. Mungkin Azlan sedang di perjalanan menuju kesini, sebaiknya kita tunggu Azlan saja!"


~


Pagi menjelang.


Sudah begitu banyak air mata yang Vira teteskan sedari kemarin, kepergian sang suami bagaikan sebuah mimpi buruk bagi Vira. Bahkan putera yang ia tunggu sedari malam pun tidak kunjung datang.


Vira benar-benar tidak kuat menghadapi kenyataan yang ada. Bahkan sudah entah berapa kali Vira pingsan hingga rumah yang ia tempati sudah kembali sunyi, suaminya sudah diantarkan di tempat pembaringannya yang terakhir.


"Bang Rezel ..." Vira terbangun dan berlari keluar. Ia masih memanggil nama itu, berharap sang suami masih berada di rumah yang mereka tempati.


"Vira ..., kamu yang sabar Nak. Kamu tidak boleh seperti ini!" Freya datang menghampiri dan memeluk tubuh rapuh menantunya. Untung saja Vira terbangun saat penguburan Rezel selesai, karena melihat kondisi menantunya yang seperti ini tentu Vira akan menghalangi orang-orang untuk memakam suaminya.


"Ma ..., Bang Rezel sudah tidak ada lagi Ma. Kenapa Mama tidak larang orang-orang untuk membawa suamiku! Puteraku belum melihat Papanya untuk yang terakhir kalinya, Ma!" Vira menangis sejadi-jadinya, ia benar-benar tidak kuat menghadapi cobaan yang menimpanya.

__ADS_1


Freya mencoba untuk menenangkan Vira. Tentu saja Freya tidak sekuat yang terlihat, karena melihat kondisi Azlan di rumah sakit pun sangat memperihatinkan. Freya berusaha menyembunyikan hal itu semua, ia terlalu takut menantunya menjadi depresi karena Vira juga pernah mengalami hal itu sebelumnya.


__ADS_2